Geografi Oseania


Oseania adalah kawasan geografis yang mencakup wilayah kepulauan di Samudera Pasifik, meliputi Australia, Selandia Baru Papua Nugini, dan ribuan pulau yang tersebar di Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia. Dengan luas daratan sekitar 8,5 juta km² dan lebih dari 25.000 pulau, Oseania merupakan kawasan kepulauan terbesar di dunia yang membentang dari Papua Barat di barat hingga Pulau Paskah di timur. Kawasan ini dihuni oleh sekitar 44 juta jiwa dengan distribusi populasi yang tidak merata, di mana mayoritas penduduk terkonsentrasi di Australia dan Selandia Baru. Definisi dan ruang lingkup Oseania masih menjadi perdebatan akademis, terutama terkait pembagian model benua (4-benua dengan 7-benua) dan perbedaan antara Oseania geografis dengan Oseania budaya, namun secara umum kawasan ini diakui sebagai salah satu region utama dunia dengan karakteristik geografis dan budaya yang unik.
Secara geologis, Oseania terletak pada zona tektonik yang sangat aktif, terutama di sepanjang Cincin Api Pasifik yang merupakan kawasan pertemuan lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Filipina. Australia sendiri merupakan fragmen benua purba yang terbentuk dari kraton Prekambrium, menjadikannya salah satu masa daratan tertua di dunia dengan formasi geologis yang stabil. Sebaliknya, pulau-pulau di Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia sebagian besar terbentuk melalui aktivitas vulkanik dari titik panas dan busur kepulauan vulkanik, serta pembentukan atol mengikuti teori Darwin tentang subsidensi pulau vulkanik di dalam bukunya The Structure and Distribution of Coral Reefs. Kawasan ini mengalami aktivitas seismik dan vulkanik yang intens, dengan gunung berapi aktif tersebar di Papua Nugini, Vanuatu, Tonga, dan pulau-pulau lainnya, serta ancaman gempa bumi dan tsunami yang signifikan akibat zona subduksi aktif. Penemuan Zealandia, sebuah benua yang sebagian besar tenggelam di bawah Samudera Pasifik dengan Selandia Baru sebagai puncaknya yang terlihat, telah menambah pemahaman baru tentang kompleksitas geologis kawasan ini.
Keragaman geomorfologi Oseania mencerminkan proses geologis yang beragam, mulai dari pulau kontinental besar seperti Australia dan Papua Nugini dengan pegunungan tinggi seperti Great Dividing Range dan pegunungan Papua yang mencapai ketinggian lebih dari 4.000 meter, hingga pulau-pulau vulkanik tinggi di Hawaii, Fiji, dan Samoa yang terbentuk dari aktivitas magmatik. Atol di Kiribati, Tuvalu, dan Kepulauan Marshall merepresentasikan tahap akhir evolusi pulau vulkanik yang telah tenggelam, meninggalkan cincin terumbu karang dengan laguna di tengahnya. Bentang alam Australia mencakup gurun-gurun luas seperti gurun Simpson, gurun victoria besar, dan Gurun Gibson, serta cekungan artesis raksasa (Great Artesian Basin) yang menjadi sumber air tanah terbesar di dunia.
Kawasan pesisir Oseania menampilkan keanekaragaman, dari Great Barrier Reef yang merupakan sistem terumbu karang terbesar di dunia, fjord-fjord dramatis di Selandia Baru yang terbentuk dari erosi glasial, hingga laguna-laguna tropis yang jernih dan ekosistem mangrove yang luas di Papua Nugini dan Australia utara.
