Gurindam Dua BelasGurindam 12, karya dari Raja Ali Haji
Gurindam Dua Belas (Jawi: ڬوريندام دوا بلس) merupakan salah satu karya agung sastra Indonesia. Karya ini termasuk ke dalam jenis gurindam, yaitu salah satu jenis puisi Melayu klasik. Gurindam Dua Belas merupakan hasil karya dari Raja Ali Haji seorang sastrawan, pahlawan nasional dan bangsawan dari Kesultanan Lingga yang kini menjadi wilayah dari Provinsi Kepulauan Riau.[1]
Gurindam Dua Belas ditulis dan diselesaikan di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau pada tanggal 23 Rajab 1264 H atau bertepatan dengan 1847 M di saat Raja Ali Haji berusia 38 tahun.[2]
Istilah gurindam berasal dari bahasa Tamil, yang memiliki arti serupa dengan peribahasa, kiasan atau ungkapan berbunga dalam konteks keindahan bahasa. Dalam beberapa kesempatan, ungkapan-ungkapan tersebut disertai dengan nyanyian yang dipadukan dengan kalimat berirama dan bernada. Gurindam dua belas merupakan karya sastra puisi yang terdiri dari dua baris[3]
Sejarah dan perkembangan
Pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Muzaffar Syah di Kerajaan Melayu Riau Lingga, Raja Ali Haji menulis Gurindam Dua Belas pada tahun 1846 sebagai respons terhadap konflik internal kerajaan dan pengaruh kolonial yang melemahkan nilai Islam dalam masyarakat Melayu Riau-Lingga. Karya sastra ini diselesaikan pada 23 Rajab 1263 H (1846 M) dan dimaksudkan sebagai pedoman moral dan ajaran agama, sekaligus bentuk tanggung jawab beliau dalam menjaga eksistensi budaya Islam.[3]
Kerajaan Melayu Riau-Lingga mendukung penuh karya tersebut dengan menjadikannya bahan ajar dan media penyebaran nilai moral. Ulama dan cendekiawan turut berperan dalam memperkenalkan gurindam melalui pendidikan dan kegiatan sosial.[3]
Pada dekade 1960-an, karya sastra gurindam dua belas pernah dimasukkan dalam pembelajaran sastra di Indonesia. Namun, pada periode yang sama perkembangan gurindam mengalami hambatan akibat tekanan politik dari PKI yang menolak karya sastra bernuansa religius. Selain itu, penggunaan bahasa Melayu Kuno yang sulit dipahami maknanya oleh masyarakat awam.[3]
Upaya revitalisasi dilakukan sejak 2009 oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang dengan melibatkan lembaga adat, budayawan, dan instansi pendidikan. Bahasa gurindam dikemas ulang agar lebih mudah dipahami, serta dijadikan muatan lokal di sekolah. Selain itu, dilakukan juga seminar, dan penerbitan karya oleh budayawan lokal, seperti Abdul Malik dan Abdul Kadir Ibrahim. Kegiatan hiburan seperti lomba dan festival juga diadakan, misalnya pada Agustus 2014, Balai Pelestarian Nilai Budaya Tanjungpinang mengadakan Pekan Budaya Melayu yang menampilkan lomba mengulas nilai-nilai gurindam.[3]
Isi Gurindam Dua Belas
Gurindam Dua Belas, pasal 11 dan 12Gurindam Dua Belas, pasal 1 dan 2
Karya sastra ini berbahasa Melayu Klasik dengan ciri khas banyaknya istilah tasawuf, kata-kata kiasan dan metafora. Karya ini terdiri dari dua belas pasal dan dikategorikan sebagai "Syi'r Al-Irsyadi" atau puisi didaktik karena berisikan nasihat atau petunjuk hidup, antara lain tentang ibadah, kewajiban raja, kewajiban anak terhadap orang tua, tugas orang tua kepada anak, budi pekerti dan hidup bermasyarakat.[4]
Barang siapa tiada memegang agama,
sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
maka ia itulah orang yang ma'rifat.
Barang siapa mengenal Allah,
suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
tahulah ia dunia mudarat
Gurindam II
Ini gurindam pasal yang kedua:
Barang siapa mengenal yang tersebut,
tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
tidaklah mendapat 2 termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
tiadalah ia menyempurnakan janji.
Gurindam III
Ini gurindam pasal yang ketiga:
Apabila terpelihara mata,
sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
khabar yang jahat tiadalah damping.
Apabila terpelihara lidah,
niscaya dapat daripadanya faedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
keluarlah fi'il yang tiada senunuh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
daripada berjalan yang membawa rugi.
