Djanger Bali adalah salah satu judul album dari Indonesian All Stars (Jack Lesmana dan kawan-kawan) yang menandai landmark musik jazz modern di Indonesia. Sebuah karya jazz yang memetakan perjalanan musik jazz negeri ini dengan melibatkan banyak sosok pemusik jazzIndonesia dan menjadi tonggak sejarah untuk masa sekarang. Karena di situ ada Jack Lesmana, Bubi Chen,
Maryono, Benny Mustapha dan Jopie Chen. Jika membahas peta musik jazz Indonesia, sepertinya lebih lengkap jika kita mengenal album yang langka ini.
Album ini terwujud karena ketertarikan pemusik jazz Amerika yang kerap mengamati aktivitas pemusik jazzIndonesia menjelang akhir era '60-an. Setelah tumbangnya rezim Orde Lama Bung Karno. Peniup klarinetTony Scott asal New YorkAmerika Serikat ini pernah wara-wiri di Asia sekitar 6 tahun seperti di Thailand, Taiwan, serta Indonesia. Tony yang lalu sempat bermukim di Jakarta justru banyak menyerap musik tradisi kuno yang dibaurkan dengan elemen jazz.
Selama 2 hari di Berlin grup jazz kebanggaan Indonesia ini melakukan sesi rekaman untuk MPS/Saba Record yang kemudian menghasilkan album "Djanger Bali". Album yang covernya mengambil nukilan salah satu relief di Candi Borobudur ini mengajukan konsep "East meet West". Beberapa instrumen musik tradisional Indonesia seperti sulingbambu, kecapi dan siter (zither) dihadirkan pula di album yang diproduseri oleh Joachim Ernest Berendt.
Direkam di Villingen, Black Forrest pada tanggal 27 dan 28 Oktober1967, dibantu teknisi rekaman Rolf Donner di Saba Tonstudio. Jack Lesmana sendiri banyak memainkan nada rendah pada gitarnya untuk menyiasiati penggantian bunyi gong. Mereka pun mencoba menafsirkan karya George Gershwin "Summertime" dalam perspektif tradisi karawitan. Tak ada intimidasi dari dua kutub budaya yang berbeda. Sesuatu yang mungkin saat itu termasuk sebuah pencapaian yang cukup luar biasa.[1]