Disuria mengacu pada buang air kecil yang menyakitkan atau tidak nyaman.[1][2] Ini adalah salah satu kumpulan gejala iritasi kandung kemih (kadang juga disebut gejala saluran kemih bagian bawah), yang meliputi nokturia dan frekuensi buang air kecil.
Diagnosis
Dokter juga harus mencari temuan fisik berupa demam, ruam, nyeri tekan langsung pada area kandung kemih, dan nyeri sendi. Temuan fisik berupa peningkatan suhu, peningkatan denyut nadi, tekanan darah rendah dengan adanya disuria dapat mengindikasikan infeksi sistemik. Obstruksi urologi akibat batu atau tumor dapat menyebabkan temuan hematuria, penurunan buang air kecil, dan spasmofili kandung kemih. Semua temuan fisik ini harus dicari dengan cermat saat memperoleh riwayat. Riwayat mengenai aktivitas seksual terkini sangatlah penting.[3]
Urinalisis adalah tes yang paling berguna untuk memulai pemeriksaan pada pasien disuria. Urinalisis yang positif mengandung nitrit memiliki nilai prediksi yang tinggi terhadap kultur urin yang positif. Dipstick urin juga menunjukkan leukosit memiliki nilai prediksi yang sama dengan keberadaan nitrit. Ketika keduanya hadir, nilai prediksinya menjadi lebih tinggi. Jika pasien hanya memiliki leukosit esterase atau bakteri dalam urin, maka disuria mungkin menunjukkan bahwa pasien menderita uretritis.[3]
Salah satu penyebab disuria yang paling umum adalah infeksi saluran kemih. Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria karena perbedaan anatomi di antara keduanya. Wanita memiliki uretra yang lebih pendek dan lurus, sedangkan pria memiliki uretra yang lebih panjang dan melengkung. Pada wanita, bakteri lebih mudah mencapai kandung kemih karena jarak tempuhnya lebih kecil. Kebanyakan infeksi saluran kemih tidak memiliki komplikasi.[3]