Fagot atau basun (bahasa Inggris:bassooncode: en is deprecated ) adalah sebuah jenis alat musik tiup yang terbuat dari kayu.[1] Fagot terbagi atas pipa panjang yang berbentuk "U", dan logam berbentuk "S" dengan lidah ganda.[1] Alat musik ini memiliki sebuah corong (bore) kerucut. Dan panjang alat musik ini adalah sekitar 8 kaki (2.5 m).[2] Alat musik terbagi atas lima bagian yang terpasang menggunakan desain "duri".[2] Ada dua jenis fagot yang banyak dibuat, yaitu yang mempunyai corong panjang, dan corong pendek. Fagot dengan corong panjang menghasilkan nada yang lebih "gelap".[2] Lebih jauh lagi, fagot bercorong panjang, secara umum, dipercaya mampu menghasilkan bunyi dengan intonasi yang lebih nyata.[2] Di sisi lain, fagot dengan corong pendek cenderung lebih sulit untuk dikendalikan. Oleh karena itu alat musik fagot jenis ini, lebih sulit dikendalikan.[2] Alat musik ini berperan dalam menghasilkan nada rendah.[2] Fagot tidak mampu beroprasi lebih dari satu oktaf tanpa mengorbankan kualitas suara. Alat musik fagot dinilai mempunyai kesamaan sejarah, karakteristik mekanis, dan karakteristik fisik dengan alat musik tiup oboe.[2]
Komponis Indonesia yang paling penting kontribusinya untuk fagot adalah Ananda Sukarlan dengan sejumlah karya-karyanya, terutama Trio untuk flute, fagot dan piano "A Communication Breakdown" (2017, berdasarkan sebuah lukisan Kukuh Nuswantoro pemenang UOB Painting of the Year) dan trio untuk biola, fagot dan piano "A Curious Coincidence of a Tune Appearance in Austria & Scotland in the Night-Time" (2026, sebuah pesanan atau commission dari Kementrian Luar Negeri Austria untuk hubungan diplomasi kebudayaan Austria - Indonesia).
Referensi
12(Indonesia)Hassan Shadily & Redaksi Ensiklopedi Indonesia (Red & Peny)., Ensiklopedi Indonesia Jilid 2 (CES-HAM). Jakarta: Ichtiar Baru-van Hoeve