Eksplorasi Tiongkok meliputi perjalanan mengeksplorasi, menyelidiki, dan/atau menjelajah yang dilakukan oleh Tiongkok ke luar negeri, melalui darat dan laut, dari perjalanan Zhang Qian (diplomat Dinasti Han) ke Asia Tengah pada abad ke-2 SM hingga pelayaran harta karunDinasti Ming pada abad ke-15 yang melintasi Samudra Hindia dan mencapai Afrika Timur.
Penziarahan biksu Buddha, Xuanzang, dari Chang'an ke Nalanda di India tidak hanya meningkatkan pengetahuan tentang agama Buddha di Tiongkok, yang mengembalikan lebih dari 650 naskah, termasuk Sutra Hati dan Kesempurnaan Kebijaksanaan, serta menginspirasi novel yang sangat berpengaruh Perjalanan ke Barat, tapi juga mendorong penyebaran laporan Xuanzang berupa Catatan Tang Agung mengenai Kawasan Barat, suatu naskah yang menjadikan Tiongkok mengenal kota-kota India, seperti pelabuhan Kalikut, dan mencatat banyak detail mengenai Benggala abad ke-7.
Eksplorasi maritim
Laut Tiongkok Selatan
Sebelum kompas pelaut diciptakan oleh bangsa Tiongkok pada abad ke-11, navigasi mengandalkan angin muson musiman, yang bertiup dari zona ekuator ke utara pada musim panas dan ke selatan pada musim dingin.[2] Kemungkinan besar hal itu menjelaskan alasan para penjelajah Neolitikum dari Tiongkok daratan dengan mudah dapat berpindah ke pulau Taiwan pada zaman prasejarah.[2] Setelah mengalahkan negara terakhir dari Negara-Negara yang Berperang dan mengonsolidasikan satu kekaisaran Tiongkok sejati, angkatan laut Tiongkok dari periode Dinasti Qin (221–206 SM) membantu invasi darat ke Guangzhou dan utara Vietnam (pertama kali disebut Jiaozhi kemudian menjadi Annan,[2] separuh Vietnam bagian utara tidak sepenuhnya merdeka dari kekuasaan Tiongkok hingga tahun 938 M). Tahun 1975, hasil penggalian di Guangzhou menemukan satu galangan kapal kuno yang diperkirakan berasal dari awal Dinasti Han (202 SM - 220 M). Galangan itu memiliki tiga platform mampu membangun kapal-kapal berukuran panjang sekitar 30m (98ft), lebar 8m (26ft), dan dapat menahan beban 60 ton metrik.
Pada Zaman Tiga Negara, para penjelajah dari Wu Timur diketahui sering menjelajahi pantai. Penjelajah paling penting adalah Zhu Ying dan Kang Tai yang dikirim oleh Gubernur Guangzhou dan Jiaozhi Lü Dai pada awal abad ke-3. Keduanya menulis buku masing-masing, tapi hilang pada abad ke-11. Catatan tentang Keingintahuan mengenai Phnom (t扶南異物誌code: zh is deprecated , s扶南异物志code: zh is deprecated , Fúnán Yìwù Zhì) tulisan Zhu secara keseluruhan dan Kisah tentang Negara-Negara Asing Selama Periode Wu (t吳時外國傳code: zh is deprecated , s吴时外国传code: zh is deprecated , Wúshí Wàiguó Zhuàn) tulisan Kang hanya bertahan sebagai referensi yang tersebar pada tulisan-tulisan lain, termasuk Shuijing Zhu dan Yiwen Leiju.
Kemudian, pada masa Jin Timur, seorang pemberontak bernama Lu Xun berhasil menahan serangan tentara kekaisaran selama seratus hari pada tahun 403 sebelum berlayar ke Laut Tiongkok Selatan. Selama enam tahun, ia menguasai Panyu, pelabuhan terbesar di selatan saat itu.
Antara abad ke-15 dan 18, sebagian besar Asia Tenggara dieksplorasi oleh pedagang-pedagang Tiongkok. Pada saat itu, beberapa bagian Malaysia ditempati oleh keluarga-keluarga Tiongkok dan dibentuk garnisun-garnisun Tiongkok.[3] Demikian pula di utara Jawa, beberapa pedagang Tiongkok mulai menetap pada tahun 1400-an dan setelah Tiongkok kembali melegitimasikan perdagangan luar negeri pada tahun 1567 (dengan memberikan lisensi 50 kapal dagang setiap tahun), ratusan koloni perdagangan Tiongkok berkembang di kawasan yang sekarang menjadi Malaysia, Indonesia, dan Filipina.[4]
↑Reid, Anthony (1999), "Chinese and Southeast Asian interactions", in Pan, Lynn, The Encyclopedia of the Chinese Overseas, Cambridge, MA: Harvard University Press, pp. 51–53, ISBN978-0-674-25210-3.
Sumber
Bowman, John S. (2000). Columbia Chronologies of Asian History and Culture. New York: Columbia University Press.
Chen, Yan (2002). Maritime Silk Route and Chinese-Foreign Cultural Exchanges. Beijing: Peking University Press. ISBN7-301-03029-0.
Fairbank, John King and Merle Goldman (1992). China: A New History; Second Enlarged Edition (2006). Cambridge: MA; London: The Belknap Press of Harvard University Press. ISBN0-674-01828-1
Levathes (1994). When China Ruled the Seas. New York: Simon & Schuster. ISBN0-671-70158-4.
Needham, Joseph (1986). Science and Civilization in China: Volume 4, Physics and Physical Technology, Part 2, Mechanical Engineering. Taipei: Caves Books Ltd.
Needham, Joseph (1986). Science and Civilization in China: Volume 4, Physics and Physical Technology, Part 3, Civil Engineering and Nautics. Taipei: Caves Books Ltd.
Sastri, Nilakanta, K.A. The CōĻas, University of Madras, Madras, 1935 (Reprinted 1984).
Shen, Fuwei (1996). Cultural flow between China and the outside world. Beijing: Foreign Languages Press. ISBN7-119-00431-X.
Sivin, Nathan (1995). Science in Ancient China: Researches and Reflections. Brookfield, Vermont: VARIORUM, Ashgate Publishing.
Sun, Guangqi (1989). History of Navigation in Ancient China. Beijing: Ocean Press. ISBN7-5027-0532-5.
Wang, Zhongshu. (1982). Han Civilization. Translated by K.C. Chang and Collaborators. New Haven and London: Yale University Press. ISBN0-300-02723-0.