Pada November 2020, Febriana merilis film dokumenter perdananya Tanah Ibu Kami (Our Mother's Land) yang diproduksi oleh Mongabay dan The Gecko Project di bawah arahan sutradara Leo Plunkett. Selain berperan sebagai narator, Febriana juga mendapat kredit sebagai penulis naskah dan produser.[4][5][6]
Pada Januari 2021, film Tanah Ibu Kami memenangkan penghargaan Spirit of Activism di Wild & Scenic Film Festival ke-19.[6]
Kontroversi
Febriana kerap menerima intimidasi akibat tulisan-tulisannya yang membahas tragedi pembantaian masal 1965 dan juga kritis terhadap kebijakan pemerintah Indonesia di Papua. Pada 2016, Febriana diusir oleh sejumlah orang dari Front Pembela Islam (FPI) ketika sedang mewawancarai narasumber dalam sebuah simposium dengan topik terkait Partai Komunis Indonesia (PKI).[7] Pada 2019, Febriana menjadi korban doxing oleh sejumlah akun anonim di media sosial Twitter.[8] Pembocoran informasi pribadi yang berujung ancaman terhadap keselamatan dirinya tersebut membuat Febriana menunda sejumlah laporan investigasi terkait situasi konflik di Papua.[8]
↑Society of Publishers Asia (2019-05). "SOPA 2019 Awards Winner List"(PDF). SOPA. Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2022-12-20. Diakses tanggal 2021-01-20.;