Erni Suyanti Musabine (lahir 14 September 1975) adalah seorang dokter hewan Indonesia yang menjadi juru rawat harimau sumatera korban konflik dan perburuan ilegal. Ia telah berkarier di bidang konservasi satwa liar sejak tahun 2007 dan bekerja di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Selain menjadi juru rawat harimau sumatera, ia juga memiliki pengalaman sebagai juru rawat orangutan dan gajah sumatra.[1][2][3]
Pendidikan
Yanti menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga, Surabaya pada tahun 2002. Selain itu, ia pernah mengikuti kursus pengobatan dan perawatan satwa liar di Universitas Murdoch, Perth pada tahun 2007 dan pelatihan pembiusan satwa liar di Zimbabwe pada tahun 2008.[4]
Karier
Yanti sudah aktif menjadi relawan sejak mahasiswa. Ia pernah mengikuti organisasi Mahasiswa Pecinta Alam dan Lembaga Swadaya Masyarakat di mana salah satu kegiatannya adalah melakukan studi konservasi satwa liar di beberapa taman nasional di Jawa Timur. Setelah lulus kuliah, ia pernah menjadi relawan dokter hewan di Wild Animal Rescue Centre di Petungsewu, Malang. Pada tahun 2003, ia bekerja di perusahaan tersebut sebagai koordinator dokter hewan untuk menangani berbagai spesies satwa liar terancam punah hasil penyitaan dari perdagangan ilegal, pemeliharaan ilegal, perburuan liar di wilayah Jawa Timur dan Bali.[5]
Selain aktif mengikuti kegiatan relawan dalam negeri, Yanti juga aktif mengikuti kegiatan relawan di luar negeri. Ia pernah menjadi relawan dokter hewan di Veterinary Department, Perth Zoo, Western Australia dan Australia Zoo Wildlife Hospital, Beerwah, Queensland, Australia pada tahun 2007 dan relawan dokter hewan di Animal Hospital Woodland Park Zoo di Seattle Washington, USA pada tahun 2013.[1]
Kemudian pada tahun 2004 hingga saat ini, ia pindah ke Bengkulu. Di sana ia bekerja di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menangani gajah di Pusat Konservasi Gajah Seblat. Pada tahun 2005-2009, ia pernah menjadi konsultan medis di Frankfurt Zoological Society - Sumatran Orangutan Conservation Programme yang bekerja untuk rehabilitasi orangutan Sumatera di wilayah Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Jambi. Pada tahun 2007, ia mulai melakukan penyelamatan terhadap harimau korban jerat pemburu liar dan perdagangan gelap di Bengkulu. Sejak itu, ia beralih menjadi dokter hewan sekaligus juru rawat harimau.[5]
Di samping itu, ia juga menjadi pelatih (trainer) bagi dokter hewan yang bekerja di Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di daerah rawan konflik dan perburuan ilegal harimau sumatera di bagian selatan Sumatera serta mahasiswa kedokteran hewan. Lebih lanjut, Yanti juga banyak berkontribusi dalam kegiatan penyadartahuan masyarakat di daerah rawan konflik. Dalam kegiatan ini, ia mengedukasi bagaimana cara menghindari dan menangani konflik dengan harimau sumatra.[1]