Sebenarnya, novel Serat Centhini adalah pengulangan dari novel lama, yang ditulis pada sekitar tahun 1800an. Serat Centhini yang mulai ditulis pada tahun 1814 – 1823 oleh Putera Mahkota Kerajaan Surakarta, Adipati Anom Amangkunagara III (Sunan Paku Buwana V) merupakan sebuah karya sastra besar di dunia. Setelah menjadi Raja Surakarta, Sunan Paku Buwana V mengutus tiga pujangga keraton yaitu Ranggasutrasna, Yasadipura II (Ranggawarsita I), dan Sastradipura untuk meneruskan membuat cerita tentang tanah Jawa melalui tembang-tembang Jawa. Hal ini sesuai dengan pernyataannya, ketika ia sedang berada di Yogyakarta, bahwa Serat Centhini adalah salah satu karya sastra terbesar di dunia yang keberadaannya mulai terancam sirna. Untuk itulah dia tertarik untuk menyadurnya ke dalam bahasa Prancis.[3]
Karya prosa yang diterbitkan pada tahun 2016 adalah Babad Ngalor Ngidul (berbahasa Indonesia), yang secara bersamaan juga diterbitkan dalam bahasa Prancis berjudul Tohu-Bohu. Kisahnya bercerita mengenai kejadian seputar letusan Gunung Merapi tahun 2010.