Plot
Happy Gilmore sangat menyukai hoki es. Impiannya sejak kecil adalah menjadi pemain hoki es profesional. Meskipun memiliki pukulan slapshot kuat yang dipelajari dari mendiang ayahnya, sifat pemarah dan kurangnya koordinasi dalam hal skating membatasi prospek profesionalnya. Suatu hari, Happy mengetahui bahwa neneknya yang membesarkannya, berutang pajak tertunggak sebesar $270.000 kepada Internal Revenue Service (IRS).
Dia memiliki waktu 90 hari untuk melunasi utang atau rumah neneknya akan disita dan dilelang. Happy mengirimnya ke panti jompo sampai dia dapat menemukan cara untuk melunasi utang tersebut. Namun, tanpa sepengetahuan Happy, para penghuninya diperlakukan dengan buruk dan dipaksa bekerja secara eksploitatif.
Saat menantang dua orang pindahan yang menyita tongkat golf tua mendiang kakeknya, Happy menemukan bahwa ayunan gaya slapshot-nya yang tidak ortodoks dapat memukul bola sejauh 400 yard. Ia mulai mendapatkan uang dengan bertaruh melawan para pegolf di driving range, tempat ia bertemu Chubbs Peterson, mantan bintang golf profesional yang kehilangan tangannya karena serangan buaya .
Chubbs mendesak Happy untuk mengikuti Waterbury Open, yang pemenangnya akan mendapatkan jatah otomatis di PGA Tour, serta hadiah uang tunai yang cukup besar. Karena sangat ingin merebut kembali rumah neneknya, Happy setuju dan memenangkan turnamen Open. Mengetahui bahwa ia perlu menyediakan caddy-nya sendiri di tur, Happy buru-buru menyewa seorang tunawisma bernama Otto.
Happy dengan cepat menjadi favorit penggemar karena pukulan drive-nya yang luar biasa dan perilaku anehnya di depan kamera. Meskipun pukulan drive-nya sangat luar biasa, Happy kesulitan dengan pukulan-pukulan putting, dan kehebohannya di lapangan serta kurangnya etika golf menimbulkan rasa tidak senang di antara para pejabat tur konvensional. Tapi karena rating televisi meningkat tajam, jumlah penonton yang menjadi lebih banyak, dan masuknya tawaran sponsor baru, kepala humas tur golf, Virginia Venit, berjanji akan turun tangan agar Happy bisa mengendalikan perilakunya. Dengan dukungannya, Happy meningkatkan kemampuan dan perilakunya, dan mereka pun terlibat asmara.
Shooter McGavin, seorang pemain golf yang arogan dan dianggap sebagai unggulan utama dalam tur, memandang Happy sebagai ancaman, jadi ia menyewa seorang pengacau bernama Donald Floyd untuk mengejeknya di turnamen semi profesional. Donald mengalihkan perhatian Happy dengan berulang kali memanggilnya "brengsek", yang berhasil membuatnya emosi dan memengaruhi permainannya. Happy yang sudah tidak dapat lagi menahan kemarahannya akhirnya berkelahi dengan rekan selebritasnya, Bob Barker yang terus mengkritik kesalahan-kesalahan Happy dalam turnamen tersebut, menyebabkan dia didenda sebesar $25.000 dan diskorsing selama satu bulan.
Semasa masa skors, Virginia membantu Happy mendapatkan kontrak untuk membintangi iklan dengan Subway untuk mengganti pendapatannya yang tidak lagi ada. Namun, tepat saat uangnya cukup, pihak IRC malah melelang rumah neneknya lebih awal. Selama pelelangan, Shooter dengan jahat sengaja mengalahkan tawaran Happy dalam upayanya untuk memaksanya keluar dari tur. Virginia mendorong Happy untuk tidak berhenti, sehingga dia membuat kesepakatan dengan Shooter: jika Happy memenangkan Kejuaraan Tur, Shooter akan mengembalikan rumah itu, tetapi jika Shooter menang, Happy akan berhenti bermain golf.
