Sejarah
Sejak tahun 1970an hingga sekitar awal tahun 2000, perkembangan umat Katolik di Jakarta terbilang sangat pesat, ditandai dengan bermekarnya banyak paroki-paroki baru di kawasan Jakarta Barat saat ini, utamanya Paroki Grogol. Umat paroki Grogol yang bertumbuh pesat akhirnya mendorong lahirnya paroki baru, Paroki Tomang - Gereja Maria Bunda Karmel pada 1974[1] dan Paroki Kedoya - Gereja Santo Andreas pada 1986.[2]
Berkembang pesatnya umat Katolik di wilayah Paroki Grogol akhirnya mendorong inisiatif satu keluarga Katolik, Matius Sanusi Satyananda, untuk akhirnya menghibahkan tanah dan rumah miliknya yang terletak di Jalan Nurdin IV Nomor 3, Grogol untuk diberikan kepada pengurus Paroki Grogol.[3] Awalnya, rumah tersebut dijadikan sebuah kapel untuk menampung umat Katolik yang tinggal di wilayah sekitar.
Pada tahun 2001, sebuah gedung gereja yang lebih luas mulai dibangun untuk menampung lebih banyak umat. Peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja berlangsung pada 14 Juni 2009 oleh R.P. Yohanes Purwanta, M.S.C., yang menjabat sebagai Pastor Kepala Paroki Grogol. Proses pembangunan kemudian dijalankan bertahap, hingga akhirnya selesai pada tahun 2011. Gereja ini diberkati pada tanggal 10 April 2011 oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo,[3] dan diresmikan pada hari yang sama oleh Wali Kota Jakarta Barat, Burhanuddin. Gedung gereja yang baru ini mampu menampung setidaknya 700 umat di panti umat di lantai utama, termasuk dengan panti umat yang terdapat di balkon gereja.
Pada periode Januari 2026 hingga Maret 2026, Gereja Santo Polikarpus mengalami renovasi, sehingga peribadatan Paroki Grogol hanya dilaksanakan di Gereja Santo Kristoforus, Grogol. Perayaan Ekaristi tidak lagi dilaksanakan setelah 4 Januari 2026, selama masa renovasi berlangsung. Peribadatan kembali berlangsung sejak 29 Maret 2026.