Sejarah
Awal mula keberadaan Gereja Bunda Maria Jeruju berkaitan dengan perkembangan umat Katolik di Kota Pontianak pada awal dekade 1980-an. Sebelum terbentuk sebagai stasi, umat Katolik di wilayah Jeruju terlebih dahulu membangun kehidupan menggereja melalui pembentukan lingkungan. Pada tanggal 23 Oktober 1982, dibentuklah Lingkungan Santo Fransiskus melalui sebuah rapat yang diselenggarakan di Gedung Pramuka Jeruju. Peristiwa ini menjadi tonggak awal terbentuknya komunitas Katolik di wilayah Jeruju.
Pada tahun 1984 dibentuklah Stasi Bunda Maria di Jeruju sebagai bagian dari Paroki Katedral Santo Yosep. Stasi ini awalnya dilayani oleh seorang imam Serikat Sabda Allah (SVD), yakni Pastor Yosep Kapitan. Jumlah umat pada waktu itu diperkirakan sekitar 600 jiwa. Dalam masa sebagai stasi, umat melaksanakan perayaan liturgi dan kegiatan rohani di sebuah kapel kecil. Bahkan sebelum kapel tersebut dibangun, umat Katolik setempat sering berkumpul dan beribadat di rumah-rumah warga.
Perkembangan umat yang terus meningkat membuat kehidupan liturgi dan pastoral di Stasi Bunda Maria Jeruju semakin terstruktur. Kegiatan gerejawi mulai berjalan dengan lebih terorganisasi dan partisipasi umat semakin aktif. Kondisi ini mendapat perhatian dari pihak Keuskupan Agung Pontianak, sehingga Stasi Bunda Maria Jeruju kemudian resmi diangkat menjadi paroki.
Pembangunan gereja
Setelah ditetapkan sebagai paroki, kebutuhan akan gedung gereja yang lebih memadai semakin mendesak. Kapel lama dinilai tidak lagi mampu menampung jumlah umat yang terus bertambah. Oleh karena itu, pihak paroki memutuskan untuk membeli lahan baru yang berlokasi di Jalan Komyos Sudarso, Kelurahan Sungai Beliung, Pontianak Barat. Lahan ini dipandang strategis untuk pembangunan gereja paroki yang baru, sementara kapel lama kemudian dijual oleh pihak keuskupan.
Pembangunan gereja paroki yang baru dimulai sekitar tahun 1996 dan berlangsung dalam waktu yang cukup panjang, yakni hingga tahun 2017. Proses pembangunan ini melibatkan partisipasi aktif umat, para donatur, serta para simpatisan gereja. Meskipun pembangunan belum sepenuhnya selesai, gedung gereja sudah mulai digunakan untuk perayaan Ekaristi dan kegiatan rohani sejak tahun 2006. Setelah melalui proses panjang pembangunan dan pembenahan, Gereja Bunda Maria Jeruju akhirnya hampir rampung dan semakin layak digunakan sebagai pusat peribadatan dan kegiatan pastoral. Gedung gereja rampung dan diberkati pada 25 Mei 2017, bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus.[3]
Dalam perkembangan selanjutnya, Dewan Pastoral Paroki bersama Pastor Kepala Paroki, Pastor Paulus Pio, S.V.D., juga bersepakat untuk membangun bangunan pastoran sebagai tempat tinggal para imam yang bertugas di paroki. Dengan adanya pastoran ini, para imam yang datang dari luar kota memiliki tempat tinggal yang layak selama menjalankan pelayanan.