Glenmore (pelafalan dalam bahasa Indonesia:['glen.mor]) adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi bagian barat. Glenmore berada di jalan nasional yang menghubungkan Banyuwangi Kota dan Genteng dengan Kabupaten Jember. Kecamatan ini terletak di lereng dan kaki Gunung Raung yang subur dan dikenal sebagai sentra perkebunan di Banyuwangi sejak zaman kolonial Belanda. Glenmore sendiri berasal dari nama salah satu perkebunan yang ada di kecamatan ini. Perkebunan Glenmore didirikan dan diberi nama oleh pengusaha asal Skotlandia. Beberapa komoditas perkebunan penting di kecamatan ini di antaranya tebu, karet, dan kakao.[1]
Glenmore memiliki pabrik gula besar bernama PT Industri Gula Glenmore (IGG) yang dikelola oleh PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dan merupakan satu-satunya pabrik gula di Banyuwangi.[2] Selain itu, Glenmore juga memiliki berbagai ikon pariwisata Banyuwangi barat seperti Air terjun Legomoro, Pemandian Umbul Bening, Beji Antaboga, dan pabrik coklat sekaligus wisata edukasi Doesoen Kakao. Beji Antaboga sendiri adalah mata air di kawasan hutan pinus lereng Raung, serta terdapat tempat peribadatan bagi enam agama sehingga menjadi simbol toleransi.[3][4]
Geografi
Peta lokasi Kecamatan Glenmore
Glenmore adalah kecamatan yang terletak di Banyuwangi barat. Bagian utara Glenmore dibatasi oleh Gunung Raung, sedangkan bagian selatannya terdapat Taman Nasional Meru Betiri dan kawasan hutan milik Perhutani. Sebagian besar wilayah Glenmore merupakan areal perkebunan dengan komoditas utamanya adalah tebu, karet, dan kakao. Beberapa perkebunan terkenal di Glenmore di antaranya Perkebunan Glenmore, Glen Nevis, Kendenglembu, Treblasala, Kalirejo, dan lain sebagainya. Di tengah perkebunan tersebut terdapat banyak perkampungan terpencil yang disebut Afdeling (Afd.) dan dihuni oleh pekerja perkebunan. Beberapa Afdeling di Glenmore diantaranya Afd. Muktisari, Sidomukti, Gentengan, Kaliputih, Sukobumi, dan lainnya.
Batas wilayah Kecamatan Glenmore adalah sebagai berikut:[5]
Suasana Pasar di Glenmore dengan latar Gunung Raung (1927)
Pada zaman dahulu Glenmore dan wilayah sekitarnya masih berupa hutan belantara. Hal ini berubah ketika pemerintah kolonial membuat kebijakan baru di tahun 1900-an dengan menarik investor dari Eropa untuk membangun bisnis di Hindia Belanda. Pengusaha Eropa berdatangan dan membuka hutan untuk perkebunan baru. Salah satunya adalah Glenmore yang didirikan oleh pengusaha asal Skotlandia bernama Ros Taylor sekitar tahun 1910. Ros Taylor membuka lahan di kaki Gunung Raung seluas 163.800 hektar untuk ditanami kopi, kakao, dan karet. Kata Glenmore berasal dari Bahasa Gaelik Skotlandia yang berarti "Big Glen / Glen Besar". "Glen" adalah kata yang banyak dipakai sebagai nama tempat di Skotlandia dan bermakna lembah atau hamparan perbukitan.[6][1]
Glenmore bukanlah satu-satunya perkebunan zaman kolonial di kecamatan ini. Selain itu, juga terdapat Perkebunan Glen Nevis, Glen Faloch, dan Treblasala. Treblasala sendiri menurut penuturan masyarakat setempat merupakan kebalikan dari kata "Alas Albert" (hutan Albert).[6] Setelah dibukanya kawasan perkebunan, wilayah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Pemerintah kolonial membangun infrastruktur baru seperti Stasiun Glenmore, kantor pos, hingga rumah sakit. Jejak-jejak masa kolonial di Glenmore masih ada hingga sekarang, salah satunya mesin ketel uap buatan Ruston Proctor & Co dari Inggris yang sekarang dijadikan monumen di depan PT Glenmore.[7][8] Peninggalan zaman kolonial lainnya adalah Rumah Sakit Bhakti Husada atau juga disebut Rumah Sakit Krikilan yang sebelumnya merupakan klinik perkebunan.
Wilayah Glenmore pernah dijadikan calon lokasi Bandar Udara Banyuwangi. Di tengah perkebunan, tepatnya di dekat Afdeling Sidomukti dan Muktisari atau berada di selatan pabrik gula, telah berdiri landasan pacu untuk pesawat capung penyemprot hama. Landasan ini dibangun sekitar tahun 1970-an pada masa Bupati Djoko Supaat Slamet. Landasan ini rencananya akan dikembangkan menjadi bandar udara baru. Namun pembangunan bandara tertunda hingga tahun 1999 pada era Bupati Samsul Hadi. Setelah dianalisis, ternyata lokasi Glenmore tidak aman untuk penerbangan. Sekarang, proyek bandar udara telah dipindah ke Kecamatan Blimbingsari.[9]
Galeri
Rumah sakit perkebunan di Krikilan
Kantor pos dan telegraf di Glenmore
Sebuah keluarga di Glenmore
Daftar desa dan dusun
Kecamatan Glenmore terdiri dari 7 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun. Di dalam dusun tersebut juga terdapat banyak kampung atau afdeling (Afd.) yang dihuni pekerja perkebunan. Desa dan dusun tersebut yakni sebagai berikut:
↑Margomulyo adalah pemekaran dari Desa Sepanjang pada tahun 1999.[11]
Transportasi
Stasiun Glenmore (2020)
Glenmore dilintasi jalan nasional strategis yang menghubungkan Banyuwangi Kota dan Genteng dengan Kabupaten Jember. Terdapat beberapa titik rawan kecelakaan di jalur ini salah satunya di Tikungan Glenfalloch yang menghubungkan Glenmore dengan Kalibaru di barat. Jalur penting lainnya di Glenmore adalah Jalan Lintas Selatan Jawa (JLS) yang direncanakan akan menghubungkan berbagai wilayah di selatan Jawa. JLS di Glenmore bersimpangan dengan jalan nasional di Desa Karangharjo. Jalan ini menembus kawasan perkebunan Kendenglembu dan Kalirejo serta sudah beraspal, tetapi hingga tahun 2025 belum sepenuhnya tersambung dengan JLS di Jember. Rute JLS penghubung Jember dengan Banyuwangi dirancang agar tidak merusak Taman Nasional Meru Betiri.[13]
Glenmore juga dilintasi jalur kereta api yang menghubungkan Jember dengan Banyuwangi. Beberapa infrastruktur kereta di kecamatan ini, di antaranya (dari timur ke barat): Stasiun Sumberwadung, Stasiun Kempit, Stasiun Glenmore, dan Stasiun Krikilan yang semuanya tergolong stasiun kelas kecil. Hanya dua stasiun yang masih beroperasi yaitu Stasiun Sumberwadung dan Glenmore, tetapi keduanya tidak melayani naik turun penumpang sejak tahun 2023. Pada bulan Juli hingga September tahun 2025, terjadi penutupan Jalur Gumitir di jalan nasional Jember-Banyuwangi. Sebagai gantinya, Stasiun Sumberwadung dan Glenmore melayani naik turun penumpang di kereta api Pandanwangi untuk sementara waktu selama jalan ditutup.[14]