Plot
Vladimir adalah seseorang pangeran pemberani dari Wallachia yang memiliki istri yang sangat dicintainya bernama Elisabeta. Pada saat kerajaannya tengah diserang oleh kekaisaran Ottoman dalam Perang Salib, dia memimpin pasukannya untuk berperang, sementara istrinya dilarikan untuk mencari tempat yang aman. Sebelum kepergiannya, dia berpesan kepada Kardinal untuk meminta Tuhan melindungi istrinya. Peperangan berhasil dimenangkan oleh Vladimir, tetapi Elisabeta terkena sergapan pasukan Ottoman. Elisabeta berhasil melarikan diri ke The Forest of Wolves. Vladimir yang mendapatkan info langsung pergi untuk menyelamatkan istrinya, tetapi saat berusaha mencegah pasukan Ottoman menyerang istrinya, ia secara tidak sengaja membuat istrinya terbunuh karena pedangnya. Vladimir yang marah langsung mengutuk Tuhan dan membunuh Kardinal. Sebagai akibatnya, dia dikutuk menjadi seorang vampir abadi yang haus darah yang dikenal sebagai Dracula.
Selama berabad-abad, Dracula mencoba untuk mencari jejak reinkarnasi dari istrinya. Dalam prosesnya ia berkelana ke berbagai negara, menggigit banyak orang yang kemudian menjadi para bawahannya, dan berhasil menciptakan sebuah parfum sakti yang bisa memikat wanita manapun untuk tertarik padanya. Setelah tidak juga berhasil menemukan reinkarnasi istrinya, Count Dracula akhirnya menetap di kastil kediamannya dan menumpuk kekayaan. Sementara itu aksi Dracula yang memakan banyak korban membuat seorang pendeta melacak dan memburunya sejak abad ke-19.
Empat ratus tahun berlalu, saat bernegosiasi mengenai transaksi properti dengan seorang pengacara Paris bernama Jonathan Harker, Dracula menemukan bahwa tunangan Harker, Mina, adalah reinkarnasi yang selama ini ia cari. Setelah memenjarakan Harker di kastilnya, Dracula kembali membuat dirinya kembali muda dengan mengisap darah para biarawati dan berangkat menuju Paris tepat pada peringatan seratus tahun Revolusi Prancis. Dengan bantuan Maria, salah satu pengikutnya, Dracula berhasil menemukan Mina dan mengingatkan Mina akan kehidupan masa lalunya sebagai Elisabeta. Mina memohon agar ia menjadikannya vampir agar bisa hidup abadi di sisinya. Dracula kemudian membawanya kembali ke Wallachia.
Sebuah pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh pendeta dan Harker mengepung kastil Dracula. Dalam pertempuran itu, Dracula berhadapan dengan sang pendeta, yang mendesaknya untuk bertobat dan tidak membiarkan Mina terkena kutukan abadi sebagai vampir. Dracula akhirnya membiarkan dirinya ditusuk oleh sang pendeta dan hancur menjadi debu dalam pelukan Mina, setelah terlebih dahulu menyatakan cintanya kepadanya.
Produksi
Pada Februari 2024, diumumkan bahwa sebuah adaptasi dari novel Dracula karya Bram Stoker sedang dikembangkan, dengan Luc Besson bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Caleb Landry Jones dan Christoph Waltz bergabung dalam jajaran pemeran utama.[9]
Besson mengatakan bahwa ketertarikannya pada proyek ini bukan dipicu oleh kisah Dracula, melainkan oleh aktor Jones, yang sebelumnya bekerja sama dengannya dalam film Dogman tahun 2023. Karena ingin kembali bekerja dengannya, Besson mulai memikirkan peran lain yang cocok untuk Jones, dan akhirnya memilih Dracula.[10][11]
"Ini benar-benar pendekatan romantis," kata Besson tentang adaptasinya. "Ada sisi romantis dalam buku Bram Stoker yang belum banyak dieksplorasi. Ini adalah kisah cinta tentang seorang pria yang menunggu selama 400 tahun demi reinkarnasi istrinya. Itulah inti sejati dari cerita ini, menunggu selamanya demi kembalinya cinta.".[12]
Dalam wawancara lain Besson menyatakan: "Ketika Anda melihat novel aslinya, itu sebenarnya adalah kisah cinta. Namun karena pada masa [perilisan novel] belum ada sinema dan efek khusus, orang-orang lebih tertarik pada aspek fantasi dan berdarah dari [Dracula]. Jadi ia [Dracula] menjadi mitos film horor, padahal jika kita menggali novel aslinya, itu adalah kisah cinta besar. Saya ingin kembali pada sosok pria yang kehilangan istrinya dan yang, sayangnya, abadi karena Tuhan menghentikannya dari kematian, lalu ia mencari istrinya selama 400 tahun."[13]
Luc Besson juga mengakui: "Saya bukan penggemar film horor, maupun Dracula." Ia juga menyatakan bahwa ia ingin membuat sebuah kisah cinta tragis-romantis daripada film horor, meskipun tetap mempertahankan beberapa aspek horor. Hal yang paling menarik baginya adalah menceritakan kisah Dracula sebagai sosok seorang pria yang berusaha selama 400 tahun untuk menemukan cinta sejatinya.[14][15]