Mengetahui bahwa dia harus meningkatkan permainan putting-nya untuk mengalahkan Shooter, Happy mencari Chubbs, yang membantunya berlatih meningkatkan putting-nya dengan berlatih di lapangan golf mini dan memberinya putter khusus berbentuk tongkat hoki. Sebagai ucapan terima kasih, Happy memberi Chubbs hadiah kejutan berupa kepala buaya yang pernah menggigit tangannya, hingga mengejutkannya dan menyebabkannya jatuh dari jendela hingga tewas.
Happy dipasangkan dengan Shooter untuk Kejuaraan Tur. Shooter memimpin lebih awal, tetapi permainan reguler Happy menempatkannya unggul dengan satu ronde tersisa. Karena sangat ingin memenangkan jaket Kejuaraan, Shooter kembali merekrut Donald, yang dengan sengaja mengendarai mobil ke lapangan dan menabrak Happy, sehingga memengaruhi kemampuan dan fokus pukulan drive-nya. Shooter pun kembali memimpin, tetapi Nenek Happy kemudian berkata bahwa rumahnya bukanlah hal yang penting, yang dia inginkan hanya melihat Happy bahagia. Happy yang semula terbebani menjadi bermain lepas hingga kembali ke mood bahagianya dan bangkit untuk menyamakan kedudukan.
Di permainan terakhir, tee shot Shooter mendarat di kerumunan. Meskipun harus memainkan bola dari kaki mantan bos Happy yang mengintimidasi, Tuan Larson, ia berhasil mengamankan par dengan putt panjang. Saat giliran Happy yang harus memasukkan bola dalam sekali pukulan, menara televisi yang rusak oleh mobil Donald sebelumnya ambruk ke lapangan dan menutupi jalur bola ke lubang yang seharusnya mudah dilakukan. Shooter bersikeras agar Happy memainkan bola "sebagaimana adanya," dan, dengan campur tangan ilahi Chubbs, Happy menang dengan menggunakan menara itu sebagai mesin Rube Goldberg untuk memasukkan puttnya.
Tidak bisa menerima kekalahan, Shooter mencoba mencuri jaket emas Happy dan dikejar serta dipukuli oleh gerombolan penggemar yang dipimpin oleh Larson. Sekembalinya ke rumah neneknya, Happy merayakan kemenangannya bersama neneknya, Virginia, dan Otto.
Produksi
Pengembangan
Happy Gilmore disutradarai oleh Dennis Dugan,[3] dan ditulis oleh alumni Saturday Night Live (SNL), Tim Herlihy serta Adam Sandler.[4][5] Herlihy dan Sandler adalah teman sekamar saat kuliah dan menulis komedi stand-up bersama sebelum beralih ke penulisan naskah.[4] Setelah Sandler diberhentikan dari SNL pada 1995, ia beralih ke dunia film.[6] Ia bersama Herlihy menulis Billy Madison (1995),[4][5] yang terbukti sukses bagi Universal Pictures sebagai distributor. Karena itu, Herlihy dan Sandler mulai mengerjakan proyek baru. Dalam sebuah sesi curah gagasan di kantor, mereka menemukan premis high-concept untuk sebuah film tentang "pemain hoki yang memukul bola sejauh 400 yard".[5] Judd Apatow melakukan penulisan ulang naskah, meskipun tidak tercantum dalam kredit.[7]
