Haji Piobang lahir di Piobang, Paykumbuh, Lima Puluh Kota pada tahun 1772. Ia memiliki nama kecil Muhammad Amir bin Abdurrahman. Ia merantau ke Pariaman saat dewasa untuk memperdalam ilmu agamanya. Hingga akhirnya ia menunaikan ibadah haji ke Makkah dan di sana ia berguru pada Muhammad bin Abdul Wahhab.[2]:28
Pada tahun 1803, Haji Piobang bersama dua orang kawannya pulang ke kampung halamannya di Minangkabau.[3] Kepulangan mereka disambut Tuanku Nan Renceh, seorang pimpinan ulama Minangkabau. Bersama dengan pimpinan ulama lainnya, mereka berusaha memurnikan ajaran Islam di Minangkabau dari kebiasaan yang berlaku seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Gerakan mereka yang disebut gerakan Padri berkembang pesat dengan kekuatan militer yang kuat yang pada akhirnya menimbulkan pertentangan dengan kaum adat.
Referensi
↑Hamka, Tuanku Rao: Antara Khayal dan Fakta, Bulan Bintang, 1974
↑Malia, Indiana (2025). Ve (ed.). Sejarah Ringkas Perang Padri. Yogyakarta: DIVA Press.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Jajat Burhanudin, Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim Dalam Sejarah Indonesia, Mizan Publika, 2012