Sejarah awal
Dinasti Chaulukya merupakan salah satu dari beberapa dinasti yang bangkit di tengah kemunduran Kekaisaran Gurjara-Pratihara dan Rashtrakuta. Pada pertengahan abad kesepuluh M, pendiri dinasti ini, Mularaja, menggantikan Samantasimha, raja Chavda terakhir. Menurut legenda, Mularaja adalah keponakan Samantasimha.
Menurut kronik abad ke-12 karya Hemachandra, Mularaja mengalahkan Graharipu, raja Saurashtra, serta mengalahkan pemimpin Lata Chalukya, Barapa, dengan bantuan putranya, Chamundaraja. Chamundaraja menggantikan Mularaja sekitar tahun 996 M. Pada masa pemerintahannya, raja Paramara, Sindhuraja, tampaknya menyerbu wilayah Lata yang berada di bawah kekuasaan Chaulukya. Mularaja memaksa Sindhuraja mundur; kronik abad ke-14 karya Jayasimha Suri menyebutkan bahwa Chamundaraja membunuh Sindhuraja dalam pertempuran, tetapi klaim ini diragukan karena tidak muncul dalam sumber-sumber sebelumnya.
Sebelum 1007 M, wilayah Lata direbut oleh Chalukya Kalyani yang dipimpin oleh Satyashraya. Sekitar 1008 M, Chamundaraja mengundurkan diri setelah menunjuk putranya, Vallabharaja, sebagai raja berikutnya. Menurut catatan legenda, ia melakukan perjalanan ziarah ke Varanasi, tetapi dihina oleh seorang penguasa di wilayah perjalanan tersebut. Ia kembali ke ibu kota Chaulukya dan meminta putranya untuk membalas penghinaan tersebut. Vallabharaja meninggal karena cacar selama perjalanan menuju kerajaan musuh, yang oleh beberapa kronikus diidentifikasi sebagai kerajaan Paramara di Malwa.
Putra Chamundaraja yang lain, Durlabharaja, menjadi raja berikutnya sekitar 1008 M. Ia menyerbu wilayah Lata dan mengalahkan penguasa Lata Chalukya, Kirtiraja (atau Kirtipala), yang merupakan vasal Chalukya Kalyani. Namun, Kirtiraja berhasil merebut kembali wilayah tersebut dalam waktu singkat sebelum akhirnya dikalahkan oleh raja Paramara, Bhoja.