Abdurrahman Az-Zahir (bahasa Indonesia: Habib Abdoe'r Rahman Alzahier) (1833–1896) adalah seorang pemimpin politik dan pedagang Arab yang memainkan peran kunci dalam Perang Aceh melawan pendudukan Belanda di Aceh. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri di Kesultanan Aceh Darussalam.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Lahir: Tahun 1833 di Desa Bedqara, Negara Bagian Malabar, India, dari keluarga Hadhrami yang berasal dari Sadah Alawiyyin.
Silsilah: Garis keturunannya merujuk kepada Sayyid Abdurrahman bin Masyhur bin Abu Bakar Az-Zahir, dari keluarga Syihabuddin Alawiyyin di Hadhramaut.
Pendidikan:
* Mendapat pendidikan awal di Al-Azhar Mesir, kemudian di Mekkah di bawah bimbingan ulama seperti Ahmad Zaini Dahlan.
* Belajar di Kolkata, India, dan mendalami ilmu syariah serta fikih Islam.
Peran di Aceh
Kedatangan ke Aceh
Tiba tahun 1864 dengan mandat dari Sultan Utsmaniyah, diangkat sebagai ketua mahkamah dan imam Masjid Agung "Baiturrahman" di Banda Aceh.
Memimpin reformasi sosial dan agama, seperti memberantas judi dan candu opium, serta merestorasi masjid.
Penyatuan Suku dan Pemimpin
Berhasil memperoleh kepercayaan Sultan Ibrahim Mansur Syah, dan memimpin kampanye militer-diplomatik untuk meredam konflik antar pemimpin Aceh.
Menyatukan suku-suku di bawah kepemimpinan Sultan muda Mahmud Syah, menggunakan mandat militer untuk menaklukkan pemberontak di wilayah seperti Tjut Bota dan Matangge.
Persiapan Jihad
Memperingatkan ekspansi Belanda, mengumpulkan dana untuk pembelian senjata dan pembangunan benteng.
Mengeluarkan fatwa wajib jihad, mendorong perlawanan sebagai "pertahanan Darul Islam".
Perang Belanda-Aceh (1873–1904)
Invasi Pertama Belanda (1873)
Memimpin perlawanan terhadap pasukan Belanda di bawah Jenderal Köhler, mengakibatkan kerugian besar dan mundurnya Belanda.
Laporan Belanda menyebutnya sebagai "rintangan terbesar untuk menguasai Aceh".
Negosiasi Internasional
Bepergian ke Istanbul tahun 1873, mendapat dukungan simbolis dari Sultan Utsmaniyah, namun tekanan Eropa (terutama Rusia dan Inggris) mencegah intervensi militer langsung.
Bernegosiasi dengan Inggris di Singapura dan Penang, namun gagal karena Traktat London-Belanda (1824).
Invasi Kedua Belanda (1874)
Meski wabah kolera dan kekurangan logistik, tetap memimpin perlawanan hingga Sultan Mahmud menyerah.
Mundur ke pedalaman dan mengorganisasi serangan gerilya melawan Belanda.
Dewan Delapan
Pendirian: Kelompok elit Aceh dan Arab di Penang (Malaysia), bertujuan mendukung perlawanan secara finansial dan militer.
Aktivitas:
* Mengumpulkan dana dari pedagang lada dan senjata melalui blokade Belanda.
* Menyebarkan propaganda anti-kolonial di media seperti The New York Times dan Al-Bashira (Turki).