Dengue
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional. |
| Demam dengue | |
|---|---|
| Nama lain | Dengue, demam berdarah dengue, demam berdarah, breakbone fever[1][2] |
| Ruam khas pada demam dengue | |
| Pelafalan | |
| Spesialisasi | Penyakit infeksi |
| Gejala | Demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, ruam. Dapat tanpa gejala, bersifat ringan, atau berat[1][2] |
| Komplikasi | Perdarahan, kadar trombosit rendah, tekanan darah sangat rendah[2] |
| Awitan umum | 3–14 hari setelah paparan[2] |
| Durasi | 2–7 hari[1] |
| Penyebab | Virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes[1] |
| Metode diagnostik | Deteksi antibodi atau RNA virus[2] |
| Diagnosis banding | Malaria, demam kuning, hepatitis viral, leptospirosis[5] |
| Pencegahan | Vaksin dengue, mengurangi paparan dengan nyamuk[1][6] |
| Pengobatan | Terapi suportif, cairan intravena, transfusi darah[2] |
| Frekuensi | 5 juta per tahun (dunia, 2023),[7] 114.720 (Indonesia, 2023)[8] |
| Kematian | 5.000 per tahun (dunia, 2023),[7] 894 (Indonesia, 2023)[8] |
Demam dengue adalah penyakit yang ditularkan melalui nyamuk yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit ini banyak terjadi di wilayah tropis dan subtropis. Sebagian besar demam dengue tidak bergejala atau menunjukkan gejala ringan.[9][7] Gejala biasanya mulai timbul 3–14 hari setelah infeksi. Gejala-gejala demam dengue meliputi demam tinggi, sakit kepala, muntah, nyeri otot dan sendi, serta gatal dan ruam pada kulit yang khas. Pemulihan biasanya membutuhkan waktu dua sampai tujuh hari. Dalam sejumlah kecil kasus, penyakit ini berkembang menjadi dengue berat (sebelumnya dikenal sebagai demam berdarah dengue atau sindrom renjatan/syok dengue),[10] yang ditandai dengan perdarahan, kadar trombosit rendah, kebocoran plasma darah, dan tekanan darah yang sangat rendah.[1][2]
Virus dengue ditularkan melalui gigitan beberapa spesies nyamuk betina dari genus Aedes, utamanya Aedes aegypti.[1] Virus ini memiliki empat serotipe yang sudah terkonfirmasi. Infeksi oleh salah satu tipe virus biasanya memberikan kekebalan jangka panjang terhadap tipe tersebut, tetapi hanya akan memberikan kekebalan jangka pendek terhadap tipe virus yang lain. Infeksi berikutnya oleh tipe virus yang berbeda meningkatkan risiko terjadinya komplikasi berat dengue, yang disebut sebagai antibody-dependent enhancement (ADE).[11] Gejala dengue menyerupai gejala malaria, influenza, dan Zika.[12] Tes darah untuk penegakan diagnosis mencakup deteksi RNA atau antibodi spesifik terhadap virus.[13]
Infeksi dengue dapat dicegah dengan eliminasi nyamuk dan pencegahan gigitan nyamuk.[14] Dua jenis vaksin dengue telah disetujui penggunaannya dan tersedia secara komersial. Dengvaxia tersedia pada tahun 2016, tetapi vaksin ini hanya direkomendasikan untuk mencegah infeksi ulang pada individu yang sudah pernah terinfeksi sebelumnya.[15] Vaksin kedua, Qdenga, tersedia pada tahun 2022 dan dapat digunakan pada orang dewasa, remaja, dan anak-anak dari usia empat tahun.[16] Pengobatan demam dengue berfokus pada penanganan gejala yang timbul, karena tidak tersedia pengobatan spesifik untuk demam dengue. Pada kasus ringan, terapi difokuskan pada penanganan nyeri. Kasus dengue berat membutuhkan perawatan di rumah sakit. Terapi dengue akut adalah suportif dan meliputi pemberian cairan baik melalui mulut atau intravena.[1][2]
Catatan tertulis paling awal mengenai wabah dengue berasal dari tahun 1779. Virus penyebab dan cara penyebaran penyakit ini diketahui pada awal abad ke-20.[17] Dengue sudah menjadi penyakit endemis pada lebih dari 100 negara, tetapi saat ini dengue juga menyebar dari wilayah tropis dan subtropis ke Semenanjung Iberia dan negara-negara bagian di selatan AS, sebagian dikaitkan dengan perubahan iklim.[7][18] Dengue diklasifikasikan sebagai penyakit tropis terabaikan. Selama tahun 2023, dilaporkan terjadi lebih dari 5 juta infeksi dan lebih dari 5.000 kematian terkait dengue.[7] Karena kebanyakan kasus dengue tidak bergejala atau bersifat ringan, jumlah kasus dan kematian akibat dengue diperkirakan sebenarnya lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak dilaporkan.[7]
Tanda dan gejala
Umumnya, orang yang terinfeksi virus dengue tidak bergejala atau hanya mengalami gejala ringan seperti demam tanpa komplikasi (80%).[19][20] Sekitar 5% mengalami penyakit yang lebih berat, dan pada sebagian kecil kasus, penyakit ini dapat mengancam jiwa.[19][20] Masa inkubasi (waktu antara paparan dan timbulnya gejala) berkisar antara 3 hingga 14 hari, tetapi umumnya 4 hingga 7 hari.[21]
Gejala khas dengue ringan adalah demam mendadak, sakit kepala (umumnya terasa di belakang kedua mata), nyeri otot dan sendi, mual, muntah, pembengkakan kelenjar getah bening, dan ruam.[1][14] Apabila penyakit berkembang menjadi dengue berat, gejala-gejala yang muncul adalah nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, napas cepat, pendarahan pada gusi atau hidung (mimisan), kelelahan, gelisah, muntah darah atau darah pada tinja, rasa haus yang ekstrem, kulit pucat dan dingin, dan rasa lemas.[1]
Perjalanan klinis penyakit


Perjalanan infeksi dibagi ke dalam tiga fase: febril, kritis, dan pemulihan.[22]
Pada fase febril (demam), terjadi demam tinggi yang mencapai 40–41 °C dan nyeri seluruh tubuh serta sakit kepala. Fase ini biasanya berlangsung selama dua hingga tujuh hari.[1][23] Dapat juga terjadi mual, muntah, ruam, dan nyeri di otot dan persendian.[1]
Sebagian besar penderita akan sembuh dalam waktu sekitar satu minggu. Dalam 5% kasus, kondisi dengue akan memburuk dan dapat mengancam jiwa. Kondisi ini disebut sebagai dengue berat (sebelumnya dikenal dengan demam berdarah dengue atau sindrom renjatan/syok dengue).[22][24] Dengue berat dapat menyebabkan syok, perdarahan internal, gagal organ, dan bahkan kematian.[25] Tanda-tanda bahaya meliputi nyeri perut hebat, muntah, kesulitan bernapas, serta mimisan, pendarahan gusi, muntah darah atau darah pada tinja.[25]
Selama periode ini, terjadi kebocoran plasma dari pembuluh darah disertai penurunan jumlah trombosit.[25] Hal ini dapat mengakibatkan penumpukan cairan di rongga dada dan perut serta berkurangnya volume cairan dalam sirkulasi dan penurunan aliran darah ke organ-organ vital.[24]
Fase pemulihan biasanya berlangsung selama dua hingga tiga hari.[24] Perbaikan kondisi penderita sering kali terlihat sangat jelas, dan dapat disertai dengan gatal hebat dan detak jantung yang lambat.[24]