Batas-batas
Batas geografis Oseania merupakan konsep yang kompleks dan masih diperdebatkan dalam komunitas geografis internasional, mengingat kawasan ini didominasi oleh wilayah maritim yang luas dengan pulau-pulau yang tersebar di hampir sepertiga permukaan bumi. Secara konvensional, batas barat Oseania umumnya ditarik di sepanjang Kepulauan Maluku dan Papua Barat (Indonesia), mengikuti Garis Wallace yang memisahkan fauna Asia dari fauna Australis, meskipun beberapa definisi memasukkan seluruh wilayah Indonesia bagian timur ke dalam kawasan ini. Di sebelah timur, batas Oseania mencapai Pulau Paskah (Rapa Nui) yang merupakan pulau berpenghuni paling terpencil di dunia, terletak sekitar 3.700 km dari pantai Chili, sementara beberapa geografer memperluas batas hingga ke pantai barat Amerika Selatan. Batas utara kawasan ini membentang hingga Kepulauan Hawaii dan Kepulauan Mariana di Samudra Pasifik utara, berada pada lintang sekitar 30°LU, sedangkan batas selatan mencapai Selandia Baru dan pulau-pulau subantarktik seperti Kepulauan Auckland dan Kepulauan Campbell, yang terletak mendekati garis lintang 50°LS. Dalam konteks politik dan budaya, definisi Oseania menjadi lebih fleksibel, di mana organisasi regional seperti Pacific Islands Forum memasukkan negara-negara dan teritori yang secara geografis mungkin berada di luar batas konvensional namun memiliki ikatan historis dan politik yang kuat dengan kawasan Pasifik, seperti wilayah-wilayah Prancis di Polinesia dan Kaledonia Baru, serta teritori Amerika Serikat di Guam dan Samoa Amerika.
Perdebatan mengenai definisi Oseania telah berlangsung sejak abad ke-19 dan hingga kini belum mencapai konsensus universal. Terdapat empat pendekatan utama dalam menentukan batas-batas Oseania, yaitu pendekatan geografis-fisik, biogeografis, geopolitik, dan kultural-antropologis. Pendekatan geografis-fisik yang paling luas mendefinisikan Oseania sebagai semua pulau di Samudra Pasifik yang terletak di antara benua Asia dan Amerika. Namun, definisi ini menghadapi kritik karena mencakup wilayah seperti Kepulauan Jepang dan Filipina yang secara kultural dan politik telah lama dikategorikan sebagai bagian dari Asia.[1]
Pendekatan biogeografis menggunakan Garis Wallace sebagai demarkasi utama, yakni zona transisi biogeografis yang membentang antara Kalimantan-Sulawesi dan Bali-Lombok, yang menandai pemisahan tajam antara fauna Indomalaya (Asia) dan fauna Australasia. Pendekatan ini menempatkan seluruh Pulau Papua termasuk Papua Nugini dan provinsi-provinsi Papua di Indonesia ke dalam Oseania berdasarkan karakteristik fauna dan flora yang berbeda dari Asia kontinental. Namun, penerapan batas biogeografis ini menimbulkan inkonsistensi dengan realitas geopolitik kontemporer, di mana Papua Barat merupakan bagian integral dari Indonesia yang secara konvensional dikategorikan sebagai negara Asia Tenggara.[2]
Dalam konteks geopolitik modern, delimitasi Oseania ditentukan terutama melalui keanggotaan dalam organisasi regional ketimbang kriteria geografis murni. Pacific Islands Forum (PIF), yang didirikan pada tahun 1971, berfungsi sebagai organisasi antarpemerintah utama yang secara de facto mendefinisikan Oseania politik kontemporer. Keanggotaan mencakup negara-negara kepulauan Pasifik seperti Fiji, Samoa, Tonga, Vanuatu, dan Kepulauan Solomon, dengan Australia dan Selandia Baru sebagai anggota utama yang memiliki pengaruh ekonomi dan politik signifikan. Papua Nugini termasuk dalam keanggotaan meskipun secara geologis Pulau Papua merupakan bagian dari landas kontinen Sahul yang sama dengan Australia. Forum ini juga mengakui status wilayah-wilayah non-independen seperti Polinesia Prancis, Kaledonia Baru (teritori Prancis), Guam dan Kepulauan Mariana Utara (teritori Amerika Serikat), serta Samoa Amerika, yang secara politik merupakan dependensi negara-negara eksternal. Teritori Selandia Baru seperti Tokelau dan negara-negara dalam asosiasi bebas seperti Kepulauan Cook dan Niue juga termasuk dalam kerangka Oseania politik ini.