Sejak November 2024, ia menjadi salah satu Komisaris Garuda Indonesia.
Pada tanggal 15 Oktober 2025 sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Ia dipercaya sebagai Direktur Utama Garuda Indonesia menggantikan Wamildan Tsani Panjaitan.
Kehidupan awal dan pendidikan
Glenny lahir di Manado pada 11 Februari 1949,[2] ayahnya merupakan seorang pegawai negeri sipil di Departemen Pekerjaan Umum. Hingga umur enam tahun, ia baru dapat tinggal dengan orang tua kandungnya karena sebelumnya ia sempat di asuh oleh orang tua angkat. Glenny menghabiskan masa kecilnya di kawasan Petojo, Jakarta. Di sana ia bertetangga dengan A.M. Hendropriyono, yang kelak menginspirasinya untuk masuk AKABRI.[3] Glenny muda dikenal sebagai penghobi olahraga, ia pandai setidaknya dalam olahraga jujitsu, karate dan voli.[3][4]
Pada 1970, ia bergabung ke AKABRI Darat. Ia masuk sana bersama-sama dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Prabowo Subianto dll. Ia satu kamar dengan SBY di paviliun 5A yang merupakan tempat pimpinan Korps Taruna AKABRI tinggal.[5][6] Selama menjadi taruna, ia dikenal berkawan dekat dengan Prabowo,[6] mereka berdua bahkan berada dalam satu kompi yang sama.[1] Prabowo menggambarkannya sebagai sosok yang berfisik kuat, patriotik, pemberani serta selalu riang gembira.[1] Pada 11 Desember 1973, Glenny akhirnya lulus dari AKABRI dan dilantik menjadi Perwira Remaja berpangkat letnan duainfanteri.[7]
Pada 1976, ia ditugaskan ke Timor Timur sebagai pilot helikopter. Menurut Prabowo dan Zacky Anwar Makarim, ketika di Timor Timur, Glenny tidak segan-segan turun langsung dari helikopternya untuk mengevakuasi prajurit yang terluka atau gugur.[1][3]
Pada 1996, ia mengikuti Kursus Reguler Angkatan 29 di Lembaga Ketahanan Nasional.[11] Pasca reformasi 1998, ia bertugas sebagai staf intelijen di Dewan Penegakan Keamanan dan Sistem Hukum.[3] Menjelang referendum Timor Timur tahun 1999, ia menjadi bagian dari Satuan Tugas Panitia Penentuan Pendapat Timor Timur (Satgas P3TT) yang berkoordinasi dengan UNAMET.[3] Satgas tersebut dibentuk pada Mei 1999 dan mulai bekerja pada awal Juni 1999.[12]
Menurut laporan James Dunn, Glenny bertugas sebagai penasihat keamanan di P3TT di bawah pimpinan Mayor Jenderal Zacky Anwar Makarim. Ia diduga bersama Zacky, Kiki Syahnakri (Asops KSAD), Tono Suratman (Danrem 164) dan beberapa pemimpin milisi Timor Timur melakukan rapat pada 18 Juni 1999 di Markas Korem 164 yang menghasilkan dua rencana kontingensi yakni menggagalkan referendum pada saat sebelum dan ketika hari pelaksanaan referendum dengan aksi kekerasan yang terkoordinasi serta apabila hasil referendum merugikan Indonesia maka milisi dikerahkan untuk menolak hasil dan menuntut wilayah Timor Timur bagian barat seperti Covalima, Bobonaro dan Ambeno agar tetap menjadi bagian dari Indonesia.[12] Terdapat juga rencana tambahan, yaitu merelokasi paksa penduduk ketiga wilayah tersebut di atas ke Timor Barat dan mengisinya dengan penduduk non-Timur Timur sehingga tidak ada penduduk yang menyetujui kemerdekaan Timor Timur pada saat referendum nanti.[12]
Pada 30 Agustus 1999, bertepatan dengan hari pemungutan suara referendum, Glenny dikabarkan kembali mengikuti rapat serupa juga bersama Zacky dan Kiki di rumah dinas Danrem Tono di Farol, Dili. Rapat itu menghasilkan kesepakatan bahwa pada saat pengumuman hasil referendum 7 September 1999 nanti akan dilakukan kerusuhan besar-besaran di Dili yang dijalankan oleh kelompok milisi prointegrasi seperti Besi Merah Putih, Naga Merah, AHI, Halilintar, Mahadomi, Mahidi dan Aitarak.[13] Pada 4 September 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan hasil referendum di mana 78,5% pemilih menolak otonomi khusus dan memilih merdeka, beberapa jam setelahnya kekerasan dan kerusuhan terjadi oleh milisi di Dili dan keesokannya militer melancarkan operasi kekerasan ke seluruh wilayah Timor Timur dan dikenal sebagai Operasi Wiradharma dan Guntur.[14]
Glenny kemudian ditempatkan di Lembaga Ketahanan Nasional, ia tercatat pernah menjadi Widyaiswara Madya Bidang Geografi dan Sumber Kekayaan Alam di mana ketika itu ia sudah berpangkat brigadir jenderal.[15] Ia pensiun pada 2004 dengan pangkat terakhir mayor jenderal.
Pada 10 Agustus 2025, Glenny mendapatkan kenaikan pangkat kehormatan dari Presiden Prabowo Subianto menjadi Letnan Jenderal (Kehormatan) atas jasanya dalam operasi Timor Timur.[16]
Pada pemilu 2009, Glenny mencalonkan diri sebagai anggota DPR-RI di daerah pemilihan Sulawesi Utara.[19] Tetapi, ia gagal terpilih setelah hanya meraih 13.740 suara.[20] Ia kembali berkontestasi pada pemilu 2014 sebagai calon anggota DPR-RI dari dapil yang sama dan juga tidak terpilih setelah hanya meraih 25.996 suara.[21]
Pada pemilihan Gubernur Sulawesi Utara 2015, Glenny menjadi calon wakil gubernur berpasangan dengan calon gubernur Maya Rumantir. Mereka diusung oleh Partai Gerindra dan Partai Demokrat.[22] Pasangan ini gagal memenangkan pemilihan tersebut karena hanya memperoleh 222.223 suara, berada di posisi terakhir perolehan suara dari tiga pasangan kontestan.[23]