Dengue berat
Klasifikasi Penyakit Internasional dari Organisasi Kesehatan Dunia membagi demam dengue menjadi dua kategori: tanpa komplikasi dan berat.[19] Demam dengue berat didefinisikan sebagai kasus yang disertai pendarahan hebat, disfungsi organ berat, atau kebocoran plasma berat.[26]
Dengue berat dapat terjadi secara tiba-tiba, terkadang setelah beberapa hari saat demam mulai mereda.[25] Kebocoran plasma dari kapiler menyebabkan tekanan darah yang sangat rendah dan syok hipovolemik; pasien dengan kebocoran plasma berat dapat mengalami penumpukan cairan di paru-paru atau perut, rendahnya kadar protein dalam darah, atau pengentalan darah. Dengue berat merupakan kegawatdaruratan medis yang dapat menyebabkan kerusakan organ, yang mengakibatkan kegagalan kerja banyak organ dan kematian.[27]
Komplikasi
Komplikasi setelah dengue berat meliputi kelelahan, rasa kantuk yang berlebihan, sakit kepala, gangguan konsentrasi, dan gangguan daya ingat.[22][28] Wanita hamil yang terinfeksi dengue memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami keguguran, melahirkan bayi dengan berat badan rendah, dan melahirkan prematur.[29]
Anak-anak dan individu lanjut usia lebih berisiko mengalami komplikasi demam dengue dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Anak kecil biasanya mengalami gejala dengue yang lebih berat. Infeksi bersama dengan penyakit tropis lainnya[30] seperti virus Zika dapat memperburuk gejala penyakit dan menyebabkan pemulihan menjadi lebih sulit.[31]
Penyebab
Virologi

Virus dengue (dengue virus, DENV) adalah virus RNA dari famili Flaviviridae, genus Flavivirus. Anggota lain dalam genus yang sama adalah virus demam kuning, virus West Nile, dan virus Zika. Genom (materi genetik) virus dengue mengandung sekitar 11.000 basa nukleotida, yang menyandi tiga molekul protein struktural (C, prM dan E) yang membentuk partikel virus dan tujuh molekul protein lain yang dibutuhkan untuk replikasi virus.[32][33] Terdapat empat serotipe virus yang terkonfirmasi, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan DENV-4. Perbedaan antar serotipe didasarkan pada antigenisitas masing-masing.[34]
Penularan

Virus dengue paling sering ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, khususnya A. aegypti.[35] Nyamuk ini lebih sering menggigit pada subuh dan senja hari,[36] tetapi mereka dapat menggigit dan menyebarkan infeksi di luar waktu tersebut.[37] Spesies Aedes lainnya yang dapat menularkan penyakit dengue adalah A. albopictus, A. polynesiensis dan A. scutellaris. Manusia adalah inang utama virus,[38] tetapi virus ini juga bersirkulasi di primata selain manusia dan dapat menginfeksi mamalia lainnya.[39][40] Infeksi dapat diperoleh melalui satu gigitan saja.[41]
Dalam dua sampai 10 hari setelah baru terinfeksi, aliran darah manusia akan mengandung banyak partikel virus (periode viremia). Nyamuk betina yang mengisap darah dari inang yang terinfeksi kemudian virus berkembang biak di dalam sel-sel epitel ususnya.[42] Selama beberapa hari berikutnya, virus dengue menyebar ke jaringan lain termasuk ke kelenjar liur nyamuk dan dilepaskan ke dalam air liurnya. Saat nyamuk mengisap darah lagi, air liur yang mengandung virus akan disuntikkan ke dalam aliran darah korbannya, sehingga penyakit pun tersebar.[43] Virus tersebut tampaknya tidak memiliki efek yang merugikan pada nyamuk, yang akan tetap terinfeksi seumur hidupnya.[21]
Dengue juga dapat ditularkan melalui produk darah yang terinfeksi dan melalui donor organ.[1] Penularan vertikal (dari ibu ke anak) selama kehamilan atau melahirkan juga telah dilaporkan.[44]
Faktor risiko
Risiko utama infeksi dengue adalah gigitan nyamuk yang terinfeksi.[45] Risiko ini lebih tinggi pada daerah endemis, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, sanitasi buruk, dan genangan air tempat nyamuk dapat berkembang biak.[45] Hal ini dapat dimitigasi dengan mengambil langkah-langkah untuk menghindari gigitan seperti mengenakan pakaian yang menutupi seluruh permukaan kulit, menggunakan kelambu saat beristirahat, dan/atau menggunakan repelan (DEET adalah yang paling efektif).[41]
Penyakit kronis – seperti asma, anemia sel sabit, dan diabetes melitus – meningkatkan risiko terkena dengue berat.[46] Faktor risiko lain untuk dengue berat adalah berjenis kelamin perempuan, usia lanjut (pada dewasa), usia anak-anak yang lebih muda, dan indeks massa tubuh yang tinggi.[22][33][47]

Infeksi oleh salah satu serotipe akan memberikan kekebalan seumur hidup terhadap tipe tersebut, tetapi hanya memberikan perlindungan jangka pendek terhadap tiga tipe lainnya.[23] Infeksi ulang berikutnya oleh serotipe yang berbeda meningkatkan risiko terjadinya komplikasi berat akibat fenomena yang dikenal sebagai antibody-dependent enhancement (ADE).[11][48] Mekanisme pasti ADE belum sepenuhnya dipahami.[48] ADE tampaknya terjadi ketika antibodi yang dihasilkan selama respons imun mengenali dan berikatan dengan patogen, tetapi mereka gagal menetralkannya. Sebaliknya, kompleks antibodi-virus memiliki kemampuan yang meningkat untuk berikatan dengan reseptor Fcγ dari sel imun target, yang memungkinkan virus menginfeksi sel dan memperbanyak dirinya sendiri.[48][49]
Mekanisme infeksi
Ketika nyamuk yang membawa virus dengue menggigit seseorang, virus tersebut akan masuk ke dalam kulit bersama air liur nyamuk. Virus tersebut menginfeksi sel-sel kulit di sekitarnya, yaitu keratinosit, serta sel-sel imun spesifik yang terletak di kulit, yaitu sel Langerhans.[46] Sel-sel Langerhans bermigrasi ke kelenjar getah bening, di mana infeksi akan menyebar ke sel-sel darah putih dan berkembang biak di sana sambil berpindah-pindah di sepanjang tubuh orang tersebut.[50]
Sel-sel darah putih bereaksi dengan cara menghasilkan sejumlah protein pemberi sinyal, seperti sitokin dan interferon, yang bertanggung jawab atas timbulnya banyak gejala, seperti demam, gejala yang menyerupai flu, dan nyeri hebat. Pada infeksi berat, produksi virus dalam tubuh sangat meningkat, dan lebih banyak organ (seperti hati dan sumsum tulang) yang dapat terdampak. Cairan dari aliran darah bocor melalui dinding-dinding pembuluh darah kecil ke dalam rongga-rongga tubuh akibat peningkatan permeabilitas kapiler. Sebagai akibatnya, volume darah berkurang, dan tekanan darah menjadi sangat rendah sehingga organ-organ vital tidak mendapat pasokan darah yang cukup. Penyebaran virus ke sumsum tulang menyebabkan penurunan jumlah trombosit, yang dibutuhkan untuk pembekuan darah yang efektif; hal ini meningkatkan risiko terjadinya perdarahan, komplikasi serius lainnya dari demam dengue.[50]