[3] Berdasarkan klasifikasi statistik United Nations Statistics Division (UNSD) menggunakan definisi yang berbeda, di mana Indonesia secara keseluruhan termasuk provinsi-provinsi Papua dikategorikan dalam Asia Tenggara, sementara Hawaii dimasukkan ke dalam Amerika Utara berdasarkan afiliasi politik dengan Amerika Serikat. Perbedaan klasifikasi ini menggarisbawahi ketidaksesuaian antara kontinuitas geografis-kultural dengan fragmentasi politik-administratif.[4][5]
Dimensi kultural-antropologis dalam penentuan batas Oseania berakar pada sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh etnolog Eropa pada abad ke-19, yang meskipun kini dikritik karena basis rasialnya, masih memberikan kerangka geografis yang digunakan dalam studi kawasan. Klasifikasi tripartit yang membagi Oseania menjadi Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia pertama kali diajukan oleh Jules Dumont d'Urville pada tahun 1832 berdasarkan pengamatan terhadap karakteristik fenotipik dan bahasa penduduk. Melanesia, yang secara etimologis berasal dari bahasa Yunani "melas" (hitam) dan "nesos" (pulau), mencakup kawasan dari Papua Nugini hingga Fiji dengan populasi yang memiliki hubungan linguistik dan genetik dengan kelompok Papua. Mikronesia, dari "mikros" (kecil), merujuk pada ribuan pulau kecil dan atol di Pasifik barat utara termasuk Kepulauan Marshall, Kiribati, Nauru, dan Federasi Mikronesia. Polinesia, dari "poly" (banyak), membentuk kawasan segitiga terbesar yang dibatasi oleh Hawaii di utara, Aotearoa (Selandia Baru) di barat daya, dan Rapa Nui (Pulau Paskah) di tenggara.Pendekatan kultural kontemporer mendefinisikan Oseania berdasarkan tradisi budaya Austronesia yang mendominasi Polinesia dan Mikronesia, serta tradisi non-Austronesia kelompok Papua di Melanesia. Sejarah migrasi maritim jarak jauh, teknologi navigasi astronomi tradisional, dan jaringan pertukaran budaya prakolonial menciptakan kesatuan kultural trans-regional yang tidak berkorespondensi dengan batas-batas negara modern. [6]
Bentang Alam

Karakteristik fisiografis daratan Australia dan Oseania menunjukkan variasi morfologi yang signifikan akibat proses tektonik dan denudasi jangka panjang. Sistem orografis utama meliputi Great Dividing Range[7] yang terbentuk dari aktivitas tektonik Paleozoikum hingga Mesozoikum di margin timur Australia, Alpen Selatan di Selandia Baru yang merupakan hasil dari konvergensi lempeng Indo-Australia dan Pasifik, serta kompleks pegunungan Papua[8] yang terbentuk dari proses orogeni akibat kolisi fragmen-fragmen mikrokontinen. Morfologi dataran rendah didominasi oleh Great Artesian Basin, suatu cekungan sedimen intrakraton berukuran 1,7 juta km² yang menyimpan akuifer artesis terbesar di dunia dengan ketebalan sedimen mencapai 3.000 meter.[9] Wilayah arid di interior Australia dicirikan oleh gurun-gurun ekstensif seperti Gurun Simpson dengan sistem dune longitudinal, Gurun Victoria Besar , dan Gurun Gibson yang terbentuk melalui proses eolian dalam kondisi hiperaria. Pada pulau-pulau karbonat seperti Nauru dan atol-atol kapur lainnya, proses solusional menghasilkan morfologi karst dengan sistem speleologi yang berkembang pada formasi batugamping terumbu terangkat (Raised Coral Atoll).[10]
