Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air Dongfang Hong pada tahun 1970-an menyebabkan naiknya permukaan air Sungai Muzat dan meningkatkan laju kerusakan lukisan dinding.[1] Upaya-upaya pelestarian jangka panjang di bawah naungan UNESCO dimulai pada tahun 1999 dengan dokumentasi dan pekerjaan survei yang ekstensif serta konsolidasibatuan konglomerat yang darinya gua-gua tersebut digali.[1][9] Situs ini merupakan salah satu situs pertama yang ditetapkan sebagai sebuah Situs Sejarah dan Budaya Nasional Utama pada tahun 1961.[10] Pada tahun 2008, Gua Kumtura diajukan untuk pengukuhan masa depan pada Daftar Warisan Dunia UNESCO sebagai bagian dari Jalur Sutra Bagian Tiongkok.[11]
"Kumtura" dalam bahasa Uighur berarti menara suar di padang pasir. Kelompok-kelompok gua tersebar di kaki gunung di tepi timur Sungai Weigan atau di tebing-tebing, dan terbagi menjadi dua bagian, selatan dan utara, dengan jarak 3 kilometer di antara kedua bagian tersebut. Gua-gua lebih terkonsentrasi di bagian utara, sekitar 80 di antaranya telah diberi nomor. Namun, kurang dari separuh gua dan fresko relatif terlestarikan dengan baik. Gua-gua di bagian selatan tersebar di tepi timur sungai dan di antara beberapa desa, dan 32 di antaranya telah diberi nomor. Kurang dari sepuluh yang relatif terlestarikan dengan baik.[12][13]
↑Wang Weidong, ed. (2008). 库木吐喇石窟内容总录 [A general record of the Kumtura caves] (dalam bahasa Tionghoa). 文物出版社. ISBN9787501023844.
↑(Other than Kizil)... "The nearby site of Kumtura contains over a hundred caves, forty of which contain painted murals or inscriptions. Other cave sites near Kucha include Subashi, Kizilgaha, and Simsim." in Buswell, Robert E.; Lopez, Donald S. (24 November 2013). The Princeton Dictionary of Buddhism (dalam bahasa Inggris). Princeton University Press. hlm.438. ISBN978-1-4008-4805-8.