Diagnosis

Demam dengue ringan dapat mudah tertukar dengan beberapa penyakit umum seperti influenza, campak, chikungunya, dan zika.[51][52] Dengue, chikungunya dan zika memiliki cara penularan yang sama (nyamuk Aedes) dan sering kali merupakan endemis di satu wilayah yang sama, sehingga infeksi lebih dari satu penyakit tersebut secara bersamaan mungkin terjadi.[53] Bagi para wisatawan, diagnosis demam dengue harus dipertimbangkan pada siapa saja yang mengalami demam dalam dua minggu setelah mengunjungi daerah tropis atau subtropis.[22]
Tanda bahaya dengue berat meliputi nyeri perut, muntah terus-menerus, edema, pendarahan, letargi, dan pembesaran hati. Gejala-gejala ini dapat disalahartikan sebagai penyakit lain seperti malaria, gastroenteritis, leptospirosis, dan tifus.[51]
Tes darah dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dengue. Selama beberapa hari pertama infeksi, enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dapat digunakan untuk mendeteksi antigen NS1; tetapi antigen ini diproduksi oleh semua flavivirus.[13][53] Pada hari keempat atau kelima infeksi, antibodi IgM anti-dengue dapat terdeteksi, tetapi pemeriksaan ini tidak dapat menentukan serotipe virus.[53] Tes amplifikasi asam nukleat merupakan metode diagnosis yang paling dapat andal.[13]
Tes tourniquet berguna apabila tes laboratorium tidak dapat dilakukan. Untuk melakukan tes tourniquet, petugas kesehatan akan memasang manset alat pengukur tekanan darah di lengan pasien. Manset dikembangkan, lalu dibiarkan selama 5 menit. Kemudian, petugas kesehatan akan menghitung petekie (bintik-bintik merah kecil) di kulit pasien. Hasil tes dikatakan positif jika terdapat lebih dari 10 petekie per 2,54 cm2.[54]
Klasifikasi lama
Klasifikasi demam dengue terbaru (2009) adalah demam dengue tanpa komplikasi dan dengue berat. Namun, masih banyak pihak yang menggunakan klasifikasi lama (1997), yaitu demam dengue, demam berdarah dengue, dan sindrom renjatan/syok dengue karena menganggap klasifikasi dengue terbaru memiliki definisi yang kurang jelas.[55]
| DD/DBD | Derajat | Tanda dan gejala | Hasil laboratorium |
|---|---|---|---|
| DD | Demam dan dua gejala/tanda berikut:
|
| |
| DBD | I | Demam dan manifestasi pendarahan (tes tourniquet positif) dan bukti kebocoran plasma |
|
| DBD | II | Seperti derajat I ditambah adanya pendarahan spontan |
|
| DBD | III | Seperti derajat I atau II ditambah adanya kegagalan sirkulasi (denyut nadi lambat, tekanan nadi sempit (≤ 20mmHg), hipotensi, gelisah |
|
| DBD | IV | Seperti derajat III ditambah adanya renjatan/syok berat; tekanan darah dan nadi tidak terdeteksi |
|
Derajat III dan IV demam berdarah disebut "sindrom renjatan/syok dengue."[56][57]
Pencegahan
Kontrol vektor

Risiko utama infeksi dengue adalah gigitan dari nyamuk yang terinfeksi.[1] Hal ini lebih mungkin terjadi di daerah endemis, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi, sanitasi buruk, dan genangan air tempat nyamuk dapat berkembang biak.[45] Risiko ini dapat dikurangi dengan mengambil langkah-langkah untuk menghindari gigitan nyamuk seperti mengenakan pakaian yang menutupi seluruh permukaan kulit, menggunakan kelambu saat beristirahat, dan/atau menggunakan repelan (DEET adalah yang paling efektif).[41] Disarankan juga untuk menggunakan permetrin 0,5% pada pakaian, kelambu, dan tenda.[58]
Perlindungan pada rumah dapat dilakukan dengan memasang kasa pada pintu dan jendela, menggunakan pendingin udara, dan rutin mengosongkan dan membersihkan semua tempat penampungan air baik di dalam maupun di luar rumah yang dapat menjadi tempat nyamuk bertelur (seperti ember, pot tanaman, kolam atau tempat sampah).[58]

Metode utama pengendalian A. aegypti adalah dengan menghilangkan habitatnya. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan sumber air terbuka, atau jika hal ini tidak mungkin untuk dilakukan, dengan menambahkan insektisida atau agen pengendalian biologis ke area ini. Penyemprotan insektisida organofosfat atau piretroid secara luas, meskipun kadang-kadang dilakukan, dianggap tidak efektif.[20] Mengurangi penampungan air terbuka melalui modifikasi lingkungan adalah metode pengendalian yang lebih disukai, mengingat kekhawatiran akan dampak kesehatan negatif dari insektisida dan kesulitan logistik yang lebih besar dengan agen pengendalian. Idealnya, pengendalian nyamuk menjadi kegiatan masyarakat, misalnya ketika semua anggota masyarakat membersihkan selokan dan saluran air jalan yang tersumbat serta menjaga halaman rumah mereka bebas dari wadah berisi air.[59] Jika tempat tinggal memiliki sambungan air langsung, hal ini dapat menghilangkan kebutuhan akan sumur atau pompa air jalanan dan wadah pembawa air.[59]
Vaksin
Sampai Maret 2024, terdapat dua vaksin untuk pencegahan infeksi dengue, yaitu Dengvaxia dan Qdenga.[60]

Dengvaxia (sebelumnya CYD-TDV) tersedia sejak tahun 2015, dan penggunaannya disetujui di AS, Uni Eropa, dan beberapa negara Asia dan Amerika Latin.[61] Vaksin ini terbuat dari virus yang dilemahkan, sesuai untuk individu berusia 6–45 tahun, dan memberikan perlindungan terhadap keempat serotipe dengue.[62] Akibat adanya kekhawatiran keamanan akan antibody-dependent enhancement (ADE), vaksin ini hanya boleh diberikan pada individu yang sebelumnya pernah terinfeksi dengue guna mencegah terjadinya infeksi ulang.[63] Vaksin ini diberikan secara subkutan dalam tiga dosis dengan interval enam bulan.[64] Produsen vaksin ini, Sanofi Pasteur, menyatakan akan menghentikan produksi Dengvaxia pada tahun 2026 karena rendahnya permintaan global.[65]
Qdenga (sebelumnya TAK-003) menyelesaikan uji klinis pada tahun 2022 dan disetujui penggunaannya di Uni Eropa pada Desember 2022.[60] Vaksin ini juga telah disetujui di sejumlah negara lain termasuk Indonesia dan Brazil, dan telah direkomendasikan oleh komite SAGE dari Organisasi Kesehatan Dunia.[66] Vaksin ini diindikasikan untuk pencegahan dengue pada individu berusia empat tahun ke atas, dan dapat diberikan pada orang yang belum pernah terinfeksi dengue sebelumnya. Vaksin ini terbuat dari virus hidup yang dilemahkan dan mengandung empat serotipe virus dengue. Qdenga diberikan secara subkutan dalam dua dosis dengan interval tiga bulan.[60]
