Gunung Ebulobo menjulang di atas Kecamatan Boa Wae, yang terletak di bawah lereng barat laut gunung tersebut. Bentuk gunung simetris dengan ketinggian 2124 m, dengan bagian atas kubah lava berbentuk datar. Sejarah letusannya, yang tercatat sejak 1830, antara lain berupa lelehan lava di lereng utara serta letusan-letusan eksplosif pada puncak kawahnya. Letusan lainnya terjadi pada tahun 1888, 1910, 1924, 1938, 1941, 1969, dan 2013.[1]
Gunung Ebulobo menawarkan pemandangan alam yang menakjubkan dan menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pendaki di Nusa Tenggara Timur. Lereng gunung ini dipenuhi hutan tropis yang lebat, memberikan pengalaman mendaki yang menantang sekaligus memesona. Selain itu, di kaki gunung terdapat Kampung Adat Pajoreja yang menawarkan pengalaman budaya lokal yang kaya akan tradisi dan budaya lokal.[1]
Flora dan Fauna
Kawasan sekitar Gunung Ebulobo merupakan habitat bagi berbagai flora dan fauna endemik, menjadikannya tempat yang menarik bagi para peneliti dan pecinta alam untuk mengamati keanekaragaman hayati.
Aksesibilitas
Untuk mencapai Gunung Ebulobo, pendaki biasanya memulai perjalanan dari Kecamatan Boawae. Perjalanan menuju puncak memerlukan persiapan fisik yang baik mengingat medan yang cukup menantang. Namun, keindahan alam yang ditawarkan sepanjang perjalanan membuat usaha tersebut sepadan. Gunung Ebulobo tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau tetapi juga menyimpan sejarah aktivitas vulkanik yang panjang, menjadikannya destinasi yang menarik bagi wisatawan dan peneliti.[2]