Di atas sudah dijelaskan beberapa hal penting yang menurut Froebel harus diperhatikan dalam bidang pendidikan. Pada bagian ini akan dijabarkan mengenai Tujuan umum pendidikan, kurikulum yang ia bagi menjadi tiga, yaitu kurikulum untuk ibu, kurikulum untuk taman kanak-kanak dan kurikulum untuk sekolah dasar, lalu dijelaskan pula mengenai metodologi, peranan guru dan hubungan sekolah dan keluarga.
Kurikulum
Froebel membagi tahapan kurikulumnya untuk empat golongan / kelompok usia, yakni anak pra sekolah, taman kanak-kanak, anak kecil dan anak tanggung.
a. Pra sekolah
Ada banyak petunjuk yang mengatakan bahwa karya-karya tulis Foebel tentang kurikulum dapat dimanfaatkan oleh para ibu untuk mendidik anak pra sekolah. Namun, disini ada 4 pelajaran yang akan kita coba bahas dalam bukunya: Mottoes and Commenteries of Frobel’s Mother play. Dalam buku tersebut, setiap bab terdiri dari selembar lukisan dari ukiran kayu, sajak pendek dan penafsiran atas lukisan tersebut. Lukisannya berupa seorang anak pra sekolah yang terlibat dalam berbagai kegiatan sesuai asas swakaji, seperti:
- Dalam sajak berjudul “Si anak Laki-laki dan Bulan Purnama”. Sajak ini mendorong para ibu agar jangan memberikan jawaban yang salah atas pertanyaan dan keingintahuan anak, tetapi memberikan jawaban yang bijaksana, jujur dan mempunyai bibit pikiran yang dapat berkembang menjadi pemahaman ilmiah dikemudian hari.
- Dalam bab yang berjudul “Kerugian”. Melalui penggambaran keadaan yang sedemikian rupa Froebel menolong para ibu untuk menjelaskan kepada anak pra sekolah mengenai bertindak hati-hati, waspada dan tidak mudah tergoda.
- Pelajaran berjudul “Si Kecil sebagai Tukang Kebun”. Melalui kegiatan yang bermanfaat seperti berkebun, anak dapat dilatih untuk bertindak secara bertanggung jawab. Disini Froebel menekankan pada melibatkan anak pada suatu proses pembelajaran melalui kegiatan dan pengalaman.
- Pelajaran mengenai “Beribadah di Gereja”. Melalui permainan, anak memasuki diperkenalkan kepada hal-hal / konsep rohani tetapi bukan dengan penjelasan definitif dan sulit bagi pemikiran anak pra sekolah melainkan melalui ungkapan perasaan dan gerak tubuh (ekspresi) iman sang ibu yang terlihat oleh anak.
Melalui buku dan karyanya, Froebel menolong para ibu untuk ‘mendidik’ anak usia pra sekolah dengan memakai lukisan/gambar, sajak, cerita atau gerak tubuh sehingga anak memperoleh suasana belajar yang menyenangkan sambil mempersiapkan bagi pengalaman belajar yang lebih teratur dikemudian hari.
b. Masa Kanak-kanak (Taman Kanak-kanak)
Kurikulumnya pertama adalah pelbagai peristiwa dan pekerjaan sehari-hari yang terjadi dalam keluarga. Namun, bagi anak kecil, Froebel merencanakan kurikulum yang paling teratur, yang terdiri dari pemberian dan ketrampilan (kerajinan tangan), permainan yang berporos pada nyanyian yang diiringi dengan gerak badan sesuai dengan syair dan lagunya, pemeliharaan tanaman dan anjangsana.
- Pemberian (Gifts) terdiri dari 6 pemberian berupa sebuah kotak kayu yang didalamnya terdapat bermacam-macam barang yang akan menolong anak untuk secara bertahap belajar, mulai dari hal-hal yang sederhana sampai kepada yang makin konpleks.
a. Gift 1 – kotak kayu berisi 6 bola dari benang wol berwrna, merah, kuning, biru, jingga, hijau dan ungu, enam buah jarum, sepotong belebas kayu pendek yang sudah dilubangi -> anak belajar tentang konsep warna (dasar dan sekunder) dan belajar ‘melakukan sesuatu” dengan benda-benda tersebut.
b. Gift 2 – Sama dengan gift sebelumnya tetapi benang wol diganti dengan benda-benda yang bentuknya berbeda-beda, ada silinder, kubus dan bola. -> anak belajar sifat khas setiap benda dan cara memanfaatkannya secara kreatif melalui bermain yang terpimpin bersama guru.