Tatalaksana
Hingga Juli 2024, tidak ada obat antivirus spesifik yang tersedia untuk demam dengue.[67]
Sebagian besar kasus demam dengue memiliki gejala ringan, dan pemulihan berlangsung dalam beberapa hari.[1] Kasus seperti ini umumnya tidak membutuhkan pengobatan khusus. Parasetamol dapat digunakan untuk meringankan demam ringan atau nyeri. Pereda nyeri lainnya, seperti aspirin, ibuprofen, dan naproksen tidak boleh digunakan karena dapat meningkatkan risiko pendarahan.[67]
Untuk kasus demam dengue sedang, pasien yang dapat minum, mengeluarkan urin dalam jumlah cukup (0,5–1 ml/kg berat badan/jam), tidak menunjukkan tanda-tanda bahaya, dan secara umum dalam kondisi cukup baik, dapat dirawat di rumah dengan pemantauan ketat. Terapi suportif yang direkomendasikan meliputi pemberian analgesik, penggantian cairan, dan tirah baring.[24][68]
Dengue berat adalah kegawatdaruratan yang mengancam jiwa, membutuhkan perawatan di rumah sakit, dan dapat memerlukan perawatan di unit intensif.[25] Tanda-tanda bahaya dengue mencakup dehidrasi, penurunan trombosit, dan peningkatan hematokrit.[69] Tatalaksana dengue berat meliputi pemberian cairan intravena[68] dan, jika diperlukan, transfusi trombosit atau plasma.[68]
Prognosis
Sebagian besar pasien dengue pulih tanpa komplikasi jangka panjang. Risiko kematian pada pasien dengan dengue berat adalah 0,8–2,5%,[2] dan dengan pengobatan yang memadai, risiko ini kurang dari 1%. Namun, mereka yang mengalami tekanan darah yang sangat rendah memiliki angka kematian hingga 26%.[24] Risiko kematian pada anak-anak di bawah usia lima tahun adalah empat kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang berusia di atas sepuluh tahun.[2] Pasien lanjut usia juga berada dalam risiko lebih tinggi untuk mengalami perburukan.[2]
Epidemiologi

| Peta daring menunjukkan laporan kasus demam dengue | |
Sampai Maret 2023, dengue merupakan penyakit endemik pada lebih dari 100 negara. Kasus dengue telah dilaporkan di seluruh benua, kecuali Antarktika.[1][70] Wilayah Amerika, Asia Tenggara, dan Pasifik Barat merupakan wilayah yang paling terdampak.[1][71] Sulit untuk memperkirakan besarnya beban penyakit ini karena banyak kasus yang bersifat ringan dan tidak terdiagnosis dengan tepat. Saat ini, WHO memperkirakan bahwa 3,9 miliar orang berisiko terkena infeksi dengue.[71] Pada tahun 2013, diperkirakan terjadi 390 juta infeksi dengue setiap tahunnya di seluruh dunia, dengan 500.000 di antaranya mengalami gejala berat dan 25.000 kematian.[72][73] Di Indonesia, infeksi dengue diperkirakan mencapai 114.720 kasus dan menyebabkan 894 kematian pada tahun yang sama.[8]
Umumnya, daerah-daerah endemis dengue hanya memiliki satu serotipe virus yang beredar. Penyakit ini dikatakan hiperendemik di daerah dengan lebih dari satu serotipe yang beredar; hal ini meningkatkan risiko terjadinya dengue berat pada infeksi kedua atau berikutnya.[74]
Infeksi paling sering didapatkan di lingkungan perkotaan, di mana virus utamanya ditularkan oleh spesies nyamuk Aedes aegypti.[21] Spesies ini telah beradaptasi dengan lingkungan perkotaan, umumnya ditemukan dekat dengan tempat tinggal manusia, lebih menyukai manusia sebagai inangnya, dan memanfaatkan genangan air kecil (seperti tangki dan ember) untuk berkembang biak. Di daerah pedesaan, virus ditularkan ke manusia oleh A. aegypti dan nyamuk lainnya seperti Aedes albopictus.[21] Kedua spesies ini memiliki jangkauan yang semakin meluas.[22] Terdapat dua subspesies Aedes aegypti; Aedes aegypti formosus yang dapat ditemukan di habitat alami seperti hutan dan Aedes aegypti aegypti yang telah beradaptasi dengan lingkungan domestik perkotaan.[75]
Insidensi dengue telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir, dengan WHO mencatat adanya peningkatan kasus sebesar sepuluh kali lipat antara tahun 2010 dan 2019 (dari 500.000 menjadi 5 juta kasus yang tercatat).[1] Peningkatan ini terkait erat dengan meluasnya persebaran nyamuk Aedes yang disebabkan oleh kombinasi antara urbanisasi, pertumbuhan populasi, dan iklim dunia yang semakin hangat.[19][76] Di daerah endemis, infeksi dengue mencapai puncaknya ketika curah hujan optimal untuk perkembangbiakan nyamuk.[77] Pada bulan Oktober 2023, kasus pertama dengue bergejala yang didapat dari penularan lokal (yaitu, bukan diperoleh saat bepergian) tercatat di California, Amerika Serikat.[78]
Penyakit ini menginfeksi semua ras, jenis kelamin, dan usia secara merata. Di daerah endemis, infeksi dengue paling sering dijumpai pada anak-anak yang kemudian memperoleh kekebalan parsial seumur hidup.[73]
Sejarah
Catatan sejarah pertama tentang kasus kemungkinan demam dengue ada dalam sebuah ensiklopedia medis Tiongkok dari Dinasti Jin (266–420) yang merujuk pada "racun air" yang dikaitkan dengan serangga terbang.[79][80]
Vektor nyamuk utama demam dengue, Aedes aegypti, menyebar dari Afrika pada abad ke-15 hingga ke-19 akibat perdagangan budak dan perluasan perdagangan internasional yang menyertainya.[22] Terdapat laporan mengenai epidemi penyakit mirip dengue pada abad ke-17, dan kemungkinan besar epidemi di Jakarta, Kairo, dan Philadelphia selama abad ke-18 disebabkan oleh demam dengue.[79][81]
Diasumsikan bahwa dengue secara terus-menerus terdapat di banyak pusat kota tropis sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, meskipun jarang terjadi wabah yang signifikan.[79] Penyebaran kasus dengue yang masif selama dan setelah Perang Dunia Kedua sebagian dikaitkan dengan gangguan akibat perang, dan sebagian lagi dikaitkan dengan urbanisasi di Asia Tenggara di kemudian hari.[79] Ketika serotipe baru diperkenalkan ke wilayah yang sudah menjadi wilayah endemis dengue, wabah penyakit berat pun terjadi. Bentuk berat dari penyakit ini pertama kali dilaporkan di Filipina pada tahun 1953; pada tahun 1970-an, penyakit ini telah diakui sebagai penyebab utama kematian anak di Asia Tenggara.[79]
Di Amerika Tengah dan Selatan, nyamuk Aedes telah berhasil dieradikasi pada tahun 1950-an; namun program pemberantasan dihentikan pada tahun 1970-an dan penyakit ini muncul kembali di wilayah tersebut selama tahun 1980-an, menjadi hiperendemik, dan menyebabkan epidemi yang signifikan.[79]
Prevalensi dengue terus meningkat selama abad ke-21, karena vektor nyamuk terus memperluas wilayah jangkauannya. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh urbanisasi yang terus-menerus, dan sebagian lagi merupakan dampak pemanasan iklim.[82]
