Pencipta "Regina Caeli" tidak diketahui persis, legenda mengatakan bahwa SantoGregorius Agung mendengar tiga baris pertama dilantunkan oleh para malaikat pada suatu pagi pada hari Paskah saat ia sedang berjalan tanpa alas kaki dalam suatu prosesi dan sang santo kemudian menambahkan baris keempat: "Ora pro nobis Deum. Alleluia" (Doakan kami pada Allah. Alleluya).[3]
Teks
Bait utama untuk doa ini adalah empat ayat antifon di bawah ini.
Regina caeli, laetare, alleluia;
Quia quem meruisti portare, alleluia,
Resurrexit, sicut dixit, alleluia:
Ora pro nobis Deum, alleluia.
Ratu Surga bersukacitalah, alleluya,
Sebab Ia yang sudi kau kandung, alleluya,
Telah bangkit seperti disabdakan-Nya, alleluya,
Doakanlah kami pada Allah, alleluya.
Antifon tersebut dinyanyikan pada bagian akhir ibadat Kompletorium, seperti yang disebutkan dalam versi revisi tahun 1969 setelah Konsili Vatikan II. Dalam Brevir Roma versi terdahulu, ayat-ayat doa ditambahkan ditambahkan setelah nyanyian antifon tersebut.
℣. Gaude et laetare, Virgo Maria, alleluia.
℟. Quia surrexit Dominus vere, alleluia.
Oremus.
Deus, qui per resurrectionem Filii tui Domini nostri Iesu Christi, mundum laetificare dignatus es: praesta, quaesumus, ut, per eius Genetricem Virginem Mariam, perpetuae capiamus gaudia vitae. Per Christum, Dominum nostrum.
℟. Amen.
℣. Bersukacitalah dan bergembiralah, Perawan Maria, alleluya,
℟. Sebab Tuhan sungguh telah bangkit, alleluya.
Marilah berdoa:
Ya Allah, Engkau telah menggembirakan dunia dengan kebangkitan Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Kami mohon, perkenankanlah kami bersukacita dalam kehidupan kekal bersama bunda-Nya, Perawan Maria. Demi Kristus, pengantara kami.
℟. Amin.[4][2]
Doa Ratu Surga lengkap, yaitu bait antifon dengan ayat-ayat doa tambahan setelahnya, juga dinyanyikan dan/atau didaraskan sebagai pengganti Doa Malaikat Tuhan pada Masa Paskah.
Sejarah
"Pemakhotaan Sang Perawan", lukisan karya Agnolo Gaddi
Pencipta "Regina Caeli" tidak diketahui persis. Antifon ini telah terlacak balik sampai abad ke-12 dan ditemukan dalam sebuah antifonari dari sekitar tahun 1200-an yang sekarang disimpan di Basilika Santo Petrus di Roma.[5] Pada paruh pertama abad ke-13, antifonari ini dipakai oleh para Fransiskan setelah doa Kompletorium.
Legenda Emas karya Jacobus de Voragine mencantumkan cerita bahwa dalam sebuah prosesi yang diselenggarakan untuk mendoakan agar wabah di Roma segera berakhir, yang di dalamnya terdapat sebuah gambar Santa Perawan Maria, terdengar suara para malaikat yang menyanyikan tiga baris pertama antifon ini. Setelah itu, SantoGregorius Agung (590-604) menambahkan baris keempat: "Ora pro nobis Deum. Alleluia" (Doakan kami pada Allah. Alleluya), setelah ia melihat satu malaikat menyarungkan pedangnya di atas sebuah gedung yang di kemudian hari dikenal sebagai Kastil Malaikat Kudus, menandakan berakhirnya wabah.[6]
Indulgensi
Benediktus XIV menetapkan indulgensi yang sama seperti Doa Malaikat Tuhan, yaitu indulgensi yang diberikan oleh Benediktus XIII dengan indult tanggal 14 September 1724: indulgensi penuh sebulan sekali, pada hari yang dipilih orang terkait, bagi mereka yang setelah mengaku dosa, menyesal dan menerima komuni, telah dengan khusyuk mendaraskan doa ini pada pagi hari, siang hari dan malam hari, pada saat lonceng dibunyikan; dan 100 hari indulgensi dengan cara yang sama bagi mereka yang telah mendaraskan doa ini pada hari-hari lainnya, dengan hak khusus untuk tidak kehilangan indulgensi bagi mereka yang mendaraskan Doa Malaikat Tuhan tanpa mengetahui Doa Ratu Surga dan hak khusus berikutnya diberikan pada 5 Desember 1727 bagi para biarawan yang sibuk pada saat lonceng dibunyikan untuk mendaraskan doa tersebut pada waktu lain.[7]
Leo XIII (1878-1903) memodifikasi syarat-syarat untuk memperoleh indulgensi, menjadikannya lebih mudah. Sampai reformasi indulgensi yang dilaksanakan oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967[8] indulgensi yang sama masih diberikan.[9]
Enchiridion Indulgentiarum saat ini mencakup indulgensi sebagian bagi umat beriman yang mendaraskan Doa Ratu Surgawi pada tiga waktu dalam sehari yang telah ditentukan selama masa Paskah.[10] Memperoleh indulgensi tidak mengharuskan pendarasan Gloria Patri (Kemuliaan kepada Bapa) dan doa-doa berikutnya. Konsesi ini diberikan untuk teks-teks yang disetujui oleh Takhta Suci, oleh karena itu teks-teks dalam bahasa sehari-hari harus disetujui oleh KonferensiWaligereja dan selanjutnya dikonfirmasi oleh Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen. Oleh karena itu, terjemahan yang berbeda tidak menerima indulgensi dan mungkin dapat digunakan untuk pelaksanaan pribadi. Seperti halnya semua indulgensi, seseorang harus berada dalam keadaan penuh rahmat; lebih jauh lagi, indulgensi berlaku untuk diri sendiri atau Jiwa-jiwa Miskin di Api Penyucian, tetapi tidak untuk orang lain yang hidup di bumi.[11]