Dudung mendapat perhatian media pada akhir tahun 2020 karena pernyataan anti-politik radikal dan sikapnya yang menentang kelompok ekstremis seperti Front Pembela Islam (FPI). Lebih jauh lagi, sebagai Panglima Komando Daerah Militer Jayakarta, ia memerintahkan tentara di bawah komandonya untuk menurunkan spanduk dan poster provokatif terkait FPI di seluruh Jakarta, karena ketidakmampuan otoritas sipil. Tindakan ini kemudian memicu kontroversi.[11]
Ia menempuh sekolah di SDN 034 Patrakomala pada tahun 1972 hingga lulus pada tahun 1979. Ia melanjutkan sekolahnya di SMP Kartika XIX - 1 dan lulus pada tahun 1982.[13] Pada tahun 1981, ia bekerja sebagai loper koran dan penjual kue klepon karena ayahnya meninggal.[14] Ia lulus SMA Negeri 9 Bandung pada tahun 1985.[15] dan kemudian ia mendaftarkan diri di Akademi Militer di Magelang.[16]
Penghargaan
Tanda kehormatan
Dudung mendapatkan sejumlah tanda kehormatan atas prestasi dan jasanya baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya:[17]
Dada kanan
Dada kiri
Brevet Junior Officer Combat Instructor Training – Indonesia (JOCIT-I)