Etimologi
Nama penyakit ini masuk ke dalam bahasa Inggris pada awal abad ke-19 dari bahasa Spanyol Hindia Barat, yang meminjamnya dari istilah Kiswahili dinga/denga, yang berarti "kejang seperti kram" – istilah lengkap untuk kondisi tersebut adalah ki-dinga pepo: "semacam kejang seperti kram (yang disebabkan oleh) roh jahat".[83] Istilah yang dipinjam tersebut berubah menjadi dengue dalam bahasa Spanyol karena kata tersebut ada dalam bahasa Spanyol dengan arti "ketidaknyamanan terhadap gerakan" dan etimologi rakyat ini merujuk pada keengganan untuk bergerak oleh pasien yang terdampak.[80] Para budak di Hindia Barat yang terjangkit dengue dikatakan memiliki postur dan gaya berjalan seperti seorang pesolek, sehingga penyakit tersebut dikenal sebagai "demam pesolek".[84][85]
Istilah break-bone fever (bahasa Indonesia: demam patah tulang) diberikan oleh dokter dan Bapak Pendiri Amerika Serikat Benjamin Rush dalam sebuah laporan tahun 1789 tentang epidemi di Philadelphia tahun 1780, karena nyeri otot dan sendi yang terkait penyakit. Dalam judul laporan tersebut, ia menggunakan istilah yang lebih formal, "bilious remitting fever" (bahasa Indonesia: demam remiten bilier).[86][87] Istilah demam dengue baru digunakan secara umum setelah tahun 1828.[85] Istilah bersejarah lainnya meliputi "breakheart fever" dan "la dengue".[85] Istilah untuk dengue berat meliputi "purpura trombositopenik infeksius" dan "demam berdarah Filipina", "Thailand", atau "Singapura".[85]
Arah penelitian
Arah penelitian meliputi patogenesis (proses terjadinya penyakit pada manusia) dengue serta aspek biologi, ekologi, dan perilaku dari vektor nyamuk. Perkembangan metode diagnostik akan memungkinkan pemberian terapi yang lebih cepat dan tepat.[88] Upaya pengembangan obat antivirus yang menargetkan protein NS3 atau NS5 masih berlangsung.[89]
Selain dua vaksin yang sudah tersedia saat ini, beberapa kandidat vaksin juga sedang dalam tahap pengembangan.[90]
Area riset aktif saat ini sedang mengembangkan model eksperimental untuk dengue di luar model hewan eksperimental. Organ Chips dan Lab-on-Chips sedang dikembangkan untuk menjadi model sindrom kebocoran dengue dan mekanopatologi.[91][92]
Efek perubahan iklim
Meningkatnya suhu dan perubahan pola curah hujan bumi memperluas musim dan habitat nyamuk Aedes, vektor utama penyakit ini.[93] Di India, sebuah penelitian telah mengembangkan sistem peringatan dini yang menganalisis faktor iklim regional—seperti suhu, curah hujan, dan kelembapan—untuk memprediksi potensi wabah demam dengue dua bulan sebelumnya, meningkatkan kesiapsiagaan dan strategi respons.[94][95] Proyeksi pada masa mendatang menunjukkan bahwa risiko penularan demam dengue akan terus meningkat seiring dengan kenaikan suhu.[94]
Masyarakat dan budaya
Donor darah
Wabah demam dengue meningkatkan kebutuhan akan produk darah sekaligus menurunkan jumlah calon pendonor darah karena risiko infeksi virus pada calon pendonor.[96] Seseorang yang terinfeksi dengue umumnya tidak diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya setidaknya selama enam bulan ke depan.[96]
Kesadaran publik

Hari Anti-Dengue Internasional diperingati setiap tanggal 15 Juni di beberapa negara.[97] Gagasan ini pertama kali disepakati pada tahun 2010, dengan peringatan pertama diadakan di Jakarta, Indonesia pada tahun 2011.[97] Peringatan berikutnya diadakan di Yangon, Myanmar pada tahun 2012 dan Vietnam pada tahun 2013.[97] Tujuan peringatan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dengue, memobilisasi sumber daya untuk pencegahan dan pengendalian penyakit, serta menunjukkan komitmen kawasan Asia Tenggara dalam menanggulangi penyakit ini.[98] Berbagai usaha dilakukan sampai tahun 2019 untuk menjadikan peringatan ini sebagai peringatan global.[99]
Di Indonesia, Hari Demam Berdarah Nasional diperingati setiap tanggal 22 April.[100]
Beban ekonomi
Gejala yang menetap berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan biaya medis dan beban ekonomi di luar fase akut.[101] Sebuah penelitian memperkirakan bahwa beban global dengue pada tahun 2013 mencapai US$8,9 miliar.[102]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 "Dengue and severe dengue". World Health Organization. 17 Maret 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Maret 2024. Diakses tanggal 10 Februari 2024.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Kularatne SA (September 2015). "Dengue fever". BMJ. 351: h4661. doi:10.1136/bmj.h4661. PMID 26374064. S2CID 1680504.
- ↑ dengue Diarsipkan 17 Juli 2022 di Wayback Machine. in the Merriam-Webster Dictionary
- ↑ dengue in Oxford Dictionaries
- ↑ Nelson Textbook of Pediatrics: The field of pediatrics. Elsevier Health Sciences. 2016. hlm. 1631. ISBN 978-1-4557-7566-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2017.
- ↑ East S (6 April 2016). "World's first dengue fever vaccine launched in the Philippines". CNN. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 Oktober 2016. Diakses tanggal 17 Oktober 2016.
- 1 2 3 4 5 6 "Dengue- Global situation". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Februari 2024. Diakses tanggal 13 Februari 2024.
- 1 2 3 "Waspada Penyakit di Musim Hujan". Kemenkes. 14 November 2024. Diakses tanggal 3 Mei 2025.
- ↑ De Santis, Olga; Bouscaren, Nicolas; Flahault, Antoine (2023). "Asymptomatic dengue infection rate: A systematic literature review". Heliyon. 9 (9): e20069. Bibcode:2023Heliy...920069D. doi:10.1016/j.heliyon.2023.e20069. PMC 10559824. PMID 37809992. Diakses tanggal 2 April 2025.
- ↑ Alejandria MM (April 2015). "Dengue haemorrhagic fever or dengue shock syndrome in children". BMJ Clinical Evidence. 2015: 0917. PMC 4392842. PMID 25860404.
- 1 2 "Dengue | CDC Yellow Book 2024". Centers for Disease Control and Prevention. 1 Mei 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Februari 2024. Diakses tanggal 14 Februari 2024.
- ↑ Schaefer TJ, Panda PK, Wolford RW (14 November 2022). "Dengue Fever". StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. PMID 28613483. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Desember 2021. Diakses tanggal 13 Februari 2022.
- 1 2 3 "Dengue Diagnosis | CDC". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). 13 Juni 2019. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Februari 2024. Diakses tanggal 14 Februari 2024.
