Emir Mohammed Ben Kalish Ezab dan Abdallah adalah seorang emir yang sangat mencintai putranya. Abdallah adalah seorang anak yang sangat badung dan selalu menebar teror dimanapun ia berada dan tidak pernah takut pada siapapun.
Emir Mohammed Ben Kalish Ezab dan Abdallah (bahasa Prancis:L'émir Mohammed Ben Kalish Ezab et Abdallahcode: fr is deprecated ) adalah dua tokoh dalam serial klasik Petualangan Tintin yang digambar dan ditulis oleh Hergé.
Perlu diperhatikan bahwa "Ben" dalam pengucapan bahasa Inggris adalah sama dengan kata bahasa Arab "bin" atau "ibn" yang berarti "anak dari ...", sebuah cara yang paling umum untuk menamai seseorang dalam bahasa Arab. Oleh karenanya apabila Hergé benar-benar mengikuti tata bahasa Arab maka Mohammed Ben Kalish Ezab seharusnya diterjemahkan sebagai Mohammed, anak dari Kalish Ezab. Namun ternyata nama tersebut hanyalah nama buatan seperti yang dijelaskan pada bagian akhir tulisan ini.
Mohammed Ben Kalish Ezab (bahasa Arab:محمد بن كليش عزبcode: ar is deprecated ) adalah emir dari negara fiktif Khemed, yang terletak di Semenanjung Arab.[1] Ia tinggal bersama putranya, Abdallah, di istananya di Hasch El Hemm, yang terletak tidak jauh dari ibu kota Wadesdah. Tidak ada informasi yang diberikan mengenai istrinya.[2]
Ia memiliki karakter yang sangat berubah-ubah, bahkan tidak stabil, mampu memuji putranya dengan berlebihan dan menggunakan kata-kata pujian yang berlebihan sebelum mengutuknya ketika menjadi korban leluconnya. Demikian pula, ia menjadi marah dingin sekecil apa pun ketika nama lawannya, Syekh Bab El Ehr, yang ingin menggulingkannya.[2] Sejarawan Pascal Ory menggambarkannya sebagai "seorang yang penuh kontradiksi, mampu beralih tanpa transisi dari kemarahan ke keramahan, kejam terhadap musuh-musuhnya tetapi ramah terhadap mereka yang ia hormati, dan, di atas segalanya, seorang ayah yang penuh kasih sayang".[3]
Dikenali dari kacamata bulat dan janggut hitamnya, Mohammed Ben Kalish Ezab mengenakan pakaian tradisional Semenanjung Arab: gamis putih, bisht berwarna gelap, dan keffieh.[4] Karakternya terinspirasi dari Raja Abdulaziz bin Saud, pendiri Arab Saudi pada tahun 1932, sedangkan putranya, Abdallah, terinspirasi dari Raja Faisal II, yang naik takhta Irak pada usia tiga tahun, pada tahun 1939.[5] Namanya diciptakan berdasarkan permainan kata: dalam bahasa Marollien, dialek Brussel yang digunakan Hergé selama masa kecilnya, "kaliche zap” berarti "jus akar manis".[6][7][8]
Abdallah
Abdallah (bahasa Arab:عبد اللهcode: ar is deprecated ) adalah seorang anak lelaki yang jagoan dalam hal memberi mimpi buruk bagi orang lain. Ia bahkan mendapatkan julukan sebagai "setan kecil" yang bandel, keras kepala, tak bisa diatur, badung dan tak takut apapun.[8]
Herge memilih foto Raja Faisal II dari Irak sebagai model untuk Abdallah. Seperti Abdallah, sang raja saat itu berusia sekitar enam tahun. Dalam salah satu lukisan potret diri Abdallah, ia digambarkan memegang gagang belati upacara, jubah, kafiyeh dan sandal. Pose itu disalin secara hati-hati dari potret Raja Faisal II yang ada di arsip Herge, dan itulah wajah resmi Abdallah yang pertama kali dilihat pembaca.[8]
Walaupun Raja Faisal II memiliki kesamaan fisik dengan Abdallah, tetapi karakter mereka sangatlah bertolak belakang. Abdallah adalah anak yang dimanjakan, tak bisa diatur dan tak bertanggung jawab. Ayahnya dan kadang-kadang Kapten Haddock sering dibuat murka oleh tingkah lakunya. Namun dilain kesempatan, mereka sering tersentuh karena sikap pangeran kecil itu. Raja Faisal II, sebaliknya, bersikap amat dewasa dan memiliki rasa tanggung jawab jauh di atas anak-anak seusianya.
Raja Faisal II pernah dipotret oleh Cecil Beaton, seorang fotografer kelas atas yang bergabung dengan Proche-Orient sebagai koresponden perang, di Baghdad di usianya yang berumur tujuh tahun. Cecil menggambarkan Sang Raja sebagai "anak kecil yang penuh perhatian, ramah, bertanggung jawab, sopan santun, menarik dan pandai". Secara keseluruhan, Faisal sangat berbeda dari Abdallah yang super badung.[8] Selain itu Faisal muda dibesarkan dengan baik dengan pengasuh dari Inggris dan pengajar dari Skotlandia yang dipasrahi untuk membesarkannya.
