Dulaglutida[7] adalah obat yang digunakan untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2 dalam kombinasi dengan diet dan olahraga.[8][9] Obat ini juga disetujui di Amerika Serikat untuk pengurangan kejadian kardiovaskular yang merugikan pada orang dewasa dengan diabetes tipe 2 yang telah memiliki penyakit kardiovaskular atau beberapa faktor risiko kardiovaskular.[10]
Efek samping yang paling umum adalah mual, diare, muntah, nyeri perut, dan penurunan nafsu makan.[7]
Dulaglutida adalah agonis reseptor peptida-1 mirip glukagon (agonis GLP-1) yang terdiri dari GLP-1(7-37) yang terikat secara kovalen dengan fragmen Fc IgG4 manusia. GLP-1 adalah hormon yang berperan dalam menormalkan kadar glukosa darah (glikemia). Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui penggunaan dulaglutida di Amerika Serikat pada September 2014.[7][11] Obat ini disetujui penggunaannya di Uni Eropa pada November 2014.[6]
Sejarah
Keamanan dan efektivitas dulaglutida dievaluasi dalam enam uji klinis yang melibatkan 3.342 subjek dengan diabetes tipe 2. Subjek yang menerima dulaglutida mengalami perbaikan dalam kontrol gula darah mereka, sebagaimana diamati melalui penurunan kadar HbA1c (hemoglobin A1c merupakan ukuran kontrol gula darah).[7]
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui dulaglutida dengan Strategi Evaluasi dan Mitigasi Risiko (REMS), dan memberikan persetujuan Trulicity kepada Eli Lilly and Company.[7] REMS terdiri dari sejumlah langkah yang akan diambil Eli Lilly untuk menyadarkan dokter akan risiko pankreatitis dan potensi risiko karsinoma tiroid meduler yang terkait dengan obat ini.[12]
Pada tahun 2020 FDA menyetujui dua dosis obat yang lebih tinggi yakni 3,0 mg dan 4,5 mg; berdasarkan hasil uji coba AWARD-11 yang menunjukkan peningkatan penurunan glukosa dan manfaat berat badan.[13]
Kegunaan medis
Senyawa ini diindikasikan untuk orang dewasa dengan diabetes tipe 2 sebagai tambahan untuk diet dan olahraga guna meningkatkan kontrol glikemik. Dulaglutida tidak diindikasikan dalam pengobatan subjek dengan diabetes melitus tipe 1 atau pasien dengan ketoasidosis diabetik, karena masalah ini merupakan akibat dari sel-sel islet yang tidak dapat memproduksi insulin dan salah satu tindakan dulaglutida adalah untuk merangsang sel-sel islet yang berfungsi untuk memproduksi lebih banyak insulin. Dulaglutida dapat digunakan baik secara tunggal maupun dalam kombinasi dengan obat-obatan lain untuk diabetes tipe 2, khususnya metformin, sulfonilurea, tiazolidindion, dan insulin yang dikonsumsi bersamaan dengan makanan.[14]
Program uji klinis fase 3 obat ini menunjukkan penurunan hemoglobin A1c sekitar 1% dengan dosis obat 0,75 mg dan 1,5 mg; bersama dengan penurunan berat badan rata-rata sekitar 5 pon. Dosis yang lebih tinggi yaitu 3 mg dan 4,5 mg; yang disetujui pada tahun 2020 menunjukkan penurunan hemoglobin A1c mendekati 1,5% dan penurunan berat badan yang sedikit lebih banyak.[11]
Metaanalisis tahun 2017 tidak mendukung dugaan bahwa pengobatan dengan agonis GLP-1 atau penghambat dipeptidil peptidase-4 meningkatkan mortalitas semua penyebab pada penderita diabetes tipe 2.[15]
Efek samping
Efek samping yang paling umum termasuk gangguan pencernaan seperti dispepsia, nafsu makan menurun, mual, muntah, nyeri perut, dan diare.[16] Beberapa pasien mungkin mengalami reaksi merugikan yang serius seperti pankreatitis akut (gejalanya termasuk nyeri perut parah yang terus-menerus, terkadang menjalar ke punggung dan disertai muntah), hipoglikemia, gangguan ginjal (yang terkadang memerlukan hemodialisis). Risiko hipoglikemia meningkat jika obat ini digunakan dalam kombinasi dengan sulfonilurea atau insulin.[17][18] Ada juga potensi risiko karsinoma tiroid meduler yang terkait dengan penggunaan obat ini.[12]
Kontraindikasi
Orang dengan riwayat pribadi atau keluarga kanker tiroid meduler (MTC), atau terkena neoplasia endokrin multipel tipe 2 tidak boleh mengonsumsi dulaglutida, karena dapat meningkatkan risiko kanker ini.[19][7]
Mekanisme kerja
Dulaglutida berikatan dengan reseptor peptida mirip glukagon 1, memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Pada saat yang sama, senyawa ini mengurangi peningkatan sekresi glukagon dengan menghambat sel alfa pankreas, karena glukagon diketahui meningkat secara tidak tepat pada pasien diabetes melitus. GLP-1 biasanya disekresikan oleh sel L mukosa gastrointestinal sebagai respons terhadap makanan.[20]
↑Tibble CA, Cavaiola TS, Henry RR (May 2013). "Longer acting GLP-1 receptor agonists and the potential for improved cardiovascular outcomes: a review of current literature". Expert Review of Endocrinology & Metabolism. 8 (3): 247–259. doi:10.1586/eem.13.20. PMID30780817. S2CID73313508.
↑Monami M, Dicembrini I, Nardini C, Fiordelli I, Mannucci E (February 2014). "Glucagon-like peptide-1 receptor agonists and pancreatitis: a meta-analysis of randomized clinical trials". Diabetes Research and Clinical Practice. 103 (2): 269–275. doi:10.1016/j.diabres.2014.01.010. PMID24485345. S2CID33922845.
↑Samson SL, Garber A (April 2013). "GLP-1R agonist therapy for diabetes: benefits and potential risks". Current Opinion in Endocrinology, Diabetes, and Obesity. 20 (2): 87–97. doi:10.1097/MED.0b013e32835edb32. PMID23403741. S2CID6933973.