Demam berdarah Krimea–Kongo (bahasa Inggris:Crimean–Congo hemorrhagic fevercode: en is deprecated , disingkat CCHF) adalah penyakit menular yang disebarkan oleh virus.[1] Gejalanya meliputi demam, sakit otot, sakit kepala, muntah, diare, dan pendarahan di kulit.[1] Gejala-gejala akan muncul dalam waktu kurang dari dua minggu setelah tertular.[1] Penyakit ini dapat memicu komplikasi gagal hati.[1] Untuk pasien yang selamat, mereka biasanya pulih dua minggu setelah munculnya gejala.[1]
Virus penyebab penyakit ini disebarkan oleh gigitan caplak atau kontak dengan hewan ternak yang membawa penyakit ini.[1] Orang-orang yang biasanya terkena penyakit ini adalah para petani dan tukang jagal.[1] Virus ini juga dapat ditularkan dari manusia ke manusia lewat cairan tubuh.[1] Penyakit ini didiagnosis dengan menemukan antibodi, RNA virus, atau virus itu sendiri.[1]
Penyakit ini dapat dicegah dengan menghindari gigitan caplak.[1] Saat ini belum ada vaksin yang tersedia di pasaran.[1] Pasien biasanya ditangani dengan perawatan suportif.[1] Obat ribavirin juga dapat membantu,[1]
Demam hemoragik Krimea-Kongo menyebar di kawasan Afrika, Balkan, Timur Tengah, dan Asia.[1] Pada tahun 2013, Iran, Rusia, Turki, dan Uzbekistan mencatat lebih dari lima puluh kasus.[2] Risiko kematian pada mereka yang tertular berkisar antara 10 hingga 40%.[1] Penyakit ini sendiri pertama kali ditemukan pada tahun 1940-an.[3]