- 1 2 "Dengue: How to keep children safe | UNICEF South Asia". www.unicef.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Februari 2024. Diakses tanggal 13 Februari 2024.
- ↑ "Dengue vaccine: WHO position paper – September 2018" (PDF). Weekly Epidemiological Record. 36 (93): 457–76. 7 September 2018. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 Januari 2019. Diakses tanggal 12 April 2019.
- ↑ "Qdenga | European Medicines Agency". European Medicines Agency. 16 Desember 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Februari 2024. Diakses tanggal 14 Februari 2024.
- ↑ Henchal EA, Putnak JR (Oktober 1990). "The dengue viruses". Clinical Microbiology Reviews. 3 (4): 376–396. doi:10.1128/CMR.3.4.376. PMC 358169. PMID 2224837.
- ↑ Paz-Bailey G, Adams LE, Deen J, Anderson KB, Katzelnick LC (Februari 2024). "Dengue". Lancet. 403 (10427): 667–682. doi:10.1016/S0140-6736(23)02576-X. PMID 38280388. S2CID 267201333.
- 1 2 3 4 Whitehorn J, Farrar J (2010). "Dengue". Br. Med. Bull. 95: 161–73. doi:10.1093/bmb/ldq019. PMID 20616106.
- 1 2 3 Reiter P (Maret 2010). "Yellow fever and dengue: a threat to Europe?". Euro Surveillance. 15 (10): 19509. doi:10.2807/ese.15.10.19509-en. PMID 20403310. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Juli 2011.
- 1 2 3 4 Gubler (2010), p. 379.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Simmons CP, Farrar JJ, Nguyen V, Wills B (April 2012). "Dengue" (PDF). The New England Journal of Medicine. 366 (15): 1423–1432. doi:10.1056/NEJMra1110265. hdl:11343/191104. PMID 22494122. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 August 2021. Diakses tanggal 24 September 2019.
- 1 2 Chen LH, Wilson ME (2010). "Dengue and chikungunya infections in travelers". Curr. Opin. Infect. Dis. 23 (5): 438–44. doi:10.1097/QCO.0b013e32833c1d16. PMID 20581669.
- 1 2 3 4 5 6 Ranjit S, Kissoon N (Januari 2011). "Dengue hemorrhagic fever and shock syndromes". Pediatric Critical Care Medicine. 12 (1): 90–100. doi:10.1097/PCC.0b013e3181e911a7. PMID 20639791. S2CID 10135251.
- 1 2 3 4 5 "Dengue fever - Symptoms and causes". Mayo Clinic (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 Februari 2024. Diakses tanggal 25 Februari 2024.
- ↑ "International Classification of Diseases (ICD-11)". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). 1 Januari 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 September 2023. Diakses tanggal 28 Februari 2024.
- ↑ CDC (13 April 2023). "Dengue Clinical Presentation | CDC". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Februari 2024. Diakses tanggal 29 Februari 2024.
- ↑ Kalimuddin S, Teh YE, Wee LE, Paintal S, Sasisekharan R, Low JG, Sheth SK, Ooi EE (Agustus 2022). "Chronic sequelae complicate convalescence from both dengue and acute viral respiratory illness". PLOS Neglected Tropical Diseases. 16 (8): e0010724. doi:10.1371/journal.pntd.0010724. PMC 9426910. PMID 35981059.
- ↑ Paixão ES, Teixeira MG, Costa MD, Rodrigues LC (Juli 2016). "Dengue during pregnancy and adverse fetal outcomes: a systematic review and meta-analysis". The Lancet. Infectious Diseases. 16 (7): 857–865. doi:10.1016/S1473-3099(16)00088-8. PMID 26949028. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Agustus 2021. Diakses tanggal 5 Desember 2019.
- ↑ Rothman AL (Juli 2011). "Immunity to dengue virus: a tale of original antigenic sin and tropical cytokine storms". Nature Reviews. Immunology. 11 (8): 532–543. doi:10.1038/nri3014. PMID 21760609.
- ↑ Zanluca, C., & Duarte dos Santos, C. N. (2016). Zika virus – an overview. Microbes and Infection, 18(5), 295-301. Diakses tanggal 27 September 2024
- ↑ Rodenhuis-Zybert IA, Wilschut J, Smit JM (Agustus 2010). "Dengue virus life cycle: viral and host factors modulating infectivity" (PDF). Cellular and Molecular Life Sciences. 67 (16): 2773–2786. doi:10.1007/s00018-010-0357-z. PMC 11115823. PMID 20372965. S2CID 4232236. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Oktober 2022.
- 1 2 Guzman MG, Halstead SB, Artsob H, Buchy P, Farrar J, Gubler DJ, Hunsperger E, Kroeger A, Margolis HS, Martínez E, Nathan MB, Pelegrino JL, Simmons C, Yoksan S, Peeling RW (Desember 2010). "Dengue: a continuing global threat". Nature Reviews. Microbiology. 8 (12 Suppl): S7-16. doi:10.1038/nrmicro2460. PMC 4333201. PMID 21079655.
- ↑ Solomonides T (2010). Healthgrid applications and core technologies : proceedings of HealthGrid 2010 (Edisi [Online-Ausg.]). Amsterdam: IOS Press. hlm. 235. ISBN 978-1-60750-582-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Mei 2016.
- ↑ WHO (2009), pp. 14–16.
- ↑ Global Strategy For Dengue Prevention And Control (PDF). World Health Organization. 2012. hlm. 16–17. ISBN 978-92-4-150403-4. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 Oktober 2012.
- ↑ "Travelers' Health Outbreak Notice". Centers for Disease Control and Prevention. 2 Juni 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 26 Agustus 2010. Diakses tanggal 27 Agustus 2010.
- ↑ Gould EA, Solomon T (Februari 2008). "Pathogenic flaviviruses". Lancet. 371 (9611): 500–509. doi:10.1016/S0140-6736(08)60238-X. PMID 18262042. S2CID 205949828. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Agustus 2021. Diakses tanggal 6 Juni 2020.
- ↑ Gwee SX, St John AL, Gray GC, Pang J (Juni 2021). "Animals as potential reservoirs for dengue transmission: A systematic review". One Health. 12: 100216. doi:10.1016/j.onehlt.2021.100216. PMC 7868715. PMID 33598525.
- ↑ "Vector-borne viral infections". World Health Organization. Diarsipkan dari asli tanggal 3 Februari 2011. Diakses tanggal 17 Januari 2011.
- 1 2 3 Center for Disease Control and Prevention. "Chapter 5 – dengue fever (DF) and dengue hemorrhagic fever (DHF)". 2010 Yellow Book. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Desember 2010. Diakses tanggal 23 Desember 2010.
- ↑ St Georgiev V (2009). National Institute of Allergy and Infectious Diseases, NIH (Edisi 1). Totowa, N.J.: Humana. hlm. 268. ISBN 978-1-60327-297-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Mei 2016.
- ↑ "Dengue Transmission | Learn Science at Scitable". © 2014 Nature Education (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 Februari 2024. Diakses tanggal 28 Februari 2024.
- ↑ Wiwanitkit V (November 2010). "Unusual mode of transmission of dengue". Journal of Infection in Developing Countries. 4 (1): 51–4. PMID 20130380. Pemeliharaan CS1: Tahun (link)
- 1 2 3 Bisen PS, Raghuvanshi R (22 Juli 2013). Emerging Epidemics: Management and Control (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Wiley. doi:10.1002/9781118393277.ch8. ISBN 978-1-118-39323-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2024. Diakses tanggal 23 Februari 2024.
