Dahulu kala Dukuhdimoro hanyalah sebuah hutan belantara yang lebat hingga muncul empat orang. Mereka adalah Mbah Hadi Sidomulyo, Mbah Alap-Alap, Mbah Kabiron, dan salah satu temannya.
Dari sini muncul ide membabat hutan belantara menjadi desa. Bagian utara yang tertanam banyak pohon juwet dibabat oleh temannya tadi sehingga dinamakan Dusun Juwet. Bagian selatan dibabat oleh Mbah Kabiron karena hari pembabatan masuk dalam kategori tanggal yang bagus dan baik akhirnya dinamakan Dusun Penanggalan. Di bagian barat dijadikan pusat desa (padukuhan) yang dibabat oleh keempat sekawan. Akhirnya desa sekaligus dusunnya dinamakan Dukuhdimoro, yang berarti tempat untuk orang berkumpul (dalam bahasa jawa moro). Setiap danyang mewakili seluruh 3 dusun yang ada dalam Desa Dukuhdimoro. Untuk memperingati jasa keempat danyang desa tersebut, maka setiap tahun diadakan ruwah desa yang diadakan di perempatan yg menghubungkan keempat dusun sekaligus jalan utama desa.
Makam
Mbah Hadi Sidomulyo: Dusun Penanggalan bagian utara (Lor Ledhok)