Kolaps dan likuidasi
Pada bulan April 2016, Hanjin mengajukan restrukturisasi utang pada krediturnya, untuk menghindari tuntutan insolvensi.[3] Pada tanggal 31 Agustus 2016, Hanjin meminta Pengadilan Distrik Seoul Pusat untuk membekukan semua aset miliknya, setelah kehilangan dukungan dari bank sehari sebelumnya
.[4] Setelah berita mengenai hal tersebut terbit, kreditur pun mengusulkan penyitaan aset dan kapal milik Hanjin pun mengalami masalah di semua pelabuhan di seluruh dunia, karena para penyedia layanan di pelabuhan tidak yakin apakah Hanjin mampu membayarnya.[5]
Pada tanggal 2 September, Hanjin Shipping Co. mengajukan permohonan pada Pengadilan Kebangkrutan Amerika Serikat Newark, New Jersey untuk memungkinkan kapalnya berlabuh tanpa kapal, kargo, atau peralatannya disita oleh kreditur.
Dibebani dengan utang yang sangat banyak, terjebak dalam industri yang sedang bersusah payah, serta asetnya disita oleh kreditur atau ditelantarkan oleh perusahaan, Hanjin pun makin jelas akan segera dibubarkan oleh pemerintah Korea Selatan dan para pemegang sahamnya.[6] Dalam beberapa minggu setelah asetnya dibekukan, dominasi dan eksistensi Hanjin di seluruh dunia mulai meredup. Hanjin pun mengumumkan rencananya untuk menutup kantornya di seluruh dunia,[7] mengurangi pekerja,[8][9] menjual aset yang tersisa,[10] dan membubarkan jaringan layanannya. Pengangkut peti kemas lain pun mulai menjauhkan diri dari Hanjin dan kerja sama operasi yang dilakukan dengan Hanjin pun dihentikan.
Pada tanggal 17 Februari 2017, Hanjin Shipping Co. resmi dinyatakan bangkrut oleh pengadilan Korea Selatan, dan pengadilan memerintahkan agar Hanjin dilikuidasi.[1]
Dampak dan warisan
Pembubaran Hanjin Shipping merupakan kebangkrutan paling signifikan dan paling besar di industri transportasi peti kemas.[11] Kebangkrutan ini pun menyebabkan gangguan pada rantai pasok dan pengapalan global, karena kapal milik Hanjin ditelantarkan di pelabuhan dan terusan menunggu pembayaran.[4] Kebangkrutan Hanjin pun menciptakan efek riak yang masif. Bisnis lain yang bergantung pada produk fisik pun mengalami penurunan pendapatan, karena stoknya terjebak di laut. Kebangkrutan Hanjin terjadi pada saat yang bersamaan dengan para peritel mulai memenuhi stoknya dengan barang impor guna bersiap menyambut Hari Pengucapan Syukur, Hari Natal, Jumat Hitam, dan Tahun Baru. Walaupun perusahaan besar seperti Nike juga terdampak, perusahaan-perusahaan yang lebih kecil lah yang paling terdampak.[12]
Pada bulan Februari 2017, SM Line, sebuah perusahaan pengapalan baru yang dibentuk oleh Samra Midas (SM) Group, membeli lima kapal yang sebelumnya dimiliki oleh Hanjin.[13] Pada bulan Maret, SM Line mengakuisisi dua terminal milik Hanjin Shipping di Korea, yakni di Gwangyang dan Incheon.[14]
Pada bulan Agustus 2017, sebuah komite kebangkrutan yang ditunjuk untuk mengelola likuidasi Hanjin Shipping, melaporkan bahwa mereka hanya dapat memperoleh USD 220 juta dari penjualan aset Hanjin. Jumlah tersebut hanya 2% dari total utang Hanjin sebesar US$10,5 miliar.[15][16][17]