- 1 2 "Host Response to the Dengue Virus | Learn Science at Scitable". www.nature.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 Februari 2024. Diakses tanggal 28 Februari 2024.
- ↑ Sangkaew, S; Ming, D; Boonyasiri, A; Honeyford, K; Kalayanarooj, S; Yacoub, S; et al. (1 Juli 2021). "Risk predictors of progression to severe disease during the febrile phase of dengue: a systematic review and meta-analysis". The Lancet Infectious Diseases. 21 (7): 1014–1026. doi:10.1016/S1473-3099(20)30601-0. ISSN 1473-3099. PMID 33640077.
- 1 2 3 Teo A, Tan HD, Loy T, Chia PY, Chua CL (Maret 2023). "Understanding antibody-dependent enhancement in dengue: Are afucosylated IgG1s a concern?". PLOS Pathogens. 19 (3): e1011223. doi:10.1371/journal.ppat.1011223. PMC 10062565. PMID 36996026.
- ↑ "Antibody-dependent Enhancement (ADE) and Vaccines". The Children's Hospital of Philadelphia. 7 Desember 2020. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 Februari 2024. Diakses tanggal 29 Februari 2024.
- 1 2 Martina BE, Koraka P, Osterhaus AD (Oktober 2009). "Dengue virus pathogenesis: an integrated view". Clinical Microbiology Reviews. 22 (4): 564–581. doi:10.1128/CMR.00035-09. PMC 2772360. PMID 19822889.
- 1 2 Dengue guidelines, for diagnosis, treatment, prevention and control (dalam bahasa Inggris). World Health Organization. 21 April 2009. hlm. 46. ISBN 978-92-4-154787-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Maret 2024. Diakses tanggal 7 Maret 2024.
Textbox B and Textbox C.
- ↑ "Dengue - Infectious Diseases". MSD Manual Professional Edition (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Maret 2024. Diakses tanggal 4 Maret 2024.
- 1 2 3 Beltrán-Silva SL, Chacón-Hernández SS, Moreno-Palacios E, Pereyra-Molina JÁ (1 Juli 2018). "Clinical and differential diagnosis: Dengue, chikungunya and Zika". Revista Médica del Hospital General de México (dalam bahasa Inggris). 81 (3): 146–153. doi:10.1016/j.hgmx.2016.09.011. ISSN 0185-1063. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Maret 2024. Diakses tanggal 7 Maret 2024.
- ↑ Wilkinson, Ian B.; Raine, Tim; Wiles, Kate; Hateley, Peter; Kelly, Dearbhla; McGurgan, lain (2024). Oxford Handbook of Clinical Medicine (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. hlm. 416. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Papadakis, Maxine A.; Rabow, Michael W.; McQuaid, Kenneth R. (2025). Current Medical Diagnosis & Treatment 2025, Sixty-Fourth Edition. McGraw Hill. hlm. 1380. ISBN 978-1-2662-6623-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 WHO (1997). "Chapter 2: clinical diagnosis". Dengue haemorrhagic fever: diagnosis, treatment, prevention and control (PDF) (Edisi 2nd). Geneva: World Health Organization. hlm. 12–23. ISBN 9241545003.
- ↑ WHO (2009), pp. 10–11.
- 1 2 CDC (20 Oktober 2023). "Traveling? Avoid Dengue". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Maret 2024. Diakses tanggal 8 Maret 2024.
- 1 2 "Controlling Dengue Outbreaks | Learn Science at Scitable". www.nature.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Maret 2024. Diakses tanggal 8 Maret 2024.
- 1 2 3 "Factsheet about dengue". www.ecdc.europa.eu (dalam bahasa Inggris). 7 Agustus 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Februari 2024. Diakses tanggal 8 Maret 2024.
- ↑ "Information on Dengvaxia®". www.sanofi.com (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Maret 2024. Diakses tanggal 8 Maret 2024.
- ↑ "Dengvaxia : EPAR - Medicine overview" (PDF). European Medicines Agency. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2024. Diakses tanggal 9 Maret 2024.
- ↑ "Sanofi restricts dengue vaccine but downplays antibody enhancement | CIDRAP". Center for Infectious Disease Research & Policy (dalam bahasa Inggris). 1 Desember 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 Maret 2024. Diakses tanggal 9 Maret 2024.
- ↑ "Administering the Dengue Vaccine". www.cdc.gov (dalam bahasa American English). 26 April 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 Maret 2024. Diakses tanggal 8 Maret 2024.
- ↑ "Dengue vaccine | Johns Hopkins ABX Guide". Johns Hopkins ABX Guide (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 4 Desember 2025.
- ↑ "Message by the Director of the Department of Immunization, Vaccines and Biologicals at WHO - September 2023". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Maret 2024. Diakses tanggal 8 Maret 2024.
- 1 2 "Dengue fever - Diagnosis and treatment". Mayo Clinic (dalam bahasa Inggris). 5 Oktober 2022. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Maret 2024. Diakses tanggal 10 Maret 2024.
- 1 2 3 Smith DS, Mariano DJ, Trautwein ML (16 November 2022). Bronze MS (ed.). "Dengue Treatment & Management". Medscape. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Maret 2024. Diakses tanggal 10 Maret 2024.
- ↑ "Dengue Case Management" (PDF). Centers for Disease Control and Prevention. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 10 Maret 2024. Diakses tanggal 10 Maret 2024.
- ↑ CDC (21 September 2023). "Dengue Areas of Risk Around the World | CDC". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 17 Maret 2024.
- 1 2 Tidy C (22 Juni 2022). Vakharia K (ed.). "Dengue (Causes, Symptoms, and Treatment)". patient.info (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 14 Maret 2024.
- ↑ Bhatt S, Gething PW, Brady OJ, Messina JP, Farlow AW, Moyes CL, Drake JM, Brownstein JS, Hoen AG, Sankoh O, Myers MF, George DB, Jaenisch T, Wint GR, Simmons CP, Scott TW, Farrar JJ, Hay SI (April 2013). "The global distribution and burden of dengue". Nature. 496 (7446): 504–507. Bibcode:2013Natur.496..504B. doi:10.1038/nature12060. PMC 3651993. PMID 23563266.
- 1 2 Jing Q, Wang M (Juni 2019). "Dengue epidemiology". Global Health Journal. 3 (2): 37–45. doi:10.1016/j.glohj.2019.06.002. ISSN 2414-6447.
- ↑ Smith DS. "What is characteristic of hyperendemic dengue?". Medscape. Diakses tanggal 23 Juni 2021.
- ↑ "Aedes aegypti - Factsheet for experts". www.ecdc.europa.eu (dalam bahasa Inggris). 9 Juni 2017. Diakses tanggal 18 Oktober 2024.
- ↑ "Climate Change Will Expose Half of World's Population to Disease-Spreading Mosquitoes By 2050". Yale Environment 360 (dalam bahasa American English). 5 Maret 2019. Diakses tanggal 17 Maret 2024.
- ↑ "Dengue increase likely during rainy season: WHO warns". World Health Organization (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Maret 2024.
