Puncak tertinggi Lewotobi dinamakan Gunung Lewotobi Perempuan (1.703 mdpl) yang hanya meletus dua kali sepanjang sejarah, yaitu pada tahun 1921 dan 1935. Sedangkan, puncak yang terletak sedikit lebih rendah tetapi lebih sering aktif dinamakan Gunung Lewotobi Laki-Laki (1.584 mdpl).
Geologi
Puncak kembar Lewotobi merupakan gunung berapi strato klasik, yang terbentuk oleh lapisan lava, abu, dan puing vulkanik yang berurutan. Kedua gunung berapi ini merupakan bagian dari busur vulkanik Kepulauan Sunda Kecil, yang dibentuk oleh subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Eurasia. Wilayah ini aktif secara seismik, dengan gempa bumi tektonik dan vulkanik yang sering terjadi.[1][2]
Letusan
2023
Pada 23 Desember Lewotobi Laki-laki meletus, menyebabkan 6.500 orang mengungsi, letusan tersebut berlangsung hingga Januari 2024.[3]
2024
Satelit Aqua milik NASA memperoleh citra warna asli dari letusan Gunung Lewotobi pada tanggal 8 November 2024 di Flores, Indonesia.
Gunung Lewotobi Laki-Laki dinyatakan memasuki aras bahaya IV atau Awas pada tanggal 9 Januari 2024 pukul 23.00 WITA, setelah pengamatan beberapa hari sebelumnya menunjukkan peningkatan intensitas erupsi.[4]
Pada 4 November 2024, gunung Lewotobi Laki-Laki memuntahkan puing-puing lava ke desa-desa sekitar 4 km (2,5 mil) jauhnya menghancurkan banyak rumah.[5] Sedikitnya 10 orang tewas, enam di antaranya adalah satu keluarga yang tertimbun reruntuhan rumah di Desa Klatanlo, sekitar 5 kilometer dari pusat erupsi. Sementara korban terluka mencapai 63 orang, 31 diantaranya luka berat.[6][7]
Dalam laporan (PVMBG) menyebutkan, tinggi kolom letusan Gunung Lewotobi Laki-Laki teramati mencapai 5.000 meter di atas puncak, atau sekitar 6.584 meter di atas permukaan laut. Kolom abu teramati berwarna coklat dengan intensitas tebal ke arah barat daya, barat dan barat laut.[8]
Pada 9 November, Sabtu pagi, Gunung Lewotobi Laki-Laki kembali erupsi, memuntahkan abu vulkanik sekitar 9 kilometer ke udara dari puncak kawah itu atau 10 kilometer dari permukaan laut.[10] Akibat dampak dari abu letusan, Bandar Udara Internasional Komodo ditutup sementara.[11]
2025
Gunung berapi Lewotobi laki-laki kembali meletus pada 21 Maret 2025, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekitar 4.976 orang mengungsi akibat dampak dari letusan tersebut.[12] Setidaknya dua korban mengalami luka bakar akibat terkena guguran debu dari awan panas Gunung Lewotobi Laki-laki.[13]
Pada 17 Juni 2025, Gunung Lewotobi Laki‑laki kembali meletus pukul 17.35 WITA, mengeluarkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 10.000 meter di atas puncak (±11.584 m di atas permukaan laut).[14] Letusan tersebut menghasilkan hujan abu, pasir, dan kerikil yang meluas ke berbagai wilayah di Kabupaten Flores Timur.[15]
Pada 7 Juli 2025, pukul 11.05 WITA, Gunung Lewotobi Laki-laki meletus besar dengan semburan abu vulkanik membubung dengan ketinggian 18 kilometer (11mi). Kolom abu teramati ± 18.000 m di atas puncak (± 19.584 m di atas permukaan laut).[16] Sejumlah bandar udara ditutup akibat dampak letusan tersebut, termasuk Bandar Udara Internasional Komodo, Bandar Udara Frans Sales Lega dan Bandar Udara Frans Seda.[17] Hujan abu vulkanik dilaporkan hingga Bima, Nusa Tenggara Barat.[18]Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur, dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, tidak ada korban jiwa maupun kerugian harta benda yang dilaporkan, dan sejauh ini tidak ada evakuasi besar karena penduduk terdekat telah mengungsi lebih awal sejalan peningkatan status awas sejak 18 Juni.[19][20] Aktivitas letusan kedua pada siang dan petang (sekitar pukul 19.32 WITA) disertai suara gemuruh, lontaran abu, pasir, kerikil, dan batu, serta tercatat gempa vulkanik, guguran dan vulkanik dalam selama periode dini hari berikutnya oleh stasiun seismik setempat. Kolom abu teramati ± 18.000 m di atas puncak.[21]
Pada 2 Agustus 2025, Gunung Lewotobi Laki-laki kembali' meletus, menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) letusan tersebut terjadi pada pukul 01.05 WITA. Kolom abu teramati berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya, barat, dan barat laut dengan ketinggian hingga ± 18.000 meter. Letusan tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 47.3 mm dan durasi sementara kurang lebih 14 menit lima detik. Letusan tersebut disertai suara gemuruh dan dentuman kuat terdengar di Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki.[22]