Latar belakang
Sului lahir di Tering yang bersisi dengan Sungai Mahakam dari ayah Petrus Hajang Hau dan ibu Elisabet Pinaang Muwat, dan saat kelahirannya ia diberi nama Hibau, kemudian namanya diubah karena hingga berusia dua tahun, ia kerap sakit menjadi Sului yang dalam bahasa setempat berarti "tusukan".
Ayah dan ibu Sului masih memeluk kepercayaan tradisional. Sementara, telah berdiri Gereja Katolik Keluarga Kudus, dan di sana Sului dibaptis dengan nama Florentinus pada 3 April 1958.
Pendidikan
Sului menyelesaikan pendidikan dasar di SD Katolik Tering yang merupakan satu-satunya sekolah di desa. Ketika kelas lima, ia pernah tinggal kelas, karena sempat tidak masuk sekolah akibat terlalu asyik bermain di sebuah pemotongan kayu. Pada tahun 1962, ia lulus dan pergi ke Samarinda untuk melanjutkan pendidikan di SMP Katolik WR Soepratman Samarinda.
Setelah lulus SMP, ia melanjutkan ke Seminari Menengah Santo Yosep Samarinda. Di sana ia menguasai bahasa Latin, liturgi, hingga bahasa Inggris. Sului kemudian lulus SMA Katolik pada 1968 sekaligus menyelesaikan seminari menengah. Ia kemudian melanjutkan ke Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Yogyakarta.
Ia kemudian memutuskan untuk masuk ke Biara Misionaris Keluarga Kudus (MSF).
Karier
Sului ditahbiskan menjadi Imam pada 6 Februari 1976. Ia kemudian ditugaskan ke tempat terpencil di hulu Sungai Mahakam, tepatnya di Long Pahangai, Kutai Barat pada 1976 yang mayoritas penduduknya beragama Katolik. Setelah empat tahun bertugas, ia ditugaskan di Samarinda pada 1980.
Ketika Mgr. Michael Cornelis C. Coomans, M.S.F. menjadi Uskup, pada awal 1990-an, Sului menjadi wakilnya, dan ketika Mgr. Choomans meninggal dunia, Sului menggantikannya. Ia ditunjuk pada 5 April 1993 menjadi Uskup Samarinda, dan menjadikannya uskup Indonesia ketiga yang juga berdarah Dayak, sementara yang pertama adalah Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, O.F.M. Cap dan yang kedua adalah Mgr. Yulius Aloysius Husin M.S.F. Ia ditahbiskan menjadi Uskup pada 21 November 1993, oleh Mgr. Yulius Aloysius Husin, M.S.F., Uskup Palangkaraya menjadi Uskup Penahbis Utama, sementara Mgr. Hieronymus Herculanus Bumbun, OFM.Cap. Uskup Agung Pontianak dan Mgr. Wilhelmus Joannes Demarteau, M.S.F., Vikaris Apostolik Banjarmasin menjadi Uskup Ko-konsekrator.
Seiring dengan berubahnya status Keuskupan Samarinda menjadi Keuskupan Agung Samarinda pada 2003, Sului kemudian menjadi Uskup Agung.
Selama hidupnya, ia menjadi Uskup Ko-konsekrator untuk tiga Uskup, yaitu: Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF pada tahun 2001, Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF pada tahun 2002, dan Mgr. Petrus Boddeng Timang pada tahun 2008.