Gereja Katolik Bebas St. Bonifacius merupakan salah satu dari tiga Gereja Katolik Bebas yang masih bertahan di Indonesia, selain di Jakarta dan Bandung. Terletak di Jalan Serayu No. 11, Darmo, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, gereja ini telah berdiri selama lebih dari satu abad sejak pendiriannya pada tahun 1923.[1][2]
Sejarah Pendirian
Pendirian Gereja Katolik Bebas di Indonesia tidak terlepas dari kebijakan Politik Etis yang diimplementasikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Kebijakan ini merupakan bentuk kompensasi pemerintah kolonial terhadap penduduk pribumi setelah eksploitasi sumber daya di Hindia Belanda. Salah satu program utama dari Politik Etis adalah edukasi, yang mencakup perluasan akses terhadap pendidikan dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pribumi.
Bersamaan dengan pemberlakuan kebijakan tersebut, berbagai paham baru mulai bermunculan di Hindia Belanda, termasuk paham Katolik Bebas yang merupakan pecahan dari Katolik Roma. Para penganut paham ini kemudian mendirikan tempat peribadatan tersendiri yang dikenal sebagai Gereja Katolik Bebas.[3]
Tokoh Pendiri
Terdapat tiga tokoh sentral dalam pendirian Gereja Katolik Bebas secara global, yaitu:
1. J. Weldgwood, mantan penganut Katolik Kuno yang mendalami ajaran teosofi
2. C.W. Leadbeater, seorang penganut teosofi
3. A.H. Mathew, mantan penganut Katolik Roma dan Katolik Kuno yang kemudian beralih ke paham Katolik Bebas
Di Surabaya sendiri, E.E. Warow, seorang uskup dari Australia, menjadi penanggung jawab pertama saat gereja ini didirikan. Warow tidak hanya berperan sebagai uskup pertama tetapi juga dikenal sebagai penganut ajaran teosofi.
Ajaran dan Karakteristik
Gereja Katolik Bebas memiliki hubungan erat dengan aliran teosofi yang dibawa oleh Madame Blavatsky. Teosofi memberikan pengaruh fundamental terhadap interpretasi ajaran Kristiani dalam Gereja Katolik Bebas. Aliran ini berupaya menggabungkan latihan intelektual dengan latihan spiritual untuk memahami, menemukan, dan menghayati esensi ketuhanan yang terangkum dalam slogan "Satyan Nasti Paro Dharma" yang bermakna "Tidak Ada Agama yang Lebih Tinggi Daripada Kebenaran."
Terdapat tiga inti ajaran dalam teosofi yang dianut oleh penganut Gereja Katolik Bebas:
1. Menjalin persaudaraan dengan berbagai manusia tanpa memandang ras, warna kulit, dan agama
2. Mempelajari filsafat, ilmu pengetahuan, dan agama
3. Menyelidiki hukum-hukum alam dan menggali potensi ilahiah dalam diri manusia
Karakteristik utama Gereja Katolik Bebas yang membedakannya dari Gereja Katolik Roma antara lain:
- Memberikan kebebasan kepada jemaatnya untuk menafsirkan kitab suci tanpa harus mengikuti tafsiran Vatikan
- Memperbolehkan perempuan untuk menjadi pendeta
- Mengizinkan imam, uskup, dan diakon untuk menikah
- Lebih menekankan pada substansi ajaran Kristiani daripada ritus-ritus formal
- Menerapkan fleksibilitas dalam tata cara peribadatan
Ajaran Krusial
Terdapat tiga ajaran krusial dalam Gereja Katolik Bebas yang menunjukkan pengaruh teosofi:
1. Pengakuan terhadap hukum evolusi atau reinkarnasi, yang meyakini bahwa kehidupan saat ini merupakan hasil dari kehidupan sebelumnya.
2. Kepercayaan pada hukum karma, yang menganggap bahwa kondisi hidup seseorang saat ini merupakan konsekuensi dari perbuatan di kehidupan sebelumnya.
3. Penerimaan terhadap penganut agama lain untuk mengikuti ritus Kristiani, yang mencerminkan ajaran Yesus yang menerima semua manusia tanpa membedakan latar belakang agama.
Perubahan Nama
Awalnya, Gereja Katolik Bebas dikenal dengan nama Liberal Catholic Church (LCC) dalam bahasa Inggris, atau Katolik Liberal dalam bahasa Indonesia. Namun, karena kondisi politik pada era Soekarno yang sensitif terhadap istilah "liberal", mereka mengubah namanya menjadi Katolik Bebas untuk alasan keamanan.
Kondisi Terkini
Saat ini, Gereja Katolik Bebas St. Bonifacius Surabaya mengalami penurunan jumlah jemaat. Dari data tahun 2024, tercatat hanya sekitar 30-40 orang jemaat yang tersisa, dengan kehadiran di ibadah Minggu hanya berkisar 7-8 orang. Sebagian besar jemaat yang masih bertahan adalah keturunan dari penganut Katolik Bebas terdahulu.
Di sebelah selatan gereja ini terdapat Sanggar Penerangan Teosofi, yang menunjukkan hubungan erat antara Gereja Katolik Bebas dengan ajaran teosofi. Sanggar ini berfungsi sebagai tempat meditasi dan pengembangan intelektual, sementara gereja berfungsi sebagai tempat misa dan pengembangan spiritual.
Meskipun mengalami penurunan jumlah jemaat, Gereja Katolik Bebas St. Bonifacius tetap menjadi bukti sejarah perkembangan keagamaan di Indonesia dan representasi dari upaya menggabungkan spiritualitas Kristiani dengan nilai-nilai teosofi.[4]