Berbeda dengan Abdallah, yang sejak penampilan pertamanya sampai yang terakhir dan melalui waktu sekitar tiga puluh tahun, dan tetap awet muda berumur enam tahun, model Abdallah mengalami nasib yang teramat tragis. Pada tahun 1958, Raja Faisal II yang masih muda, dan baru saja berusia 23 tahun, tewas ditembak mati di istananya di Baghdad. Bersamanya juga tewas paman dan perdana menterinya. Pembunuhan itu merupakan bagian dari kudeta Jenderal Kassem yang menjatuhkan kekuasan monarki.[8]
Selain Abdallah yang bandel, ada contoh lain bagi kenakalan, perbuatan iseng, trik, kejailan dan lelucon konyolnya yang tiada henti. Tokoh itu adalah Quick dan Flupke, dua anak jalanan Brussel yang badung yang diciptakan oleh Herge sejak Januari1930. Serial ini, Petualangan Quick dan Flupke, berhenti diproduksi pada musim dingin 1940. Namun, berbeda dengan pangeran yang bandel, pada dasarnya kedua bocah jalanan Brussel itu adalah anak-anak yang baik.[8]
Tokoh Anak-anak
Tintin sebenarnya menjadi simbol anak-anak dalam dunia orang dewasa, sehingga sangat sedikit tokoh anak-anak yang muncul dalam kisah Petualangan Tintin. Di antara yang sedikit itu, ada:
Abdallah selalu menyebarkan teror kemanapun ia pergi. Teror yang suka ditebarnya adalah lelucon-lelucon klasik seperti menggunakan laba-laba mainan atau cerutu yang bisa meledak. Kapten Haddock sangat takut menghadapi bocah nakal ini sampai-sampai ia mempertanyakan mengenai teman Tintin, Zhang Zhong-Ren, dalam buku Tintin di Tibet. Ia bertanya pada Tintin, "Apakah Zhang Zhong-Ren seperti Abdallah?" Tintin menjawab bahwa sifat Zhang Zhong-Ren sangat bertolak-belakang dengan Abdallah. Tanpa mengindahkan ketakutan Kapten Haddock, Emir Mohammed Ben Kalish Ezab mengirimkan Abdallah untuk tinggal bersama Kapten Haddock di Puri Moulinsart ketika terjadi huru-hara di Khemed.
Beberapa teror yang pernah dilakukannya adalah:
Semprotan air ke Tintin, mengawali perkenalan mereka, seperti yang tergambarkan dalam kisah Di Negeri Emas Hitam.
Namun walaupun sangat badung, Abdallah sangat dikenang dan terlihat bahwa saat Herge menciptakan tokoh, terlihat dia selalu sulit berpisah dari tokoh itu dan memakainya berulang-ulang, demi kesenangannya pribadi.[8] Seperti tokoh Abdallah ini yang muncul di saat-saat yang tak terduga, tetapi ada maksudnya. Abdallah juga pernah muncul dalam kisah Perjalanan ke Bulan yang diwakili oleh ular mainannya dalam kamera tipuan yang dipergunakan Kapten Haddock untuk mengembalikan ingatan Profesor Lakmus, di mana kamera itu diambilnya dari Abdallah. "Kita coba ini. Kamera tipuan Abdallah.", itulah satu-satunya saat namanya disebut dalam petualangan itu.
Selain itu, dalam kisah Tintin di Tibet, Kapten Haddock yang duduk di teras hotel, menanyakan kepribadian teman CinaTintin dan salah menyebut namanya, "Ya, tetapi... Zhêng ini, ia tidak seperti Abdallah si monster, khan?".
Kemunculan terakhir dari Abdallah adalah Tintin dan Alpha-Art di mana disana ia menebar teror sebagaimana biasanya. Dan jika Herge bisa menyelesaikan kisah ini, rasanya petualangan yang satu itu akan penuh dengan kenakalan Abdallah[8]
Rujukan
↑Nattiez, Renaud (2017). Le dictionnaire Tintin. Honoré Champion. hlm.19. ISBN9782745345653. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Sertillanges, Thomas. Abdallah, l'autre petit prince. Les personnages de Tintin dans l'histoire. hlm.41–42. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Ory, Pascal. Les Arabes, plus ou moins antipathiques mais jamais neutres. Le rire de Tintin. hlm.123. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Pajon, Léo (November 2015). Le mirage des sables. Éditions Moulinsart. hlm.160. ISBN978-2-8104-1564-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Couvreur, Daniel. Couvreur, Parlez-vous l'arumbaya ou le syldave (à la mode bruxelloise)?. Le rire de Tintin. hlm.100–101. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Préaux, Alain; Justens, Daniel (2012). Ketje de Bruxelles. Casterman. hlm.136. ISBN978-2-203-01716-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)