Pada tanggal 22 Mei 1894, Pastor Cornelis Johann Le Cocq d'Armandville, S.J., tiba di Kampung Sekru, yang kini termasuk Distrik Pariwari, Fakfak, Papua Barat. Ia kemudian menjalin hubungan dengan penduduk setempat, termasuk tiga orang Muslim yang menerimanya dan menampungnya selama sepuluh hari. Selama masa itu, ia membaptis 73 penduduk setempat menjadi Katolik.[2]
Selain itu, ia juga berupaya mengunjungi beberapa kampung, terutama di wilayah pesisir Jazira Onim, untuk meninjau lokasi yang memungkinkan sebagai tempat pendirian pos misi Katolik pertama di Nueva Guinea (kini Papua). Dalam kunjungan tersebut, ia menilai Pulau Warhiranggah atau Bonyom sebagai lokasi yang tepat untuk dijadikan pusat misi Katolik di Papua.[3]
Kontak awal
Pondok Le Cocq di Kampung Raduria
Setahun kemudian, tepat pada 1 Mei 1895, Pastor Le Cocq mengajak Br. Zinken, S.J., Br. te Boekhorst, S.J., dan guru Christianus Pelletimu kembali ke Kapaur. Kapaur yang dimaksud adalah wilayah Pantai Raduria. Di tempat ini, Pastor Le Cocq kembali membangun hubungan dengan penduduk setempat.[4]
Tokoh-tokoh setempat yang menerima kedatangan Le Cocq pada saat itu antara lain Kondogat Antonius Hindom, Mensara Lukas Hindom, dan Podpojen David Temongmere. Mereka termasuk orang-orang yang sebelumnya telah menerima baptisan dari Pastor Le Cocq di pulau misi Warhiranggah atau Bonyom.[5]
Pos misi perdana
Di Pantai Patikomat, di belakang rumah Lukas Temongmere atau di sebelah makam Kapitan Temini Wagab, terdapat sebuah pondok kecil. Pondok ini dibangun secara sederhana dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal, seperti kayu, batang sagu, dan daun sagu.[6]
Pondok tersebut kemudian dijadikan pos misi darurat bagi penduduk Kampung Raduria, Brongkendik, dan Hambriangkendik. Penduduk dari kampung lain, seperti Sakartemin, juga sering datang untuk mengunjungi kerabat mereka di tempat ini. Selain pos misi pertama di Pulau Warhiranggah, pondok kecil ini berfungsi sebagai pos misi bagi penduduk setempat.[7].
Tiga pemuda Mbaham Matta
Pastor Eduard Theodorus Cappers, M.S.C.
Setelah kepergian Le Cocq pada 27 Mei 1896, tidak ada lagi aktivitas misi di Kapaur. Beberapa waktu kemudian, tiga pemuda dari Mabham Matta pergi ke Langgur untuk bertemu dengan para pastor di sana. Tujuan mereka adalah meminta pimpinan Gereja di Langgur agar segera mengutus imam untuk melayani penduduk setempat di wilayah tersebut.[8]
Pater Eduard Cappers, M.S.C., yang sebelumnya bertugas di Merauke, kemudian diutus ke Kapaur. Ia tiba di wilayah ini dan menetap di Kampung Sakartemin. Kehadiran para pastor Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) terjadi setelah Serikat Yesus menyerahkan wilayah misi tersebut pada 1 Januari 1904. Cappers menjadi misionaris pertama yang berperan dalam mengembangkan misi di daerah tesebut.[9]
Perkembangan misi
Pada 8 November 1930, Pastor Adrianus de Jong, M.S.C., mengunjungi Fakfak dan menetap di Brongkendik. Pada Januari 1931, ia mendirikan sebuah pastoran di Brongkendik dengan bantuan Bruder J. Schut, M.S.C. Brongkendik kemudian dijadikannya sebagai pusat pelayanan pastoral sebelum dipindahkan ke Sungai Gewerpe pada tahun 1931.[10]
Makam Pater Valerikus Moors, OFM., di samping stasi.
Pada 16 Juli 1946, setelah berakhirnya Perang Dunia II, Pater Valerikus Moors, O.F.M., datang ke Fakfak. Ia hanya tinggal sebentar di Kampung Brongkendik karena jatuh sakit. Pater Moors kemudian meninggal dunia di Rumah Sakit Fakfak pada 13 Desember 1946 dalam usia 31 tahun.[11]
Pengembangan misi
Seiring berjalannya waktu, gereja ini berkembang pesat dan beberapa kali berpindah lokasi. Tercatat sedikitnya tujuh kali perpindahan, mulai dari Patimakot, Mbrom (kini lokasi rumah Polikarpus Wagab), lokasi gereja saat ini, puncak Mbrom (kini lokasi rumah Benediktus Gewab), hingga akhirnya kembali ke lokasi yang sekarang.[12]
Peresmian gereja.
Gereja permanen mulai dibangun pada tahun 1958 di lokasi gereja saat ini. Setelah pembongkaran gereja lama, sejak tahun 2021 kegiatan ibadah dipusatkan di kompleks SMP Girgir, Hambriangkendik. Pada 5 Oktober 2025, umat secara resmi berpamitan kepada pihak sekolah karena gedung gereja yang baru telah selesai dibangun. Pada 7 Oktober 2025, Uskup Manokwari-SorongHilarion Datus Lega meresmikan dan memberkati Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Pekerja, Brongkendik.[13]