Plot
Im Deok-kyu adalah seorang ayah tunggal yang bekerja sebagai pemilik kedai mie yang tidak terlalu memiliki banyak pelanggan. Deok-kyu dulu adalah petarung paling ditakuti saat SMA, tetapi karena suatu kejadian, dia mulai menjalani hidup dengan menghindari kekerasan. Suatu hari ia ditawari oleh seorang produser (Hong Kyu-min) untuk mengikuti “Fist of Legend”, sebuah acara reality show seni bela diri campuran yang mempertemukan para mantan jagoan sekolah dari berbagai daerah untuk saling bertarung demi hadiah uang yang besar. Saat berkunjung ke rumah ibu mertuanya, anak perempuannya (Lim Soo-bin) memintanya untuk menemaninya ke suatu tempat. Soo-bin ternyata baru saja melukai salah satu teman sekolahnya hingga sampai harus dirawat di rumah sakit. Deok-kyu menemui keluarga anak itu dan meminta maaf. Anaknya yang kecewa dengan ayahnya yang bersikap lembek ingin agar ayahnya punya banyak uang tapi meragukannya karena mendengar kabar bahwa ayahnya bahkan tidak punya cukup uang untuk membayar biaya sewa kedai mie miliknya. Tertekan dengan himpitan ekonomi dan ingin punya hubungan yang lebih baik dengan Soo-bin, Deok-kyu memutuskan untuk menerima tawaran bertarung di acara “Fist of Legend”, dan berhasil memenangkan pertandingan pertamanya.
Pada pertandingan selanjutnya, Doek-kyo harus bertarung melawan Shin Jae-seok, seorang atlit profesional yang sangat dikenalnya demi hadiah ₩20 juta. Doek-kyo berhasil menang dalam pertandingan tersebut dan memutuskan untuk berhenti. Berkat kemenangan tersebut, dia mulai terkenal, sehingga kedai mie miliknya mendadak menjadi sangat ramai pengunjung. Mengetahui Doek-kyo berhenti setelah melakukan 1 pertandingan, ibu mertuanya mendorongnya untuk kembali bertanding di acara reality show tersebut. Doek-kyo pun kembali bertanding dan memenangkan beberapa pertandingan berikutnya.
Dalam kilas balik, terungkap bahwa pada masa SMA, Doek-kyo adalah siswa yang terkenal karena keberanian dan kekuatannya. Doek-kyo memiliki 2 orang sahabat, Lee Sang-hon dan Jin-ho. Doek-kyo sendiri adalah seorang atlit bela diri yang mengikuti berbagai kejuaraan bela diri. Suatu hari, saat pulang dari latihan, dia bertemu dengan gerombolan anak SMA lain yang sedang memukuli beberapa anak, dan salah satunya adalah teman latihannya. Doek-kyo meminta pemukulan tersebut dihentikan, sehingga membuat gerombolan anak SMA lain tersebut malah mengeroyoknya. Namun, walaupun dikeroyok, justru Doek-kyo yang berhasil menghajar mereka semua. Pimpinan gerombolan tersebut ternyata adalah Jae-seok (petarung kedua yang dilawan Doek-kyo di acara “Fist of Legend”). Karena tidak terima dihajar seorang diri, Jae-sok menuntut balas dengan datang ke sekolah Doek-kyo. Sahabat Doek-kyo, Lee Sang-hoon, yang tidak ingin Doek-kyo terkena masalah dan bisa berkompetisi di Olimpiade, pasang badan untuk meladeninya. Jae-seok tidak terima dan tetap ingin membalas dendam kepada Doek-kyo. Doek-kyo akhirnya memilih untuk membiarkan dirinya dihajar Jae-sok tanpa perlawanan. Hal tersebut membuat Jae-sok melunak setelah memukulnya sehingga mereka mulai bersahabat. Masalah terjadi saat suatu hari mereka berempat mencoba masuk ke sebuah klub malam. Tidak saja dilarang, penjaga klub tersebut memancing kemarahan dengan menyebut ibu Doek-kyo sebagai pelacur. Doek-kyo pun menghajar 2 penjaga klub malam tersebut. Kejadian tersebut menyebabkan terjadinya aksi balas membalas antara kelompok Doek-kyo dengan geng para penjaga klub malam tersebut, sampai suatu hari para polisi menangkap dan memenjarakan mereka semua. Di penjara, Jin-ho yang anak orang kaya segera dibebaskan oleh ayahnya. Polisi korup yang bertugas kemudian memperkenalkan Doek-kyo, Jaek-so dan Sang-hon ke seorang pria yang memaksa mereka untuk melakukan sebuah misi bila tidak ingin terus di penjara. Misi tersebut ternyata adalah menusuk seorang pria di sebuah rumah susun. Walaupun Doek-kyo dan Sang-hon enggan melakukannya, Jaek-so akhirnya menusuk orang tersebut. Tidak lama kemudian polisi datang dan kasus tersebut membuat mereka mendekam lama di penjara.
Di masa sekarang, Soo-bin dirundung oleh teman-teman sekolahnya, membuat Doek-kyo menemui anak-anak yang menjadi pelakunya. Terdesak dengan keadaan, akhirnya Doek-kyo menghajar anak-anak tersebut. Sepulang mereka di rumah, Doek-kyo mengaku kepada Soo-bin bahwa menggunakan kekerasan untuk memecahkan masalah adalah kesalahan besar yang dilakukannya pada masa mudanya. Doek-kyo juga sangat menyesal telah gagal melindungi Soo-bin. Pengakuan tersebut membuat hati Soo-bin melunak dan mulai bersimpati pada ayahnya.
Di acara reality show, Doek-kyo harus berhadapan dengan Sang-hon, sahabat masa kecilnya yang bekerja untuk Jin-ho saat dewasa. Sang-hon berhasil mengalahkan Doek-kyo yang tampak setengah hati melawannya. Karena sikap Jin-ho yang semakin lama tidak bisa ditolerir, Sang-hon memutuskan untuk meninggalkannya. Di tempat lain, Kyu-min mempunyai ide untuk mengadakan acara “Pertarungan Para Legenda” dengan 8 petarung terbaik yang akan dipilih dari semua petarung yang pernah berlaga. Doek-kyo, Sang-hon dan Jae-sok terpilih sebagai 3 dari 8 petarung terpilih dalam acara yang bernama berhadiah $200 juta itu. Doek-kyo yang semula enggan untuk ikut, akhirnya memutuskan untuk ikut setelah didorong oleh Soo-bin. Beberapa hari sebelum pertandingan, seorang pria menawarkan Doek-kyo untuk sengaja mengalah dengan imbalan yang sama dengan hadiah acara. Walaupun ragu, Doek-kyo tetap mengambil uang tersebut.
Di hari pertandingan, petarung bernama Choi Joong-man yang disuntik obat tampil mendominasi dan mengalahkan lawan-lawannya, termasuk Jae-sok yang mengalah sesuai skenario. Kompetisi menyisakan Doek-kyo, Joong-man dan Sang-hon sebagai pertandingan puncak. Pada saat Doek-kyo bertarung melawan Joong-man, Jae-sok mengembalikan uang imbalan Doek-kyo kepada penyuapnya. Doek-kyo berhasil mengalahkan Joong-man, tapi memutuskan untuk berhenti bertarung dan melewatkan pertarungan akhir melawan Sang-hon yang tengah cedera kaki. Sang-hon meyakinkan Kyu-min untuk membiarkan acara berakhir dengan dia sebagai pemenang tanpa pertarungan dan setuju untuk membagi uang hadiah tersebut dengan Doek-kyo.