Gurindam IV
Ini gurindam pasal yang keempat:
Hati kerajaan di dalam tubuh,
jikalau dzalim segala anggota pun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
boleh diumpamakan mulutnya itu pekong.
Tanda orang yang amat celaka,
aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
itupun perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
mulutnya itu umpama ketur2.
Di mana tahu salah diri,
jika tidak orang lain yang berperi.
Gurindam V
Ini gurindam pasal yang kelima:
Jika hendak mengenal orang berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.
Gurindam VI
Ini gurindam pasal yang keenam:
Cahari olehmu akan sahabat,
yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan abdi,
yang ada baik sedikit budi,
Gurindam VII
Ini Gurindam pasal yang ketujuh:
Apabila banyak berkata-kata,
di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
itulah tanda hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila mendengar akan aduan,
membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
tidak boleh orang berbuat onar.
Gurindam VIII
Ini gurindam pasal yang kedelapan:
Barang siapa khianat akan dirinya,
apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
biar pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
kebalikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
keaiban diri hendaklah sangka.
Gurindam IX
Ini gurindam pasal yang kesembilan:
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan,
bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
di situlah syaitan tempat berkuda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
dengan syaitan jadi berseteru.
Gurindam X
Ini gurindam pasal yang kesepuluh:
Dengan bapa jangan durhaka,
supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan isteri dan gundik janganlah alpa,
supaya kemaluan jangan menerpa.
Dengan kawan hendaklah adil supaya tangannya jadi kafill.
Gurindam XI
Ini gurindam pasal yang kesebelas:
Hendaklah berjasa,
kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
buanglah khianat.
Hendak marah,
dahulukan hujjah.
Hendak dimulai,
jangan melalui.
Hendak ramai,
murahkan perangai.
Gurindam XII
Raja muafakat dengan menteri,
seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
tanda jadi sebarang kerja.
Hukum adil atas rakyat,
tanda raja beroleh inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
kepada hati yang tidak buta.
Nilai-nilai Gurindam Dua Belas
Gurindam 12 karya Raja Ali Haji memiliki nilai-nilai yang sangat tinggi, yaitu merangkum nilai berbagai kehidupan dan sosial budaya masyarakat berupa nilai keagamaan, nilai pergaulan dan sosial, nilai moral, dan nilai pendidikan karakter. Gurindam 12 memiliki ajaran dan tuntunan moral yang berlandaskan agama Islam yang dijadikan wadah oleh Raja Ali Haji melakukan syiar Islam. Gurindam 12 Raja Ali Haji memiliki nilai-nilai seperti (1) nilai religius Islami; (2) tuntunan perilaku dan pengendalian diri; dan (3) pengelolaan pikiran dan perasaan manusia.[7]
Pasal pertama dan kedua menekankan hubungan manusia dengan Allah serta hubungan antar sesama. Pasal ketiga berisi nasihat agar manusia menjaga diri dari perbuatan tercela. Pasal keempat menekankan kebersihan hati dan jiwa. Pasal kelima menekankan budi pekerti. Pasal keenam menyoroti kebutuhan manusia dalam kehidupan sosial, seperti pentingnya sahabat, guru, pasangan hidup, dan teman yang berbudi. Pasal ketujuh menekankan pentingnya menjaga ucapan dan sikap. Pasal delapan mengajarkan untuk menjaga kehormatan diri serta orang lain. Pasal sembilan berisi nasihat tentang kedewasaan dan kebijaksanaan. Pasal kesepuluh menekankan hubungan anak dengan orang tua. Pasal sebelas menekankan budi pekerti sebagai dasar kehidupan. Adapun, pasal terakhir menekankan etika sosial, penghargaan terhadap ilmu, dan kesadaran hidup-mati.[3]
↑"GURINDAM DUA BELAS". Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya. 2015-12-17. Diakses tanggal 2023-08-25.
123456Deskripsi Seni Kepulauan Riau(PDF). Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman, Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman. 2014. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Yayasan Tuanku Chalil. Gurindam Dua Belas: Gubahan Raja Ali Haji.
↑Pauzi, dkk (2019). NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL (GURINDAM DUA BELAS), PADA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT SERTA KEPERCAYAANMASYARAKAT TERHADAP HUKUM DALAM CEGAH TANGKAL RADIKALISME DI TANJUNGPINANG KEPULAUAN RIAU. Bintan: STAIN SULTAN ABDURRAHAMAN PRESS. ISBN978-623-90-371-6-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)