Empat usaha benar
|
Empat usaha benar |
|
| |
|
belum muncul |
sudah muncul |
|
keadaan batin yang tidak bajik |
cegah |
tinggalkan |
keadaan batin yang bajik |
bangkitkan |
pertahankan |
| |
|
|
Empat usaha benar (cattārimāni sammappadhānāni) didefinisikan dengan frasa tradisional berikut:
- "Ada kasus di mana seorang biku memunculkan nafsu-keinginan, berupaya, mengerahkan kegigihan, meneguhkan & mengerahkan niatnya demi:
- "[i] tidak munculnya [anuppādāya] kualitas-kualitas buruk dan tidak bajik yang belum muncul.
- "[ii] ... ditinggalkannya [pahānāya] kualitas-kualitas buruk dan tidak bajik yang sudah muncul.
- "[iii] ... munculnya [uppādāya] kualitas-kualitas bajik yang belum muncul.
- "[iv] ... dipertahankannya [ṭhitiyā], tidak hilangnya, peningkatan, kelimpahan, pengembangan, & pencapaian puncak dari kualitas-kualitas bajik yang telah muncul."[2]
Penjabaran ini dikaitkan dengan Sang Buddha sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:
Rumusan ini juga merupakan bagian dari pemaparan panjang lebar oleh Y.M. Sāriputta ketika menjawab pertanyaan "Apakah Dhamma ini yang telah dibabarkan dengan baik oleh Sang Bhagavā [Buddha]?" (DN 33, Sangīti Sutta).[6] Selain itu, dalam sebuah bagian di Aṅguttaranikāya yang dikenal sebagai "Bagian Petikan Jari" (AN 1.51–60, Accharāsaṇghātavagga), Sang Buddha tercatat menyatakan bahwa, jika seorang biku melaksanakan salah satu dari empat usaha benar ini walau hanya sekejap (selama "petikan jari")[7] maka "ia berdiam dalam jhāna, telah melaksanakan tugasnya kepada Sang Guru, dan memakan dana makanan dari negara tanpa hutang budi."[8]
Penjabaran dua bagian yang serupa juga diberikan oleh Sang Buddha dalam SN 48.9, sekali lagi dalam konteks Lima Indra Spiritual (pañc'indriyāni), ketika Beliau menyatakan:
- "Dan apakah, para bhikkhu, indra kegigihan itu? Di sini, para bhikkhu, seorang siswa mulia berdiam dengan kegigihan yang dibangkitkan demi meninggalkan keadaan-keadaan tidak bajik dan memperoleh keadaan-keadaan bajik; ia kuat, teguh dalam usahanya, tidak melalaikan tanggung jawab untuk mengembangkan keadaan-keadaan yang bajik. Inilah indra-kegigihan."[9]
Apa yang merupakan kualitas yang "tidak terampil" atau "tidak bajik" (akusala) dan yang "terampil" atau "bajik" (kusala) dibahas lebih lanjut di dalam Abhidhammapiṭaka dan kitab-kitab komentar pasca-kanonik Pali (aṭṭhakathā).[10] Secara umum, keadaan-keadaan yang tidak bajik adalah tiga kekotoran batin (kilesa): keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan ketidaktahuan/delusi (moha).[11] Kualitas-kualitas bajik adalah kebalikan dari kekotoran batin tersebut: tanpa-keserakahan (alobha), tanpa-kebencian (adosa), dan tanpa-delusi (amoha).[12][13]