PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia (GMF), anak perusahaan Garuda Indonesia, merupakan perusahaan perawatan, perbaikan, dan overhaul pesawat asal Indonesia. Berkantor pusat di Bandara Internasional Soekarno–Hatta, GMF menyediakan layanan perawatan pesawat terpadu, meliputi perawatan airframe, engine, component, line maintenance, dan cabin maintenance. Seiring dengan pengembangan kapabilitasnya, GMF juga menyediakan layanan perawatan untuk AOG Support, mesin turbin gas industri, dan pesawat pertahanan. GMF turut mengembangkan inisiatif kedirgantaraan berkelanjutan di Kertajati, Jawa Barat. Pada tahun buku 2024, yang dipublikasikan pada Juni 2025, GMF mencatatkan pendapatan usaha sebesar USD 421,22 juta dan laba bersih sebesar USD 26,90 juta.
Sejarah
GMF berawal pada tahun 1949 sebagai divisi teknik Garuda Indonesia. Pada Agustus 2002, GMF resmi menjadi anak perusahaan MRO yang berdiri secara independen dengan nama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. Pada pertengahan 2010-an, perusahaan meresmikan Hangar 4 di Bandara Internasional Soekarno–Hatta, salah satu hangar khusus pesawat narrow-body terbesar di dunia, yang turut meningkatkan kapasitas base maintenance GMF.
Memasuki tahun 2020-an, GMF melakukan diversifikasi bisnis dan memperluas kemitraan. Pada Indo Defence 2024, GMF mengumumkan kerja sama dengan Turkish Aerospace Indonesia, Boeing, PT Inspirasi Putera Mandiri, Autocraft untuk program E20+ eVTOL, serta Dassault Aviation. Langkah ini menandai penguatan peran GMF dalam sektor pertahanan dan solusi kedirgantaraan berteknologi maju.
In April 2025, GMF, BIJB, and Bappenas inaugurated a strategic partnership to develop the Sustainable Aerospace Park Kertajati, with GMF as the anchor tenant under a joint-operation scheme, targeting an integrated national aerospace ecosystem.[2]
Pada MRO Asia-Pasifik 2025 di Singapura, GMF memperkuat kolaborasi dengan Honeywell melalui program perbaikan berbasis tarif tetap untuk komponen APU dan LRU, serta bermitra dengan penyedia interior kabin dan maskapai penerbangan regional.[3]
Pada Oktober 2025, GMF menandatangani kemitraan strategis dengan Pelita Air untuk memanfaatkan hanggar Pondok Cabe dalam kegiatan perawatan, termasuk pesawat ATR dan helikopter Bell 412, sekaligus memperluas cakupan layanan untuk pesawat rotary-wing.
Layanan dan Segmen Bisnis
Perawatan dan Modifikasi Pesawat Komersial Mencakup base maintenance (perawatan berat) dan line maintenance (perawatan ringan) untuk berbagai tipe pesawat Airbus, Boeing, dan ATR. Layanan ini dilakukan di main base GMF di Bandara Internasional Soekarno–Hatta serta 42 line maintenance station lainnya di seluruh Indonesia. GMF juga telah mengantongi persetujuan dari berbagai regulator, termasuk FAA dan EASA, serta DGCA Indonesia dan otoritas lainnya.
Perawatan dan Modifikasi Pesawat Pertahanan Layanan perawatan dan modifikasi untuk operator negara dan pertahanan, mencakup pemeriksaan mendalam pada pesawat C-130 Series Hercules, Boeing 737 Series, Airbus A400M, Dassault Falcon 8X, Airbus Helicopter Super Puma AS332LI, helikopter Bell 412 TNI Angkatan Darat, serta armada pesawat fixed-wing (sayap tetap) dalam program nasional.[4][5]
Layanan Power Services Solusi terkait komponen dan mesin, termasuk program perbaikan APU dan LRU; kolaborasi dengan Honeywell memperkuat penawaran perbaikan komponen regional.[6]
Dukungan AOG Layanan perawatan respons cepat untuk mengurangi waktu henti pesawat, didukung oleh tim mobile dan mitra logistik.[7]
GMF juga menjajaki teknologi masa depan, termasuk partisipasinya dalam pengembangan E20+ eVTOL serta solusi kedirgantaraan ramah lingkungan lainnya yang terkait dengan inisiatif Kertajati.
Fasilitas perawatan utama GMF berlokasi di Bandara Internasional Soekarno–Hatta, yang terdiri dari empat hanggar utama dan berbagai bengkel khusus. Setiap hanggar dirancang untuk melayani jenis pesawat dan tingkat perawatan yang berbeda.
Hanggar 1 memiliki luas sekitar 22.000 meter persegi dan dilengkapi dengan docking platform khusus untuk perawatan berat pesawat berbadan lebar. Hanggar ini memiliki dua jalur yang dapat menampung pesawat berbadan lebar secara bersamaan.
Hanggar 2, dengan luas 23.000 meter persegi, dirancang untuk perawatan ringan hingga menengah, termasuk pemeriksaan tingkat A-Check. Fasilitas ini memiliki dua jalur untuk pesawat berbadan lebar dan enam jalur untuk pesawat berbadan sempit.