- ↑ Feaster M, Patrick R, Oshiro M, Kuan M, Goh YY, Carmona M, Tartof SY, Farned J, Hallum T, Lund AJ, Preas C, Messenger S, Kramer V, Danforth M, Sheridan C (Oktober 2024). "Notes from the Field: First Locally Acquired Dengue Virus Infections - Pasadena, California, October-December 2023". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report (dalam bahasa American English). 73 (42): 955–956. doi:10.15585/mmw.mm7342a4. PMC 11500840. PMID 39446691.
- 1 2 3 4 5 6 Gubler DJ (1998). "Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever". Clin. Microbiol. Rev. 11 (3): 480–96. PMC 88892. PMID 9665979. Diarsipkan dari asli tanggal 25 Oktober 2011. Diakses tanggal 30 Januari 2014. ;
- 1 2 Anonymous (2006). "Etymologia: dengue" (PDF). Emerg. Infect. Dis. 12 (6): 893. doi:10.3201/eid1206.ET1206. PMC 3373045. S2CID 29398958. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 3 Desember 2013.
- ↑ Kuno G (November 2015). "A Re-Examination of the History of Etiologic Confusion between Dengue and Chikungunya". PLOS Neglected Tropical Diseases. 9 (11): e0004101. doi:10.1371/journal.pntd.0004101. PMC 4643049. PMID 26562299.
1779–1780: 'Knokkel-koorts' in Batavia (now Jakarta, Indonesia) and 'break bone fever' in Philadelphia
- ↑ "As Temperatures Rise, Dengue Fever Spreads and Cases Rise". Yale E360 (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 20 Maret 2024.
- ↑ Christie J. On Epidemics of Dengue Fever: Their Diffusion and Etiology. Glasgow Med J. 1881;16(3):161-176.
- ↑ Anonymous (15 Juni 1998). "Definition of Dandy fever". MedicineNet.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Juni 2011. Diakses tanggal 25 Desember 2010.
- 1 2 3 4 Halstead SB (2008). Dengue (Tropical Medicine: Science and Practice). River Edge, N.J: Imperial College Press. hlm. 1–10. ISBN 978-1-84816-228-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 Mei 2016.
- ↑ Rush, Benjamin (1 November 1951). "An account of the bilious remitting fever: As it appeared in philadelphia, in the summer and autumn of the year 1780". The American Journal of Medicine. 11 (5): 546–550. doi:10.1016/0002-9343(51)90035-6. ISSN 0002-9343.
- ↑ Barrett AD, Stanberry LR (2009). Vaccines for biodefense and emerging and neglected diseases. San Diego: Academic. hlm. 287–323. ISBN 978-0-12-369408-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Mei 2016.
- ↑ Laughlin CA, Morens DM, Cassetti MC, Costero-Saint Denis A, San Martin JL, Whitehead SS, Fauci AS (Oktober 2012). "Dengue research opportunities in the Americas". The Journal of Infectious Diseases. 206 (7): 1121–1127. doi:10.1093/infdis/jis351. PMC 3499110. PMID 22782946.
- ↑ Obi JO, Gutiérrez-Barbosa H, Chua JV, Deredge DJ (September 2021). "Current Trends and Limitations in Dengue Antiviral Research". Tropical Medicine and Infectious Disease. 6 (4): 180. doi:10.3390/tropicalmed6040180. PMC 8544673. PMID 34698303.
- ↑ Kariyawasam R, Lachman M, Mansuri S, Chakrabarti S, Boggild AK (20 April 2023). "A dengue vaccine whirlwind update". Therapeutic Advances in Infectious Disease. 10: 20499361231167274. doi:10.1177/20499361231167274. PMC 10126642. PMID 37114191.
- ↑ LBSP, Bilyana (11 April 2025). "Leiden scientists create first-ever dengue-on-a-chip to study this deadly virus". Leiden Bio Science Park.
- ↑ Tang, Huaqi; Evers, Tom M. J.; Babaei, Mehrad; Mashaghi, Alireza (14 April 2025). "Revealing Mechanopathology Induced by Dengue NS1 Using Organ Chips and Single-Cell Force Spectroscopy". ACS Biomaterials Science & Engineering. 11 (4): 2448–2455. doi:10.1021/acsbiomaterials.4c02410.
- ↑ Nature, Research Communities by Springer (6 Januari 2025). "Rising Temperatures, Rising Dengue". Research Communities by Springer Nature (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 Februari 2025.
- 1 2 Sophia, Yacob; Roxy, Mathew Koll; Murtugudde, Raghu; Karipot, Anand; Sapkota, Amir; Dasgupta, Panini; Baliwant, Kalpana; Saunik, Sujata; Tiwari, Abhiyant; Chattopadhyay, Rajib; Phalkey, Revati K. (21 Januari 2025). "Dengue dynamics, predictions, and future increase under changing monsoon climate in India". Scientific Reports (dalam bahasa Inggris). 15 (1): 1637. Bibcode:2025NatSR..15.1637S. doi:10.1038/s41598-025-85437-w. ISSN 2045-2322. PMC 11750985. PMID 39837878.
- ↑ "Scientists create early warning system to curb dengue outbreaks". Mid-day (dalam bahasa Inggris). 21 Januari 2025. Diakses tanggal 17 Februari 2025.
- 1 2 Teo D, Ng LC, Lam S (April 2009). "Is dengue a threat to the blood supply?". Transfusion Medicine. 19 (2): 66–77. doi:10.1111/j.1365-3148.2009.00916.x. PMC 2713854. PMID 19392949.
- 1 2 3 "Marking ASEAN Dengue Day". Diarsipkan dari asli tanggal 17 Juni 2015. Diakses tanggal 16 Juni 2015.
- ↑ ACTION AGAINST DENGUE Dengue Day Campaigns Across Asia. World Health Organization. 2011. ISBN 978-92-9061-539-2.
- ↑ "Calling for a World Dengue Day". The International Society for Neglected Tropical Diseases. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Januari 2019. Diakses tanggal 7 Januari 2019.
- ↑ "Awal Mula Penetapan Hari Demam Berdarah Nasional Setiap 22 April". Tempo. 22 April 2025.
- ↑ Wilastonegoro, NN; Andriani, S; Sebong, PH; Agarwal-Harding, P; Shepard, DS (2024). "Estimating dengue disease and economic burden to inform municipal-level policymakers: Method for a pragmatic city-level observational cohort study". Gates Open Research. 8: 3. doi:10.12688/gatesopenres.15015.3. ISSN 2572-4754. PMC 11362393. PMID 39221028. Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
- ↑ Shepard DS, Undurraga EA, Halasa YA, Stanaway JD (Agustus 2016). "The global economic burden of dengue: a systematic analysis". The Lancet. Infectious Diseases. 16 (8): 935–941. doi:10.1016/s1473-3099(16)00146-8. PMID 27091092.
Referensi
- Gubler DJ (2010). "Dengue viruses". Dalam Mahy BWJ, Van Regenmortel MHV (ed.). Desk Encyclopedia of Human and Medical Virology. Boston: Academic Press. hlm. 372–82. ISBN 0-12-375147-0.
- WHO (2009). Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention and Control (PDF). Geneva: World Health Organization. ISBN 9241547871.
Pranala luar
| Cari tahu mengenai Demam berdarah dengue pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Panduan wisata di Dengue dari Wikivoyage | |
| Klasifikasi | |
|---|---|
| Sumber luar |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |