Walaupun sudah berstatus sebagai paroki, Paroki Jagakarsa belum memiliki gedung gereja induk. Aktivitas peribadatan berlangsung di Kapel Desa Putera, Kapel Bahtera Kasih, dan Gereja Santo Petrus di dalam Universitas Pancasila.
Uskup Agung Jakarta, Leo Soekoto, S.J. meresmikan pendirian Paroki Jagakarsa melalui sebuah surat keputusan yang ditandatangani pada tanggal 5 Mei 1994. Ratu Rosari dipilih sebagai pelindung paroki. Pada tanggal yang sama, juga dinyatakan pembentukan Pengurus Gereja dan Dana Papa Roma Katolik Gereja Ratu Rosari, yang menjadi fondasi organisasi dan pengelolaan gereja ini.[1]
Pembangunan gedung gereja
Pembangunan gedung Gereja Ratu Rosari di Jagakarsa sempat mengalami beberapa penolakan oleh masyarakat sekitar.[2][3] Setelah berbagai proses yang dilewati, pembangunan gereja dapat dimulai. Peletakan batu pertama gedung gereja berlangsung pada 16 Juni 2023 dan dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo. Sebelumnya, Kardinal Suharyo telah menetapkan lokasi untuk memindah gedung kapel panti asuhan dan juga lokasi pembangunan gedung gereja yang baru.[4]
Pembangunan Gereja Ratu Rosari, September 2025.
Akhirnya, setelah menanti selama 32 tahun, pembangunan gedung gereja baru telah selesai pada akhir April 2026. Misa dedikasi gereja dilaksanakan pada 5 Mei 2026, dipimpin langsung oleh Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo.
Peribadatan
Peta tiga lokasi peribadatan Paroki Jagakarsa
Aktivitas peribadatan Paroki Jagakarsa berlangsung di tiga lokasi yang berbeda, yakni Gereja Ratu Rosari, Kapel Bahtera Kasih, dan Gereja Santo Petrus di dalam Universitas Pancasila.[5] Liturgi di ketiga lokasi ini diselenggarakan dalam Bahasa Indonesia.
Gereja Ratu Rosari
Setelah usai dibangun pada akhir April 2026, umat Paroki Jagakarsa telah mampu beribadah di gedung gereja sendiri, yang terletak di kawasan Panti Asuhan Desa Putera. Sebelumnya, peribadatan juga diadakan di Kapel Desa Putera, yang kini terletak bersampingan dengan gedung gereja utama.
Tulisan LatinSub Tutela Matris di fasad gereja, berartikan "di bawah naungan Bunda [Maria]"
Pada interior gereja baru, panti umat terbagi ke dalam dua bagian, di lantai utama dan di balkon. Panti umat mampu menampung lebih dari 2500 umat. Terdapat pula patung-patung rohani dalam etnis Betawi, karena wilayah Jagakarsa merupakan wilayah bermayoritas etnis Betawi. Salah satu yang menjadi sorotan ialah patung Keluarga Kudus dari Nazareth, di mana Santo Yosef, Bunda Maria dan Yesus menggunakan pakaian adat tradisional Suku Betawi.
Di balkon, selain terdapat panti umat tambahan, terdapat pula ruang audiovisual yang menyokong peribadatan di gedung gereja.
Balkon
Panti umat di balkon
Keseluruhan panti umat, dilihat dari balkon
Tampak samping panti umat di balkon
Salah satu perhentian Jalan Salib
Kapel Desa Putera
Sebelum gedung gereja utama mampu digunakan sebagai tempat peribadatan, sebuah kapel milik Yayasan Perhimpunan Vincentius Jakarta, yaitu Kapel Desa Putera, digunakan sebagai salah satu pusat peribadatan di Paroki Jagakarsa. Kapel Desa Putera terletak di Kompleks Panti Asuhan Desa Putera, bersebelahan dengan gedung gereja utama. Panti asuhan ini berada dalam naungan Perhimpunan Vincentius Jakarta dan dikelola oleh para Bruder Budi Mulia (BM). Kapel Desa Putera telah berdiri sejak tahun 1950.[6] Kapel Desa Putera memiliki sejumlah fasilitas penunjang, termasuk Gua Maria Ratu Rosari.[7]
Eksterior Kapel Desa Putera
Fasad
Fasad
Tampak samping depan
Tampak samping
Fasad depan
Tampak belakang
Interior Kapel Desa Putera
Panti umat dilihat dari pintu utama
Panti imam dan Altar
Altar
Gua Maria di dalam kapel
Porta Sancta (Pintu Suci) dalam rangka Yubileum 2025
Porta Sancta dalam rangka Yubileum 2025
Karena pembangunan gedung gereja utama telah usai, Kapel Desa Putera tidak lagi digunakan sebagai tempat peribadatan utama umat Paroki Jagakarsa, sejak Mei 2026.