Disko Bay (5) sekitar 3.200 kilometer (2.000 mi) dari hulu Sungai Mackenzie (6).
Sir John Barrow mencetuskan pelayaran Arktik saat menjabat sebagai Second Secretary to the Admiralty.Sir John Franklin dipilih oleh Barrow untuk memimpin ekspedisiKapten F. R. M. Crozier, perwira eksekutif ekspedisi yang mengomandoi HMSÂ Terror.Potret Jane Griffin (kelak Lady Franklin), 24, pada tahun 1815. Ia menikahi John Franklin pada 1828, setahun sebelum ia disumpah sebagai ksatria.[1]
Ekspedisi Franklin yang hilang adalah pelayaran Inggris yang gagal untuk menjelajahi Arktik yang dipimpin oleh Kapten Sir John Franklin yang berangkat dari Inggris pada tahun 1845 dengan menaiki dua kapal, HMS Erebus dan HMS Terror, dan ditugaskan untuk melintasi bagian terakhir yang tidak dipetakan dari Lintasan Barat Laut di Arktik Kanada dan untuk mencatat data magnetik guna membantu menentukan apakah pemahaman yang lebih baik dapat membantu navigasi.[2] Ekspedisi tersebut menemui bencana setelah kedua kapal dan awaknya, yang berjumlah total 129 perwira dan anak buah, terkurung es di Selat Victoria dekat Pulau King William di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Kanada, Nunavut. Setelah terkurung es selama lebih dari setahun, Erebus dan Terror ditinggalkan pada bulan April 1848, saat itu dua lusin orang, termasuk Franklin, telah tewas. Para penyintas, yang sekarang dipimpin oleh wakil komandan Franklin, Francis Crozier, dan kapten Erebus, James Fitzjames, berangkat ke daratan Kanada dan menghilang, mungkin telah tewas.[3]
Atas desakan istri Franklin, Jane, dan pihak lain, Angkatan Laut meluncurkan pencarian ekspedisi yang hilang tersebut pada tahun 1848. Dalam berbagai pencarian berikutnya selama beberapa dekade setelahnya, beberapa artefak dari ekspedisi tersebut ditemukan, termasuk sisa-sisa jasad dua orang pria, yang dikembalikan ke Inggris. Serangkaian penelitian ilmiah di zaman modern menunjukkan bahwa tidak semua orang dalam ekspedisi tersebut meninggal dengan cepat. Hipotermia, kelaparan, keracunan timbal,[4] atau kekurangan seng[4] dan penyakit termasuk penyakit skorbut, bersama dengan paparan umum terhadap lingkungan yang tidak bersahabat sementara tidak memiliki pakaian dan nutrisi yang memadai, menewaskan semua orang dalam ekspedisi tersebut pada tahun-tahun setelah terakhir kali terlihat oleh kapal pemburu paus pada bulan Juli 1845. Bekas sayatan pada beberapa tulang yang ditemukan selama penelitian ini juga mendukung dugaan kanibalisme yang dilaporkan oleh peneliti Franklin, John Rae pada tahun 1854.
Pada tahun 1981, sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Owen Beattie, profesor antropologi di Universitas Alberta, memulai serangkaian studi ilmiah terhadap makam, jenazah, dan bukti fisik lainnya yang ditinggalkan oleh para awak kapal Franklin di Pulau Beechey dan Pulau King William. Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa mereka tewas akibat radang paru-paru, tuberkulosis, dan keracunan timah yang turut memperburuk kesehatan mereka. Namun, dinyatakan bahwa keracunan ini tidak disebabkan oleh makanan kaleng, tetapi buruknya penyulingan sistem air yang digunakan oleh kapal ekspedisi.[5] Adanya torehan-torehan pada kerangka manusia yang ditemukan di Pulau King William diduga sebagai tanda-tanda kanibalisme. Riset dan bukti yang ditemukan membuktikan bahwa hipotermia, kelaparan, keracunan timah, dan penyakit seperti kudis serta kekurangan nutrisi merupakan faktor utama yang menyebabkan para penjelajah tewas dalam waktu setahun setelah kapal ekspedisi meninggalkan Eropa pada 1845.
Media-media pada era Victoria memandang Franklin sebagai seorang pahlawan, meskipun ekspedisinya gagal. Lagu-lagu mengenai dirinya diciptakan, dan patungnya didirikan di kampung halamannya di London dan di Tasmania, menyebutnya sebagai penemu Jalur Baratlaut. Ekspedisi hilang Franklin juga telah menjadi subjek dari banyak karya seni, termasuk lagu, sajak, cerita pendek, novel, dan dokumenter televisi.[5]
Atwood, Margaret (1995). "Concerning Franklin and his Gallant Crew," in Strange Things: The Malevolent North in Canadian Literature. Oxford: Clarendon Press. ISBN 0-19-811976-3.
Beattie, Owen, and Geiger, John (1989). Frozen in Time: Unlocking the Secrets of the Franklin Expedition. Saskatoon: Western Producer Prairie Books. ISBN 0-88833-303-X.
John Brown, F.R.G.S. (1860), The North-West Passage and the Plans for the Search for Sir John Franklin: A Review with maps, &c., Second Edition with a Sequel Including the Voyage of the Fox, London, Edward Stanford, 1860.
McGoogan, Ken (2005). Lady Franklin's Revenge: A True Story of Ambition, Obsession and the Remaking of Arctic History. Toronto: HarperCollins. ISBN 978-0-00-200671-2.
Sandler, Martin (2006). Resolute: The Epic Search for the Northwest Passage and John Franklin, and the Discovery of the Queen's Ghost Ship. New York: Sterling Publishing Co.ISBN 978-1-4027-4085-5.
Davis-Fisch, Heather. (2012). Loss and Cultural Remains in Performance: The Ghosts of the Franklin Expedition. Toronto: Palgrave Macmillan. ISBN 0-230-34032-6.
M'Clintock, Francis L. (1860). The Voyage of the Fox in the Arctic Seas: A Narrative of the Discovery of the Fate of Sir John Franklin and His Companions. Boston: Ticknor and Fields.
Poulsom, Neville W., and Myers, J. A. L. (2000). British Polar Exploration and Research; a Historical and Medallic Record with Biographies 1818–1999. (London: Savannah). ISBN 978-1-902366-05-0.