Karakter Happy Gilmore secara longgar didasarkan pada teman masa kecil Sandler, Kyle McDonough, yang bermain hoki es dan sering bermain golf bersama Sandler saat mereka tumbuh besar. Sandler tidak pernah bisa memukul bola sejauh McDonough, dan ia beranggapan bahwa keterampilan hoki McDonough memberinya keunggulan.[8] Sementara itu, tangan Chubbs Peterson yang hilang merupakan sebuah in-joke yang merujuk pada film Predator (1987) yang dibintangi Carl Weathers, di mana karakternya kehilangan lengan.[9] Herlihy dan Sandler memasukkan berbagai lelucon yang membuat mereka tertawa, dan tidak mengingat siapa yang menciptakan masing-masing, meskipun Herlihy mengklaim sebagai pencetus dialog Shooter McGavin: "I eat pieces of shit like you for breakfast".[5] Dalam wawancara tahun 1994, Sandler menyebut komedi golf Caddyshack (1980)[10], sebuah film yang ia dan Herlihy gemari semasa kuliah, Dalam wawancara tahun 1994, Sandler menyebut komedi golf Caddyshack (1980)[10], sebuah film yang ia dan Herlihy gemari semasa kuliah,[11] sebagai sumber inspirasi.[10]
Mantan pegolf profesional Mark Lye bertindak sebagai konsultan naskah,[12] dan setelah melihat ide awal Herlihy serta Sandler, ia berkata: "Kalian pasti gila. Tidak mungkin membuat film seperti itu."[13] Menurut Lye, draf awal menggambarkan Happy memenangkan Masters Tournament: "Mereka menggunakan jaket hijau. Mereka menistakan USGA dan mengejek Augusta National."[13] Ia menyarankan agar Happy memenangkan turnamen fiksi, sehingga Herlihy dan Sandler mengubah warna jaket dari hijau menjadi emas. Lye juga tidak menyukai sifat yang terlalu tidak realistis dalam draf awal, yang menampilkan Happy berulang kali melakukan pukulan sejauh 400 yard. Karena itu, ia membawa kru ke sebuah acara PGA Tour agar mereka dapat memahami atmosfer permainan golf.[12][13] Menurut Lye, draf awal menggambarkan Happy memenangkan Masters Tournament: "Mereka menggunakan jaket hijau. Mereka menistakan USGA dan mengejek Augusta National."[13] Ia menyarankan agar Happy memenangkan turnamen fiksi, sehingga Herlihy dan Sandler mengubah warna jaket dari hijau menjadi emas. Lye juga tidak menyukai sifat yang terlalu tidak realistis dalam draf awal, yang menampilkan Happy berulang kali melakukan pukulan sejauh 400 yard. Karena itu, ia membawa kru ke sebuah acara PGA Tour agar mereka dapat memahami atmosfer permainan golf.[12][13] Naskah final, yang kemudian disetujui Lye, merupakan draf kelima karya Herlihy dan Sandler.[13]
Dugan terlibat sebagai sutradara melalui Sandler. Beberapa tahun sebelumnya, Dugan pernah mencoba mengajak Sandler bermain dalam salah satu filmnya, tetapi para produser tidak mengizinkan karena saat itu Sandler belum dikenal luas. "Beberapa tahun kemudian, [Sandler] sudah terkenal," kata Dugan. "Saya ingin disewa untuk menyutradarai Happy Gilmore bersamanya. Saya masuk ke ruangan, dan dia berkata: 'Kamu orang yang dulu ingin memberiku peran itu. Aku tidak perlu tahu hal lain, aku ingin bekerja denganmu.'"[14] Happy Gilmore diproduksi dengan anggaran sebesar $12 juta[9] dan seluruh proses syuting dilakukan di lokasi-lokasi di British Columbia. Sebagian besar adegan di lapangan golf difilmkan di Pitt Meadows di Swan-e-set Bay Resort & Country Club,[15] sementara pengambilan gambar interior, seperti adegan di ruang siaran, dilakukan di sebuah rumah sakit terbengkalai di Vancouver.[16] Arthur Albert bertugas sebagai sinematografer, sementara Mark Lane menjadi penata set.[17] Vokalis Devo, Mark Mothersbaugh, menyusun musik latar film ini.[9]