Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (April 2025)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
Lihat versi terjemahan mesin dari artikel bahasa Inggris.
Terjemahan mesin Google adalah titik awal yang berguna untuk terjemahan, tapi penerjemah harus merevisi kesalahan yang diperlukan dan meyakinkan bahwa hasil terjemahan tersebut akurat, bukan hanya salin-tempel teks hasil terjemahan mesin ke dalam Wikipedia bahasa Indonesia.
Jangan menerjemahkan teks yang berkualitas rendah atau tidak dapat diandalkan. Jika memungkinkan, pastikan kebenaran teks dengan referensi yang diberikan dalam artikel bahasa asing.
Bethlehem Steel di Bethlehem, Pennsylvania, salah satu produsen baja terkemuka di dunia selama abad ke-20, menghentikan sebagian besar operasinya pada tahun 1982, dinyatakan bangkrut pada tahun 2001, dan dibubarkan pada tahun 2003.
Deindustrialisasi mengacu pada penurunan peran sektor industri manufaktur dalam perekonomian suatu negara, baik dalam hal kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maupun terhadap penyerapan tenaga kerja.[1] Secara konseptual, deindustrialisasi terjadi karena meningkatnya biaya produksi, biaya produksi yang tidak dapat ditransmisikan ke harga pasar dunia pada akhirnya akan menekan sektor industri itu sendiri, sehingga tidak lagi insentif bagi sektor ini untuk bergerak.[2] Oleh sebabnya deindustrialisasi dapat diukur juga dengan menurunnya pangsa ekspor manufaktur di pasar internasional. Beberapa pihak berpendapat bahwa deindustrialisasi merupakan hasil dari globalisasi pasar dan telah didorong oleh pertumbuhan pesat perdagangan Utara-Selatan (perdagangan antara negara-negara ekonomi maju dan negara-negara berkembang).[3]
Deindustrialisasi dibedakan menjadi menjadi dua, deindustrialisasi positif dan deindustrialisasi negatif.[4] Deindustrialisasi positif merupakan deindustrilisasi yang terjadi secara alami sebagai dampak kemajuan perekonomian suatu negara atau wilayah, sedangkan deindustrialisasi negatif atau dikenal dengan istilah premature deindustrialization merupakan deindustrialiasi yang terjadi belum pada waktunya atau kinerja perekonomian suatu negara yang mengalami kemunduruan yang mengakibatkan penurunan tingkat produktivitas industri pengolahan.[5]
Fenomena Deindustrialisi di Berbagai Negara
Sejarah deindustrialisasi dimulai pada abad ke-20, khususnya industri manufaktur sebagai penyumbang lapangan kerja terbesar telah menurun drastis di negara-negara dengan perekonomian maju di dunia, tren ini terlihat di Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan diamati pula telah terjadi di negara-negara Empat Macan di Asia Timur (Hong Kong, Tiongkok, Korea, Singapura, dan Provinsi Taiwan di Tiongkok).[3] Pengalaman deindustrialisasi pada masing-masing berbeda, di Amerika Serikat misalnya, akibat penutupan massal pabrik mobil di "Rust Belt" pada tahun 1980 dan 1990 mengakibatkan sektor industri tidak mampu bergerak dan cenderung stagnan mengakibatkan kesenjangan pendapatan yang meluas di Amerika Serikat,[3] sedangkan di Uni Eropa akibat peningkatan relokasi industri manufaktur ke negara-negara berkembang berdampak langsung terhadap penurunan jumlah pekerja yang berimplikasi pada pengangguran meningkat tajam di Uni Eropa.[3] Salah satu penyebab deindustrialisasi di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan sebagian besar negara di Uni Eropa adalah adanya proses memindahkan fasilitas produksi ke negara-negara dengan biaya upah yang lebih rendah atau relokasi industri ke negara-negara berkembang, sehingga pada gilirannya akan mengurangi jumlah permintaan tenaga kerja sektor industri di negara maju.[6]
Sementara negara-negara di provinsi Korea dan Taiwan di Tiongkok, hal itu dimulai pada pertengahan 1980-an setelah pendapatan per kapita mereka melampaui Amerika Serikat dan Uni Eropa,[7] Fenomena ini terjadi karena beberapa faktor, termasuk investasi besar-besaran di sektor manufaktur dan relokasi produksi ke negara-negara dengan biaya upah lebih rendah. Sedangkan di Hongkong dan Singapura deindustrialisasi terjadi karena pertumbuhan sektor jasa yang lebih pesat, negara-negara dengan kekayaan alam yang lebih sedikit cenderung menunjukan kinerja pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan negara yang kaya akan sumber daya alam, sehingga sektor jasa lebih diandalkan dalam kontribusinya terhadap perekonomian.[3]
Faktor Deindustrialisasi
Secara khusus, penelitian teoretis menyoroti empat sumber utama deindustrialisasi: (1) selera non-homotetis (2) teknologi (3) alih daya dan (4) perdagangan internasional.[8] Secara lebih rinci deindustrialisasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti berikut ini ini seperti (1) Penurunan daya saing,[9] penurunan daya saing dapat merujuk pada turunnya jumlah tenaga kerja dam ekspor produk, penurunan daya saing dapat terjadi karena biaya produksi yang meningkat dibarengi dengan kemampuan SDM yang kurang ahli atau belum adaptif dengan penguasaan teknologi. Hal ini membuat produk dari negara tersebut kurang bersaing di pasar global, yang pada akhirnya mengakibatkan penurunan produksi dan lapangan kerja dalam industri tersebut; (2) Perdagangan internasional, perdagangan dalam ekonomi internasional memengaruhi peran pekerja manufaktur baik secara makro maupun mikro melalui pengaruhnya pada spesialisasi;[10] Hilangnya keunggulan kompetitif,[5] produk industri suatu negara yang tidak mampu bersaing di pasar global mengakibatkan kinerja sektor industri akan menurun dan pada akhirnya para investor menarik investasinya dari sektor industri ke sektor lain atau bahkan ke negara lain; (3) Perubahan pola belanja konsumen,[9] konsumen yang beralih pola konsumsinya dari produk domestik ke produk impor menyebabkan permintaan untuk produk lokal dapat menurun, fenomena yang demikian berakibat pada penurunan produksi industri domestik dan berimplikasi pada penurunan lapangan kerja; (4) Penurunan tingkat investasi,[3] iklim industri yang kurang menguntungkan bagi investor dalam suatu negara seperti kurangnya infrakstruktur maupun kebijakan-kebijakan pemerintah dinilai menghambat pertumbuhan industri juga merupakan gejala suatu negara mengalami potensi deindustrialisasi.
