Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman iniKlasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
Dialek Banyumasan adalah salah satu dialek bahasa Jawa modern yang masih mempunyai kaitan erat dengan fonetik dengan bahasa Jawa Kuno[8] yang sudah tidak ditemui dalam Bahasa Jawa Baku (Solo)
yakni dialek Banyumasan memiliki karakteristik pelafalan huruf ’a’ dan 'k' yang sangat tegas dan jelas serta pelafalan huruf 'h' 'g 'w' 'y' dengan jelas[9][9] selain itu masih banyak kosakata kawi yang dilestarikan dalam dialek Banyumasan.
Sejarah
Sejumlah ahli bahasa Jawa menyebut bahasa Jawa Banyumasan sebagai bentuk bahasa Jawa modern tahap awal setelah bahasa Jawa Tegal dan Bahasa Jawa Indramayu, Bahasa Banyumasan juga merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Pertengahan begitupun seluruh dialek bahasa Jawa modern lainya, yang membedakan Banyumasan masih mempertahankan beberapa karakteristik lama.[5][10]
Bahasa Jawa Banyumasan mengalami tahap-tahap perkembangan sebagai berikut:
Abad ke-6 hingga ke-12, diklasifikasikan sebagai bagian dari bahasa Jawa kuno.
Abad ke-13 hingga ke-15, berkembang menjadi bahasa Jawa abad pertengahan.
Abad ke-16 hingga ke-19, berkembang menjadi Bahasa Jawa Baru dialek Banyumasan, yang terpisah agak jauh dengan dialek lain dalam bahasa Jawa.
Tahap-tahapan perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh munculnya kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang juga menimbulkan tumbuhnya budaya-budaya feodal. Implikasi selanjutnya adalah pada perkembangan bahasa Jawa yang melahirkan tingkatan-tingkatan bahasa berdasarkan status sosial. Namun, pengaruh budaya feodal ini tidak terlalu signifikan memengaruhi masyarakat di wilayah Banyumasan. Meskipun demikian, bahasa krama tetap dibutuhkan untuk berbagai acara formal dan ritual keagamaan. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara bahasa Banyumasan dengan bahasa Jawa standar sehingga di masyarakat Banyumasan timbul istilah bandhêkan untuk merepresentasikan gaya bahasa Jawa standar, atau biasa disebut bahasa Jawa Wetanan (dialek timur).[11]
Menurut M. Koderi, seorang pakar budaya dan bahasa Banyumasan, kata bandhêk secara morfologis berasal dari kata gandhêk yang berarti 'pesuruh' (orang yang diperintah), maksudnya 'orang suruhan raja yang diutus ke wilayah Banyumasan'. Para 'pesuruh' ini tentu menggunakan gaya bahasa Jawa standar (Surakarta–Yogyakarta) yang memang berbeda dengan bahasa Jawa Banyumasan.[12]
Berikut ini dikutip dari perkataan Ahmad Tohari tentang bahasa Jawa Banyumasan.
Dalam kenyataan sehari-hari keberadaan basa Banyumasan termasuk dialek lokal yang sungguh terancam. Maka kita sungguh pantas bertanya dengan nada cemas, tinggal berapa persenkah pengguna basa Banyumasan 20 tahun ke depan? Padahal, bahasa atau dialek adalah salah satu ciri utama suatu suku bangsa. Jelasnya tanpa basa Banyumasan sesungguhnya "wong Penginyongan" boleh dikata akan Terhapus dari peta etnik bangsa ini… Mana bacaan teks-teks lama Banyumasan seperti babad-babad Kamandaka, misalnya, malah lebih banyak ditulis dalam dialek Jawa Wetanan. Jadi sebuah teks yang cukup mewakili budaya dan semangat "wong Penginyongan" harus segera disediakan.
Sebuah fakta empiris dikemukakan oleh Ahmad Tohari, menurutnya penutur asli bahasa Jawa Banyumasan akan 'mengalah' jika berbicara dengan penutur bahasa Jawa Wetanan (dialek Surakarta-Yogyakarta) banyak juga yang menggunakan Bahasa Indonesia ketika bertemu dengan orang Wetanan. Alasannya, penutur bahasa Jawa Banyumasan tidak ingin dicap sebagai 'orang rendahan' karena menggunakan 'bahasa berlogat kasar' selain itu juga untuk mengindari ketidaksalingpahaman dengan kedua dialek tersebut.[13]
Kosakata
Perbandingan kosakata bahasa Jawa Banyumasan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta–Yogyakarta). Di antaranya masih banyak kosakata jawa kuno (kawi) yang masih dilestarikan dalam dialek Banyumasan, selain itu terdapat beberapa kosakata banyumasan yang tidak dapat ditemui di dialek/bahasa manapun.
Berikut ini perbandingan kosakata bahasa Jawa Banyumasan, Tegal, Pekalongan, Indramayu, dan Banten yang termasuk kedalam rumpun dialek Jawa Kulonan.
Banyumasan
Tegal
Pekalongan
Indramayu
Banten
Glosa
inyong, nyong
ênyong, nyong, aku
nyong, aku
kula, réang, isun
kitê
saya
rika, ko, koè, sira (dialek bruno)
kowên, rika
sampéyan, kowé
sira, ira
sirê, irê
Anda, kamu
awaké dhéwék
awaké dhéwék
awaké dhéwék
kita kabeh
kitê
kami
rika kabèh,
sira kabeh (dialek bruno)
kowên kabèh
kowé kabèh
sira kabèh
sirê kabèh
kalian
kiyé, iki
kiyé, iki
iki
kién, iki
kién, puniki, iki
ini
kuwé, ikuh, iku
kuwé, kaé
kuwi, ikuh
kuèn, kuh, iku
kuèn, iku
itu
kéné, ngénéh, mengené
kéné, méné
kéné, méné, mréné
kéné, méné
kéné, mérené
sini
kana, mengana
kana, mana
kana, mono, mrono
kana, mana
kana, merana
sana
kêpriwé, kêpribé
kêprimén, kêpribén
kêpriyé, kêpime
kêpribén, kêpriwén, kêpriyén
kêprémén, kêlipun, kelemen
bagaimana
ora, udu, séjén
ora, dudu, bélih, béléh, séjén
ora, udu, séjén
ora, dudu, bêlih, bli, séjén
orê, udu
tidak, bukan
Kosakata Dialek Wonosobo
Dialek yang dituturkan di Wonosobo,
walaupun menggunakan fonem a seperti apa, pira, ana, tetapi untuk fonem [i] dan [u] dalam sub-dialek wonosobo terkadang berubah menjadi [e] dan [o] (mirip dengan dialek Jawa Timuran) semisal dulur menjadi dolor, titip menjadi tétép.
Selain itu di beberapa kecamatan memiliki ciri khas lain seperti huruf y dibaca z, misalnya mbok ayu (kakak perempuan) menjadi mbok azu, iya menjadi iza, dan dibeberapa kata ditambah huruf /h/ dan /e/, semisal bayar menjadi bheyar, ngarani menjadi ngêrêni dan sebagainya.
↑Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Jawa Banyumasan". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
↑"Bupati Luncurkan Aplikasi Kamus Bahasa Banyumas"[Banyumas Regent Launches Banyumasan Language Dictionary Application]. banyumaskab.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 13 January 2020. Diakses tanggal 15 February 2020.