Gaya visual
Dalam hal estetika visual film, Luc Besson bersama sinematografer Colin Wandersman sejak tahap pra-produksi telah memutuskan untuk mengambil inspirasi dari lukisan Flemish serta teknik piktorial chiaroscuro.[16]
Kostum
Kostum dirancang oleh Corine Bruand, berdasarkan konsep seni dari Patrice Garcia dan Luc Besson. Secara keseluruhan, sebanyak 550 kostum dibuat untuk film ini.[17]
Setelah dirancang oleh Luc Besson, Corine Bruand, dan Patrice Garcia, baju zirah Dracula dibuat oleh pengrajin Terry English, yang dikenal atas karyanya dalam film The Messenger: The Story of Joan of Arc karya Luc Besson, serta terutama karena telah membuat kostum makhluk untuk film Alien karya Ridley Scott.[17]
Gaun Elisabeta dibuat oleh Manufacture Royale Bonvallet, dekat Amiens, Prancis. Kerudung pada hiasan kepala, yang panjangnya hampir delapan meter, terbuat dari organza sutra (yang paling ringan di dunia) yang berasal dari Jepang.[17]
Zirah para prajurit yang terlihat pada bagian awal film dibuat di London oleh tim yang sebelumnya bekerja untuk Game of Thrones.[17]
Sebagian besar kain diproduksi oleh bengkel Prancis BBC Jacquard, berdasarkan gambar-gambar periode sejarah.[17]
Set dan Properti
Set dirancang oleh Hugues Tissandier, yang telah bekerja dalam banyak film Luc Besson. Banyak set dibangun sepenuhnya di studio, termasuk ruang-ruang interior kastil (berbeda dengan eksterior kastil yang sebagian besar diciptakan menggunakan efek visual). Kotak musik, yang muncul dalam adegan pembuka film dan menjadi elemen penting dalam cerita, terbuat dari kuningan. Souk Baghdad diciptakan menggunakan 1.500.000 kelopak bunga yang disiapkan dengan sangat teliti oleh kru film. Lukisan-lukisan Dracula di aula makan besar berfungsi sebagai penghormatan secara halus, menggambarkan para aktor utama yang pernah memerankan Dracula dalam adaptasi sebelumnya.[18]
Tata rias
Tata rias film ini diawasi oleh Julia Floch, Jean-Christophe Spadaccini, dan Denis Gastou, yang bekerja dalam sebagian besar film Luc Besson. Sebanyak 28 orang terlibat dalam departemen tata rias.[19] Membuat Dracula tampak berusia 400 tahun dalam beberapa adegan, sesuai dengan maksud Luc Besson, merupakan tantangan yang sangat kompleks. Tim secara khusus menggunakan tata rias prostetik, yang tidak dapat digunakan ulang. Secara keseluruhan, hampir 200 tata rias prostetik dibuat untuk film ini, termasuk untuk kepala, torso, dan tangan tua Dracula. Tata rias untuk adegan di mana Caleb Landry Jones memerankan Dracula berusia 400 tahun membutuhkan waktu persiapan enam hingga tujuh jam,[20] sementara tata rias untuk Guillaume de Tonquédec, yang berperan sebagai ilmuwan, memakan waktu hingga tiga jam. Tim tata rias juga membuat, antara lain, 35 kepala palsu prajurit Ottoman yang terpenggal.[16]
Syuting
Menurut Collider, pengambilan gambar utama dimulai pada 27 Maret 2024 di Kainuu, Finlandia. Alasan pemilihan lokasi baru ini dilaporkan karena lanskap bersalju di daerah tersebut.[21] Proses syuting berlangsung dari Maret hingga Juli 2024 dan dilakukan di berbagai lokasi, termasuk kawasan Paris di studio Dark Matters, Tigery (Essonne).[22] Untuk adegan eksterior, Besson menempatkan kameranya di Kuhmo, Finlandia, lalu kembali ke Paris untuk merekam sebuah adegan di Palais-Royal.[22] Produksi, yang dimulai pada Juni 2024 di Paris, harus dipercepat karena adanya pembatasan syuting yang diberlakukan sebagai persiapan Olimpiade Musim Panas 2024.[22]
Musik
Danny Elfman mulai menggubah musik Dracula: A Love Tale dengan menciptakan tiga tema utama. Tema pertama, yang sangat romantis, merepresentasikan cinta Dracula kepada istrinya yang telah tiada. Tema ini sering dimainkan melalui kotak musik, tetapi juga memiliki variasi dengan instrumen dan ritme berbeda sesuai dengan adegan. Tema kedua dikhususkan untuk rangkaian tarian besar, sementara tema ketiga bertujuan untuk menggambarkan sifat Dracula sebagai seorang pejuang sekaligus vampir. Setelah ketiga tema utama ini disepakati, Danny Elfman dan Luc Besson berkolaborasi menciptakan berbagai motif musikal untuk mengekspresikan keanehan, misteri, dan ketegangan, yang mengiringi beragam adegan sepanjang cerita.[23]