Zona pesisir Australia dan Oseania memperlihatkan diversitas morfologi perairan laut dangkal yang dipengaruhi oleh interaksi antara proses biokonstruksi, sedimentasi, dan tektonik. Great Barrier Reef merupakan kompleks terumbu karang terbesar di dunia dengan panjang 2.300 km, tersusun dari agregasi sekitar 2.900 terumbu individual dan 900 pulau yang terbentuk melalui akumulasi kerangka organisme karang scleractinian dan alga koralin selama periode Holosen di atas substrat Pleistosen.[11] Sistem laguna dan estuari berkembang di sepanjang garis pantai sebagai hasil interaksi antara kenaikan air laut pasca periode glasial, pasokan sedimen fluvial, dan dinamika pasang surut yang menciptakan lingkungan transisional dengan gradien salinitas.[12] Fjord-fjord di Selandia Baru, khususnya di Fiordland, merupakan lembah glasial terenda (glacially-carved valleys) dengan morfologi U-shaped yang terbentuk selama periode glasial Pleistosen, ditandai oleh dinding lembah dengan kemiringan ekstrem dan kedalaman basin mencapai ratusan meter. Sistem pantai berpasir menunjukkan morfologi transgresif dengan pembentukan dune coastal atau gumuk pasir melalui proses transportasi eolian dan agregasi sedimen klastik, membentuk barrier island dan spit yang berfungsi sebagai penghalang alamiah antara lingkungan laut dan daratan.[13][14]
Hidrologi
Hidrologi Oseania menunjukkan variasi ekstrem dalam sistem air permukaan. Di banyak pulau kecil, terutama atol, tidak terdapat sistem sungai permanen akibat luas daratan yang terbatas dan kondisi geologisnya.[15] Sebaliknya, di benua Australia, karakteristik sungai intermiten mendominasi wilayah interiornya, sementara keanekaragaman danau mencakup danau tektonik (Taupo), danau glasial (Wakatipu), danau garam (Eyre), dan danau vulkanik (Rotorua).[16]
Pada sistem air tanah, kawasan ini didominasi oleh Great Artesian Basin, yang merupakan akuifer artesis terbesar di dunia. Cekungan ini berperan sebagai sumber air vital bagi wilayah arid Australia, meskipun menghadapi tantangan penurunan tekanan air akibat eksploitasi intensif dalam lebih dari satu abad.[17]
Iklim

Oseania dicirikan oleh keragaman iklim yang ekstrem, mulai dari iklim tropis basah di Papua Nugini hingga gurun kering di pedalaman Australia. Pola cuaca kawasan ini dipengaruhi oleh sistem atmosfer utama seperti Zona Konvergensi Antar Tropis (ITCZ) dan Zona Konvergensi Pasifik Selatan (SPCZ), serta angin pasat dan angin barat lintang tengah. Variabilitas iklim tahunan sangat dipengaruhi oleh fenomena El Niño–Osilasi Selatan (ENSO) yang menentukan siklus kekeringan dan curah hujan tinggi, serta siklon tropis yang kerap melanda kawasan Pasifik pada musim panas.[18]
Perubahan iklim berdampak serius bagi kawasan ini, ditandai dengan tren peningkatan suhu, kenaikan permukaan laut, dan intensifikasi cuaca ekstrem. Ancaman nyata termasuk pemutihan karang massal[19], pengasaman laut[20], dan risiko hilangnya daratan bagi negara-negara atol rendah. Proyeksi jangka panjang mengindikasikan konsekuensi sosio-ekologis dan ekonomi yang berat, menekankan kerentanan khusus Oseania terhadap perubahan global.[21]
Biogeografi dan Ekosistem
Oseania]] merupakan laboratorium alam utama untuk mempelajari biogeografi, yang secara fundamental dibagi oleh Garis Wallace dan Garis Lydekker menjadi dua provinsi besar: Sahul (daratan Gondwana seperti Australia dan Papua) dan Oceanik Ketat (kepulauan vulkanik dan karang). Perbedaan sejarah geologis ini menghasilkan pola biodiversitas yang unik, dengan endemisme tinggi pada kelompok marsupial, monotremata, dan flora relictual (misalnya famili Proteaceae) di Sahul. Sementara itu, fauna pulau seperti burung cendrawasih dan kiwi di Polinesia adalah hasil radiasi adaptif dari penyebaran jarak jauh. Konsekuensinya terbentuklah berbagai bioma khas, mulai dari hutan eucalyptus dan gurun di Australia, hutan hujan tropis di Papua Nugini dan Melanesia, hingga hutan hujan sedang di Selandia Baru dan formasi alpine di dataran tinggi Papua.
