Dalam struktur komando Gakukotai setiap sekolah dijadikan markas 中隊 chūtai (kompi), sementara setiap ruangan kelas merupakan 小隊 shōtai (seksi). Setiap shōtai memiliki satuan-satuan regu yang disebut sebagai 部隊 butai (pleton).[2] Ada perbedaan dalam melatih pelajar putra dan putri. Pelajar putra lebih mendapatkan pelatihan yang berat, seperti pelatihan fisik, menembak, stategi, dan semua latihan dasar militer yang diperlukan untuk menciptakan serdadu yang hebat bagi Kekaisaran Jepang. Pelajar putra juga diberi senapan Arisaka tiruan untuk latihan awal mereka yang diberinama 木銃 mokuju, sementara pemimpin kelas diberikan katana tiruan dari kayu seperti para komandan tentara Kekaisaran Jepang pada umumnya. Kemudian untuk pelatihan bagi pelajar putri lebih kepada pelatihan dasar militer yang ringan, seperti pelatihan menjadi medis, membuat dapur umum, dan penyantera komunikasi musuh.[1]
Referensi
12Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2013) hal. 31