Dampak Deindustrialisasi
Kantor pusat Google, Googleplex, sebuah perusahaan multinasional Amerika Serikat yang bergerak pada jasa dan produk Internet.
Deindustrialisasi bukanlah fenomena negatif, tetapi konsekuensi alami dari pertumbuhan lebih lanjut di perekonoman negara maju, karena deindustrialisasi berkelanjutan yang diterapkan di negara-negara maju pada faktanya memiliki implikasi penting bagi prospek pertumbuhan jangka panjang di itu negara sendiri.[3]
Deindustrialisasi memberikan dampak positif dan negatif. Dampak positif dari deindustrialisasi antara lain sebagai berikut: (1) Deindustrialisasi memberikan kesempatan kerja yang lebih berkualitas dan potensi meningkatnya penghasilan pekerja,[9] deindustrialisasi memaksa negara untuk beralih ke sektor perekonomian yang lebih maju seperti sektor jasa, teknologi dan industri kreatif yang kemungkinan akan menentukan prospek peningkatan standar hidup secara keseluruhan; (2) Deindustrialisasi memberikan angin positif bagi sektor lingkungan, perpindahan motor penggerak perekonomian dari sektor industri manufaktur ke ke sektor jasa dapat sangat mengurangi beban pencemaran lingkungan sebagai konsekuensi dari industrialisasi.[9] (3) Deindustrialisasi dapat meningkatkan daya beli konsumen, dengan terbukanya akses terhadap produk-produk impor masyarakat menjadi lebih mudah memiliki akses terhadap barang-barang yang lebih murah dan bervariasi tanpa harus mengkhawatirkan tingginya harga barang-barang di pasaran.[9]
Sementara itu dampak negatif deindustrialisasi antara lain sebagai berikut; (1) Deindustrialisasi dapat meningkatan gelombang pengangguran dan kemiskinan baru di masyarakat kalangan masyarakat,[11] penurunan pertumbuhan sektor industri, bukan saja hanya menyebabkan PDB atau pertumbuhan ekonomi menurun, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah terjadinya gelombang pengangguran dan kemiskinan baru akibat PHK karena perusahaan-perusahaan menutup pabrik atau berpindah ke negara dengan biaya produksi yang lebih rendah; (2) Deindustrialisasi memungkinkan terjadinya defisit transaksi berjalan, ketika suatu negara menggantungkan pemenuhan kebutuhannya pada produk-produk impor, hal ini dapat menyebabkan defisit transaksi berjalan atau ketika pengeluaran untuk impor lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan yang diperoleh dari ekspor;[9] (3) Deindustrialisasi menyebabkan pengurangan wajib pajak, ketika industri mengalami kegagalan produksi berimplikasi pada kontribusi pajak yang dihasilkan juga akan menurun, oleh sebabnya pemerintah menghadapi tekanan untuk mengurangi layanan pajak atau meningkatkan nominal pajak pada sektor lain guna mengimbangi kekurangan pendapatan, yang mana menyebabkan reaksi ketidakpuasan dilapisan masyarakat.[9]
12Direktorat Perwilayahan Industri, Kementerian Perindustrian; Winardi, Winardi; Priyarsono, D. S.; Program Studi Ilmu Perencanaan dan Pembangunan Wilayah Perdesaan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor; Siregar, Hermanto; Program Studi Ilmu Perencanaan dan Pembangunan Wilayah Perdesaan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor; Kustanto, Heru; Pusat Penelitian dan Pengembangan Industri Agro, Kementerian Perindustrian (2019-01-01). "Peranan Kawasan Industri dalam Mengatasi Gejala Deindustrialisasi". Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia. 19 (1): 84–95. doi:10.21002/jepi.2019.05. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)