Istana KagoshimaMeriam 150 pon milik Domain Satsuma, dibuat tahun 1849. Meriam ini dipasang di Benteng Tenpozan di Kagoshima. Kaliber: 290 mm, panjang laras: 4220 mm.
Klan Shimazu menguasai Provinsi Satsuma hampir selama empat abad hingga periode Edo dan dibentuknya sistem han, menguasai hampir seluruh wilayah Pulau Kyushu hingga akhir abad ke-16. Setelah diperangi oleh Toyotomi Hideyoshi dalam Kampanye Kyushu 1587, klan Shimazu kembali ke wilayah asal mereka di Satsuma. Meskipun demikian, mereka tetap dikenal sebagai salah satu klan terkuat di Jepang. Klan Shimazu menderita kekalahan besar dalam Pertempuran Sekigahara, tetapi Shimazu Yoshihiro berhasil pulang ke Kagoshima. Berbeda dari klan-klan besar lainnya yang bertempur dan kalah di Sekigahara, klan Shimazu bertahan sebagai salah satu dari sedikit klan di Jepang yang memiliki kekuatan militer cukup besar untuk menahan ancaman invasi dari tentara Keshogunan Tokugawa. Tidak seperti sebagian besar klan yang wilayah kekuasaannya setelah diberi lalu dialihkan ke klan lain oleh keshogunan, klan Shimazu berhasil mempertahankan wilayah mereka dan memiliki otonomi yang besar.
Ryukyu
Pada tahun 1609, klan Shimazu meminta izin dari keshogunan untuk menginvasi Kerajaan Ryukyu yang berada di selatan Domain Satsuma. Setelah invasi singkat dengan perlawanan kecil, Satsuma menduduki Kepulauan Ryukyu dan menganeksasinya sebagai bagian dari Domain Satsuma, dan menyatakan Kerajaan Ryukyu sebagai negara vasal Satsuma. Hingga akhir periode Edo, Satsuma meminta upeti dari Ryukyu, memengaruhi politik, dan mendominasi kebijakan perdagangan mereka. Selama Jepang menganut kebijakan negara tertutup, Satsuma masih dapat berdagang barang-barang dan menerima informasi dari Cina melalui Ryukyu. Keuntungan ekonomi yang didapat Satsuma, dan penindasan terhadap Kerajaan Ryukyu terus menjadi perdebatan di kalangan cendekiawan, tetapi Satsuma mendapat prestise politis dan pengaruh dari hubungannya dengan Kerajaan Ryukyu.
Periode Edo
Meski Satsuma bukan domain terkaya dalam ukuran kokudaka (standar resmi kekuatan ekonomi sebuah han), Satsuma bertahan sebagai domain terkaya dan terkuat sepanjang periode Edo. Kekayaan Satsuma tidak hanya berasal dari hubungannya dengan Kerajaan Ryukyu, melainkan juga dari besar wilayah dan potensi kekayaan Provinsi Satsuma, serta wilayah mereka yang jauh dari Edo dan jauh dari tentara keshogunan. Klan Shimazu menggunakan pengaruhnya untuk meminta sejumlah pengecualian. Ketika Keshogunan Tokugawa menetapkan sebuah domain hanya diizinkan memiliki sebuah istana (kastil), Satsuma mendapat pengecualian. Kebijakan ini ditetapkan keshogunan untuk membatasi kekuatan militer dari domain-domain di daerah. Klan Shimazu membagi wilayah mereka menjadi subdomain, dan membangun kastil di setiap subdomain. Mereka memerintah Satsuma seperti halnya sebuah keshogunan kecil. Mereka juga mendapat pengecualian dari keshogunan untuk tidak melakukan sankin-kōtai setiap tahunnya. Ketika itu Keshogunan Tokugawa mewajibkan daimyo bertugas di ibu kota setahun sekali dengan maksud untuk membatasi kekayaan dan kekuatan militer daimyo. Klan Shimazu melakukan perjalanan sankin-kōtai setiap dua tahun sekali. Pengecualian-pengecualian yang didapat Satsuma menjadikan domain ini lebih kaya dan lebih kuat dibandingkan domain-domain lainnya.
Meski dapat dikatakan sebagai penentang keshogunan, Satsuma kemungkinan adalah salah satu domain paling ketat dalam menjalankan kebijakan politik tertentu. Misionaris Kristen dipandang sebagai ancaman serius bagi daimyo, perdamaian, dan ketertiban domain. Pelarangan Kekristenan yang merupakan kebijakan Keshogunan Tokugawa dilaksanakan dengan lebih keras dan brutal di Satsuma dibandingkan tempat-tempat di Jepang. Penyelundupan kemungkinan tidak begitu ketat diawasi. Satsuma mendapat keuntungan cukup besar dari perdagangan barang selundupan. Satsuma jauh dari pusat monopoli perdagangan keshogunan yang berada di Nagasaki. Pada tahun 1830-an, Satsuma menggunakan perdagangan ilegal mereka dengan Okinawa untuk memperbaiki keuangan mereka di bawah pimpinan Zusho Hirosato.
Sakai, Robert (1957). "Feudal Society and Modern Leadership in Satsuma-han" Journal of Asian Studies Vol 16. pp.365–376
Sakai, Robert (1968). "The Consolidation of Power in Satsuma-han." in Studies in the Institutional History of Early Modern Japan. (John W. Hall & Marius Jansen eds.) Princeton: Princeton University Press.
Sakai, Robert, et al. (1975). The Status System and Social Organization of Satsuma. Tokyo: Tokyo University Press.