Halte Kramat Jati dibangun sederhana di median Jalan Raya Bogor dengan memiliki dua dermaga di tiap sisi peronnya. Akses menuju halte ini diakomodasi dengan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menghubungkan halte ini dengan kedua sisi Jalan Raya Bogor, sekaligus Pasar Kramat Jati.
Halte Kramat Jati dikenal sebagai salah satu halte Transjakarta dengan okupansi yang tinggi karena berada sangat dekat dengan Pasar Kramat Jati. Tingginya tingkat okupansi ini membuat prasarana halte terkadang tidak dapat mengakomodasi banyaknya penumpang. JPO Halte Kramat Jati pun sering disorot sebagai JPO yang mudah mengalami kerusakan. Beberapa bagian JPO sudah lapuk karena berkarat dan berlubang di beberapa bagian, kabel listrik yang menjuntai, serta beberapa lampu penerangan yang tidak lagi berfungsi menyulitkan warga dalam mengakses halte bahkan menyebabkan luka ringan. Terdapat pula sebagian kecil warga yang enggan memakai JPO dan memilih menyeberangi jalan di bawah JPO meskipun berisiko tersambar kendaraan.[1]
Dinas Bina Marga Pemerintah Daerah Khusus Jakarta kemudian memperbaiki JPO tersebut. Perbaikan dilakukan dengan mengganti pelat besi yang berlubang, memperkokoh struktur tangga, serta pengelaman bagian JPO yang berkarat. Perbaikan dilaksanakan selama 2 hari sejak 11 Oktober 2025.[2] Namun, di penghujung Desember 2025, Masyarakat kembali mengeluhkan JPO yang rusak dan tak terawat. Anak tangga yang amblas dan berlubang, besi pembatas anak tangga yang berkarat bahkan hilang, membuat masyarakat khawatir saat menggunakan JPO. Beberapa warga menuding perbaikan yang dilakukan oleh Dinas Bina Marga hanya bersifat tambal sulam, memperbaiki JPO secara tidak menyeluruh.[3]