Ekosistem Kunci dan Ancaman Antroposentrik Interaksi ekosistem darat-laut mencirikan dinamika ekologi Oseania, dengan hotspot keanekaragaman hayati global seperti Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) dan Great Barrier Reef, yang didukung oleh mangrove dan padang lamun. Namun, ekosistem ini menunjukkan kerentanan ekstrem akibat evolusi dalam isolasi. Ancaman sistematis datang dari perubahan iklim (pemutihan karang, pengasaman samudera), degradasi habitat pesisir, dan overfishing. Secara paralel, di daratan, deforestasi masif dan introduksi spesies invasif (misalnya tikus, kucing, dan ular pohon coklat di Guam) telah memicu kaskade kepunahan, mengancam spesies endemik dan merestrukturisasi komunitas alami.[22]
Geografi Ekonomi
Oseania bertumpu pada sumber daya alam dan pertanian yang sesuai dengan kondisi lingkungan . Australia dan Selandia Baru merupakan penghasil dari sektor peternakan skala besar dan produk susu ekspor, sementara kawasan Pasifik berkonsentrasi pada perkebunan kelapa sawit, kopra, dan hortikultura tropis. Secara paralel, aktivitas ekstraktif mendominasi, dengan Australia sebagai pengekspor utama mineral seperti bijih besi dan batubara, disusul produksi tembaga, emas, dan nikel di Papua Nugini dan Kaledonia Baru. Sektor kehutanan untuk kayu tropis juga signifikan, meski sering berhadapan dengan konflik lahan dan deforestasi.[23] Di laut, perikanan tuna di Zona Ekonomi Eksklusif yang luas dan akuakultur.
Pariwisata telah menjadi penggerak ekonomi dan penyerap tenaga kerja yang vital, dengan kontribusi besar terhadap PDB banyak negara di kawasan seperti Great Barrier Reef, Fiordland, dan Uluru, serta wisata budaya Māori dan Pasifik yang menjadi objek wisata budaya. Pariwisata pantai dan laut seperti selam, snorkeling, dan ekoturisme.
Oseania memiliki kawasan lindung yang ekstensif, mencakup Taman Nasional, Cagar Alam Laut, dan Situs Warisan Dunia UNESCO (seperti Kawasan Warisan Dunia Alam Liar Tasmania[24] dan Te Wahipounamu) untuk langkah konservasi keanekaragaman hayati. Tantangan utama pengelolaannya adalah pembiayaan[25], aktivitas ilegal[23], dan rehabilitasi lahan bekas tambang.[26] Secara bersamaan, kawasan ini tengah melakukan transisi energi dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang melimpah, seperti tenaga surya di Australia, panas bumi di Selandia Baru, dan tenaga air di Tasmania dan Papua Nugini. Transisi ini dihadapkan ketergantungan sumber daya lain seperti diesel serta kendala ketidaktetapan pasokan dan infrastruktur jaringan listrik, serta mencapai target emisi nol bersih.[27][28]
Geografi Manusia
Distribusi populasi di Oseania ditandai oleh pola yang tidak merata. Di Australia dan Selandia Baru, lebih dari 85% penduduk tinggal di kawasan perkotaan. Sementara itu, penduduk di banyak negara kepulauan tersebar di berbagai pulau kecil. Secara spasial, mayoritas populasi terkonsentrasi di pesisir, dengan sekitar 80% penduduk Australia bermukim di wilayah dekat garis pantai. Sebaliknya, wilayah interior Australia memiliki kepadatan penduduk yang sangat rendah. [29]
Referensi
- ↑ Lewis, Martin W.; Wigen (1997). The Myth of Continents: A Critique of Metageography. University of California Press. ISBN 9780520207431. Diakses tanggal 26 Januari 2026.