c. Gift 3 – terdiri dari 8 kotak kubus yang sama besarnya yang membentuk sebuah kotak kubus yang besar. -> anak belajar menghitung, belajar tentang hubungan antara bagian dan keseluruhan.
d. Gift 4 – Sebuah kotak yang terbangun dari 4 balok persegi panjang, 2 kubus yang sama besar, empat balok persegi empat -> anak belajar walaupun benda-benda tersebut tidak sama bentuk dan ukurannya tetapi dapat membentuk satu kesatuan yaitu kubus yang besar.
e. Gift 5 – Bentuk kubus masih ada tetapi kali ini bentuknya lebih majemuk, terdiri dari kubus, kubus yang dipotong menjadi dua agar membentuk dua buah segitiga, kubus lain yang dipotong membentuk 4 segitiga -> anak belajar tentang hubungan-hubungan yang semakin sulit dan kompleks.
f. Gift 6 – Kotak berbentuk kubus tetapi bagian-bagiannya tidak lagi kubus atau bagian-bagain yang dapat dijadikan kubus -> menuntut pemahaman dan ketrampilan anak.
- Kerajinan Tangan – pengalaman belajar yang berporos pada penggunaan bahan yang dapat digunting, dilipat, dicat -> semua bahan yang dapat dibentuk kembali menurut kehendak anak dan dibimbing oleh guru. Tujuannya mempersiapkan anak untuk tugas dikemudian hari, memakai dan memanfaatkan peralatan serta perkakas yang ada. Disini sebenarnya Froebel juga telah menaruh perhatian pada pendidikan kejuruan.
- Nyanyian yang diiringi gerak badan – secara bersama melalui permainan, nyanyian dan gerakan badan anak memperoleh pengalaman yang menyenangkan secara pribadi tetapi juga belajar mempunyai sikap sosial yang selaras dan bagaimana bekerja sama dalam kelompok.
- Pemeliharaan Tanaman (atau bianatang kecil) dan Anjangsana. – anak diajar untuk mengamati, memperdalam pengetahuannya, memelihara dan bertanggung jawab melalui pengalamannya.
c. Masa Anak Tanggung (Sekolah Dasar)
Kurikulumnya terdiri dari empat pelajaran utama: agama, ilmu pengetahuan alam dan matematika, bahasa dan seni, serta karya seni.
Agama – menurut Froebel, pengalaman agama terlampau penting untuk untuk dihafalakan saja, oleh karena itu ia tidak mau mengajarkan isi katekismus tetapi ia memaberikan empat pengalaman yang tergolong dalam vak pendidikan agama: nyanyian rohani dan doa perbendaharaan gereja, peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus, tabiat Allah yang dinyatakan dalam segala ciptaanNya, serta bimbingan yang menolong anak didik menang atas kesulitan.
Di sini Froebel membuka pikiran kita bahwa pendidikan agama bukan hanya sekadar pengetahuan tentang agama kita sendiri tetapi sebuah pemahaman yang bertumbuh sejalan dengan proses kehidupan. Bahkan melaluinya anak diajar untuk merasakan kehadiran Allah dan melibatkanNya dalam pengalaman wajar yang wajib ia atasi.
Selain menekankan kembali bahwa alam sebagai pengejawantahan Allah dan sifat rohani dari seluruhnya, Froebel juga tidak memakai buku sebagai sumber pengetahuan bagi anak didik melainkan segala hal yang ada di alam itu sendiri yang dipakai untuk menggali dan memperoleh pengetahuan. Dengan bimbingan guru, anak didik didorong untuk mencari dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Dalam hal matematika, Froebel menekankan pada ilmu hitung.
Bahasa filosofi nya adalah melalui bahasa seorang anak belajar bagaimana menyatakan sifat dan makna kehidupan.Belajar membaca, menulis, menambah perbendaharaan kata, mengarang cerita yang berasal dari pengalaman anak (menyampaikan gagasan). Adalah bentuk-bentuk pendidikan bahasa bagi anak sekolah dasar.
Seni dan karya seni-> melalui menggambar, mengecat dan membuat benda-benda dari tanah liat, anak diajar untuk mengungkapkan perasaannya. Bidang ini sama bobotnya dengan bidang pelajaran yang lain karena melalui pengalaman belajar seni ini anak mampu mengekspresikan pemahaman dan pengetahuannya.