Paroki Sampit berawal dari stasi tetap sejak tahun 1952 di bawah Vikariat ApostolikBanjarmasin (saat itu wilayah yang sekarang menjadi Keuskupan Palangka Raya berada di bawah Vikariat Banjarmasin).[1]Gereja pusat paroki—Gereja St. Joan Bosco—merupakan bangunan dengan arsitektur Belanda yang didirikan pada 5 Mei 1952 saat dipimpin oleh gembala yang pertama, Pastor Leonardus Bernsen; kemudian pada tahun 2009 telah dilakukan pemugaran atas bangunannya.[2]
Paroki Sampit sudah melahirkan beberapa paroki baru, yaitu Paroki Ecce Homo, Parenggean (27 Oktober 1985) dan Paroki Hati Kudus Yesus, Rantau Pulut. Semua wilayah paroki hasil pemekaran tersebut dirintis oleh Pastor Willibald Pfeufer, MSF - yang dikenal sebagai 'Pastor Pedalaman' dan saat Konflik Sampit tahun 2001 menjadi salah satu pastor sukarelawan yang membantu penyelamatan mereka yang terancam.[3] Gereja ini kini dikelola oleh para imam dari Misionaris Keluarga Kudus (MSF).
Stasi
Beberapa stasi di Paroki Sampit antara lain (belum semua):[4][5][6]