- ↑ Asiyah, dkk. (Juli 2019). Sirajuddin dan Alek, O. (ed.). Ilmu Alamiah Dasar dalam Perspektif Islam sebagai Buku Rujukan di Perguruan Tinggi (PDF). Bengkulu: Penerbit Vanda. Bagian E. Biogeografi. ISBN 978-602-6784-89-6. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2022-12-09. Diakses tanggal 2023-06-09.
- ↑ Fry, Greg; Tarte, Sandra. "The New Pacific Diplomacy". The Australian National University (dalam bahasa Inggris). ANU Press. doi:10.26530/OAPEN_603144. Diakses tanggal 25 Januari 2026.
- ↑ "Countries or areas / geographical regions". United Nations. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 August 2017. Diakses tanggal 25 April 2019.
- ↑ Status of the 1950 Census Program in the United States: A Preliminary Report. United States. Bureau of the Census. 1951. Diakses tanggal 24 November 2022.
- ↑ Tcherkézoff, Serge (2003). "A Long and Unfortunate Voyage towards the 'Invention' of the Melanesia/Polynesia Distinction 1595-1832". JSTOR (dalam bahasa Inggris). 38, no. 2, . Taylor & Francis, Ltd.: 176–196. JSTOR 25169638. Diakses tanggal 25 Jan. 2026. Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
- ↑ Veevers, J.J (2000). . Billion-Year Earth History of Australia and Neighbours in Gondwanaland. GEMOC Press.
- ↑ Hall, R (2002). "Cenozoic geological and plate tectonic evolution of SE Asia and the SW Pacific: computer-based reconstructions, model and animations". Asian Earth Sciences: 353-431.
- ↑ Ransley, T. R; Smerdon (01-01-2015). "Hydrogeological Atlas of the Great Artesian Basin". Commonwealth of Australia (Geoscience Australia) (dalam bahasa Inggris). Geoscience Australia. doi:10.11636/9781925124668. Diakses tanggal 26 Januari 2026. ;
- ↑ Vacher, H. Leonard (2004). "Geology and Hydrogeology of Carbonate Islands.Edition: 1" (dalam bahasa Inggris). Elsevier, Academic Press. ISSN 0070-4571.
- ↑ D Woodroffe, Colin (05 August 2008). "The geomorphology of the Great Barrier Reef: development, diversity and change - by David Hopley, Scott G Smithers and Kevin E Parnell and A reef in time: the Great Barrier Reef from beginning to end - by J E N Veron" (PDF). Wiley Online Library (dalam bahasa Inggris). Wiley for the Royal Geographical Society (RGS-IBG).: 416-417. doi:10.1111/j.1475-4762.2008.840_4. Diakses tanggal 26 Januari 2026.
- ↑ Boyd, Ron last2=Robert W.; Brian A. last3=Zaitlin. Posamentier, Henry W.; Walker, Roger G. (ed.). Estuarine and Incised-Valley Facies Models (dalam bahasa Inggris). ISBN 9781565761216. Diakses tanggal 26 Januari 2026. ; ; Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ↑ Davis Jr, Richard (2003). "11-12". Beaches and Coasts (dalam bahasa Inggris). UK: Blackwell Publishing. ISBN 0-632-04308-3. Diakses tanggal 27 Januari 2026.