Hanggar 3 juga memiliki luas 23.000 meter persegi dan secara khusus dirancang untuk seri Airbus A330. Hanggar ini dilengkapi dengan docking platform khusus untuk perawatan berat, tiga jalur untuk pesawat Airbus A330, lima belas jalur untuk pesawat berbadan sempit, serta satu jalur tambahan untuk proses pengecatan pesawat.
Hanggar 4 merupakan fasilitas terbesar dengan luas mencapai 66.940 meter persegi dan dikhususkan untuk pesawat berbadan sempit. Hanggar ini diakui sebagai salah satu hanggar pesawat berbadan sempit terbesar di dunia dan mampu menampung hingga enam belas pesawat berbadan sempit secara bersamaan, dengan satu jalur yang didedikasikan untuk kegiatan pengecatan pesawat.
Untuk line maintenance (perawatan rutin), GMF mengoperasikan 43 line maintenance station di seluruh Indonesia untuk mendukung perbaikan ringan dan kesiapan operasional pesawat. Di Jawa Barat, Kawasan Industri Dirgantara Berkelanjutan Kertajati direncanakan sebagai pusat terintegrasi untuk MRO, pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta dukungan manufaktur, dengan GMF sebagai tenant utama.
Pelanggan dan Jangkauan Global
GMF melayani lebih dari 190 pelanggan di lebih dari 60 negara, termasuk maskapai penerbangan di kawasan Asia-Pasifik. Kerja sama terbaru yang diperkenalkan dalam MRO Asia-Pasifik 2025 meliputi Thai Vietjet Air, Cebu Pacific, dan Fiji Airways.
Kinerja Keuangan
Untuk tahun buku 2024, yang disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Juni 2025, GMF mencatat pendapatan sebesar USD 421,22 juta dan laba bersih sebesar USD 26,90 juta, meningkat dibandingkan kinerja tahun 2023. Perusahaan mengaitkan pertumbuhan ini dengan pemulihan pasar, efisiensi operasional, dan diversifikasi portofolio.[9]
Berdasarkan laporan keuangan yang diaudit per 31 Desember 2025, GMFI membukukan pendapatan sebesar USD 491,9 juta, mencerminkan peningkatan 16,8% secara tahunan (YoY). Laba bersih meningkat dari USD 26,9 juta pada tahun 2024 menjadi USD 33,9 juta pada tahun 2025, menandai pertumbuhan 26,3% secara tahunan.[10]
Manajemen
Per September 2025, struktur manajemen PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF) berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan pada 26 September 2025, adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Komisaris Utama / Komisaris Independen: Oki Yanuar
Komisaris Independen: Dean Arslan
Komisaris: Giring Ganesha Djumaryo
Komisaris: Sugiharto Prapto
Dewan Direksi
Direktur Utama: Andi Fahrurrozi
Direktur Manajemen Dasar: Bobi Gumelar Respati
Direktur Operasi Lini: Endang Tardiana
Direktur Sumber Daya Manusia: Mitra Piranti
Direktur Keuangan: Tri Hartono
Perkembangan Terbaru
Langkah Penguatan Modal Pada 28 Oktober 2024, GMF mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk mempercepat penerbitan hak guna memperkuat struktur permodalan perusahaan. Pada 24 Oktober 2025, RUPSLB menyetujui kontribusi aset strategis dalam bentuk non-tunai dari PT Angkasa Pura Indonesia, termasuk lahan seluas 972.123 meter persegi di kawasan Soekarno–Hatta, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan ekuitas GMF menjadi positif.[11]
Proyek Pertahanan GMF memperluas portofolio defense MRO melalui penyelesaian heavy check keempat helikopter Bell 412 milik TNI Angkatan Darat pada September 2025, dengan unit tambahan yang telah dijadwalkan. [12]Pada 2026, kerja sama dengan Koharmatau semakin memperluas kapabilitas GMF dari fokus perawatan C-130 menuju multi-platform defense MRO.[13]
Kemitraan dan Teknologi GMF memperkuat kemitraan dan inisiatif teknologinya melalui program perbaikan berbasis tarif tetap bersama Honeywell serta kolaborasi dengan mitra cabin dan component di MRO Asia-Pacific 2025. Perusahaan juga melanjutkan kerangka kerja sama yang diumumkan pada Indo Defence 2024 dengan Turkish Aerospace Indonesia, Boeing, IPM, Autocraft untuk program E20+, dan Dassault Aviation.[14]
Kapasitas Domestik GMF memperkuat kapasitas domestiknya melalui kemitraan strategis dengan Pelita Air untuk mendukung kegiatan perawatan di Pondok Cabe.[15]
Aerospace Berkelanjutan GMF memperkuat agenda kedirgantaraan berkelanjutan melalui kemitraan Kertajati Aerospace Park bersama BIJB dan Bappenas, dengan GMF berperan sebagai tenant utama.
Pemulihan Pascapandemi
Pada Juli 2021, GMF merumuskan rencana pemulihan berkelanjutan yang berfokus pada pasar domestik, proyek konversi kargo, serta diversifikasi ke layanan tenaga listrik, pertahanan, dan pesawat jet bisnis, sambil menerapkan langkah-langkah pengelolaan biaya dan modal selama masa penurunan industri.[16]