Gunung Odin adalah gunung tertinggi di Pegunungan Baffin dan juga tertinggi kelima di Kordillera Arktik. Gunung ini memiliki keunggulan topografi sebesar 2.147m (7.044ft), lebih tinggi daripada gunung lain di Pegunungan Baffin dan Pulau Baffin, menjadikan Odin gunung tertinggi ketiga di Nunavut berdasarkan keunggulan topografinya.[1][2]
Jika dibandingkan dengan puncak absolut, Gunung Odin adalah yang tertinggi kelima di Nunavut. Titik-titik tertinggi di Nunavut adalah: Puncak Barbeau di Pulau Ellesmere (titik tertinggi di Nunavut pada ketinggian 2.616 m), dua puncak yang tidak disebutkan namanya di Pulau Ellesmere (satu puncak pada ketinggian 2.347 m yang terletak di 78° 48' LU, 79° 34' BB dan satu puncak pada ketinggian 2.201 m yang terletak di 80° 17' LU, 75° 05' BB) dan Puncak Outlook di Pulau Axel Heiberg, yang pada ketinggian 2.210 m hanya 63 m lebih tinggi dari Gunung Odin.[3]
Gunung ini dinamai Odin, pemimpin para dewa dalam mitologi Nordik dan paganisme Nordik.
Geografi
Gunung Odin memiliki sisi selatan berbatu yang mengesankan yang menjorok ke Sungai Weasel. Di sebelah utara, area ini tertutup gletser.
Galeri
Pemandangan lereng Gunung Odin
Melihat ke bawah lembah di Gunung Odin
Gunung Odin tampak menjulang di kabut
Pembuatan DEM Menggunakan Fotogrametri Udara
Permukaan yang tertutup salju secara musiman memiliki peran penting dalam menunjang sumber daya air global. Salju musiman berfungsi sebagai penyedia utama air tawar bagi kebutuhan manusia dan tumbuhan, serta berkontribusi terhadap pengisian cadangan air tanah lokal. Namun, pengukuran langsung (in situ) terhadap variabilitas salju musiman memerlukan biaya tinggi dan menghadapi tantangan besar, terutama di wilayah dengan kondisi iklim ekstrem seperti daerah lintang tinggi dan kawasan kutub.[4]Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, pendekatan penginderaan jauh menjadi solusi penting dalam memperkirakan akumulasi dan pencairan salju secara akurat di berbagai musim. Studi ini dilakukan di Gunung Odin, Kanada, dengan tujuan untuk mengestimasi variabilitas permukaan bersalju sepanjang empat musim dalam satu tahun menggunakan citra udara. [4] Langkah awal dalam penelitian ini adalah pembuatan Model Elevasi Digital (DEM) berdasarkan Model Gravitasi Bumi 1996 (EGM96) untuk masing-masing misi penerbangan yang diberi kode A, B, C, dan D. Proses ini dilakukan dengan metode triangulasi Bundle Adjustment (BA) yang memungkinkan rekonstruksi topografi secara presisi dari citra udara.[4] Selanjutnya, dilakukan perhitungan pergeseran antara pasangan DEM dari masing-masing misi penerbangan untuk menentukan perubahan permukaan bersalju antar musim. Hasil analisis menunjukkan bahwa misi penerbangan C memiliki elevasi tertinggi secara topografis dibandingkan misi A, B, dan D. Misi C dilaksanakan pada Februari 2011, saat wilayah Gunung Odin tertutup salju secara luas, yang tercermin dalam nilai elevasi DEM yang lebih tinggi.[4] Metodologi yang diusulkan, solusi teknis, serta informasi studi kasus dan rincian dari setiap misi penerbangan dijelaskan secara mendalam dalam kajian ini. Pendekatan ini menunjukkan efektivitas fotogrametri udara sebagai alat pemetaan topografi bersalju yang akurat dan efisien, terutama di wilayah terpencil dengan akses terbatas.[4]