Ekologi dalam (deep ecology) adalah sebuah filsafat lingkungan yang menegaskan nilai hakiki dari seluruh makhluk hidup, terlepas dari manfaat instrumentalnya bagi kebutuhan manusia, serta menyerukan agar masyarakat manusia modern disusun kembali selaras dengan prinsip tersebut.
Para pendukung ekologi mendalam berpendapat bahwa lingkungan alam merupakan suatu jalinan hubungan yang amat rumit, di mana keberadaan setiap organisme bergantung pada keberadaan organisme lain di dalam ekosistem. Mereka menilai bahwa campur tangan manusia yang tidak perlu, atau perusakan terhadap dunia alamiah, merupakan ancaman bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi seluruh makhluk yang membentuk keteraturan alam semesta.
Prinsip inti ekologi mendalam ialah keyakinan bahwa lingkungan hidup secara keseluruhan patut dihormati dan diakui memiliki hak-hak moral maupun hukum yang asasi, untuk hidup dan berkembang, terlepas dari manfaatnya bagi kepentingan manusia. Ekologi mendalam sering dipahami dalam kerangka suatu gagasan tentang kebermasyarakatan yang jauh lebih luas: ia mengakui keberagaman komunitas kehidupan di Bumi yang tersusun bukan semata oleh faktor biotik, melainkan juga, bila memungkinkan, oleh relasi etis, yakni pengakuan terhadap makhluk lain sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar sumber daya.
Filsafat ini disebut "mendalam" karena dianggap menelisik lebih jauh hakikat hubungan manusia dengan dunia alam, dan dengan demikian melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang lebih mendasar secara filosofis dibandingkan dengan gerakan lingkungan arus utama.[1]
Gerakan ini tidak berpijak pada environmentalisme antroposentris (yang hanya menaruh perhatian pada pelestarian alam demi pemanfaatan manusia semata), sebab ekologi mendalam berakar pada seperangkat asumsi filosofis yang berbeda. Ekologi mendalam memandang dunia tempat manusia hidup secara holistik, dan berupaya menerapkan pemahaman bahwa setiap bagian dari ekosistem (termasuk manusia) berfungsi sebagai kesatuan yang tak terpisahkan.
Filsafat ini menyinggung prinsip-prinsip pokok dari berbagai gerakan lingkungan dan gerakan hijau, serta mengadvokasi suatu sistem etika lingkungan yang mendukung pelestarian hutan belantara, kebijakan non-koersif yang mendorong penurunan populasi manusia, semangat animinisme, dan gaya hidup sederhana.[2]