- ↑ Ollier, C (1982). "The Great Escarpment of Eastern Australia: Tectonic and Geomorphic Evolution. In Journal of the Geological Society of Australia,". Geological Society of Australia (dalam bahasa Inggris). 29(1-2): 13-23.
- ↑ Nunn, Patrick D. (January 1, 1994). Oceanic Islands (The Natural Environment, No 1). Blackwell Pub. ISBN 978-0631178118.
- ↑ [DCCEEW https://www.dcceew.gov.au The National Water Initiative—securing Australia's water future: 2011 assessment The National Water Initiative—securing Australia’s water future: 2011 assessment] (PDF) (dalam bahasa Inggris). Canberra. September 2011. ISBN 978-1-921853-27-2. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
- ↑ "Review: The evolving understanding of the Great Artesian Basin (Australia), from discovery to current hydrogeological interpretations". Springer Nature (dalam bahasa Inggris): 455-478. 2020. doi:10.1007/s10040-019-02036-6. Diakses tanggal 27 Januari 2026.
- ↑ Climate Prediction Center (30 June 2014). "ENSO: Recent Evolution, Current Status and Predictions" (PDF). National Oceanic and Atmospheric Administration. hlm. 5, 19–20. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 March 2005. Diakses tanggal 30 June 2014.
- ↑ Hughes, Terence Patrick (April 2018). "Global warming transforms coral reef assemblages" (PDF). Research Gate (dalam bahasa Inggris) (556 (7702)): 492-496. doi:10.1038/s41586-018-0041-2. Diakses tanggal 27 Januari 2026.
- ↑ PDF Effects of Climate Change on Ocean Acidification Relevant to the Pacific Islands "Effects of Climate Change on Ocean Acidification Relevant to the Pacific Islands" (PDF) (dalam bahasa Inggris). Australia. Diakses tanggal 27 Januari 2026. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ "Pacific Approach, 2021-2025" (PDF). Asian Development Bank (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 Januari 2026.
- ↑ Savidge first1=Julie A. (01 Juni 1987). "Extinction of an Island Forest Avifauna by an Introduced Snake". Ecological Society of America (dalam bahasa Inggris). 68 (3): 660-668. doi:10.2307/1938471. Diakses tanggal 28 Januari 2026. ; Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- 1 2 "Strategic Report: Environment, Peace and Security: A Convergence of Threats" (PDF). United Nations Environment Programme. Diakses tanggal 29 Januari 2026. ;
- ↑ "Tasmanian Wilderness". UNESCO WHC. Diakses tanggal 29 Januari 2026.
- ↑ Coad, Lauren; et al. "Widespread shortfalls in protected area resourcing undermine efforts to conserve biodiversity". University of Copenhagen (dalam bahasa Inggris). 17 (5): 259-264. doi:10.1002/fee.2042. ISSN 1540-9295. Diakses tanggal 29 Januari 2026.
- ↑ Lamb, David. "Widening gap between expectations and practice in Australian minesite rehabilitation". Ecological Management & Restoration (dalam bahasa Inggris). 16 (3): 186-195. doi:10.1111/emr.12179. Diakses tanggal 29 Januari 2026. ; ; ;
- ↑ "International Renewable Energy Agency". IRENA. Diakses tanggal 29 Januari 2026.
- ↑ Climate Action Tracker (CAT). (dalam bahasa Inggris) https://zerotracker.net/. Diakses tanggal 29 Januari 2026.
- ↑ "Urban population (% of total population) - Australia". World Bank. Diakses tanggal 29 Januari 2026.
| Negara berdaulat | |
|---|---|
| Dependensi dan wilayah lain | |
| Berdasarkan wilayah | |
1 Terkadang dimasukkan ke Asia. | |