Artikel ini tidak memiliki pranala ke artikel lain. Bantu kami untuk mengembangkannya dengan memberikan pranala ke artikel lain secukupnya.(November 2025)
Deforestasi menjadi salah satu masalah lingkungan utama di Malaysia. Upaya penebangan hutan besar-besaran sudah dimulai sejak masa kolonial Inggris pada 1880 dan meningkat pesat karena perluasan perkebunan karet serta kelapa sawit.
Antara 1990 hingga 2010, Malaysia kehilangan sekitar 8,6% tutupan hutannya, setara dengan 1,92 juta hektare. Aktivitas penebangan dan pembukaan lahan terutama didorong oleh sektor kelapa sawit. Kebijakan Bank Dunia pada 1970-an mendorong ekspansi perkebunan sawit, sementara paket bantuan IMF setelah krisis ekonomi 1998 semakin mempercepat perluasan tersebut. Meski begitu, sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, Malaysia juga melakukan berbagai upaya untuk melindungi hutan dan menekan laju deforestasi.[1]
Latar belakang
Penebangan hutan besar-besaran di Malaysia mulai meningkat pesat sejak tahun 1880, dipicu oleh pengembangan perkebunan karet dan kelapa sawit, serta investasi yang didorong oleh lobi ahli botani Inggris, Henry Ridley. Deforestasi ekstrem ini memicu Banjir Besar pada Desember 1926. Setelah peristiwa tersebut, sebagian kebijakan mulai membatasi intensitas penebangan industri. Namun, hingga 1920-an, lebih dari 2,1 juta acre lahan telah ditebang oleh pemerintah kolonial di Malaya.[2]
Malaysia merdeka dari Inggris pada 1957 dan membentuk negara dalam bentuknya yang sekarang pada 1963.[3] Sejak itu, negara ini mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, sebagian besar ditopang oleh sektor kehutanan. Pembangunan cepat tersebut membuat Malaysia melampaui beberapa negara tetangga seperti Indonesia dan Papua Nugini, berkat kekayaan sumber daya alamnya yang melimpah.[4] Keuntungan besar dari kegiatan penebangan membuat produksi kayu berlangsung tinggi sejak awal, dan dampak negatifnya baru mulai disadari pada tahun 1985.
Ekonomi
Malaysia memperoleh keuntungan finansial besar dari industri penebangan kayu, dengan nilai yang diperkirakan mencapai 2,15 miliar dolar AS. Bersama Indonesia, Malaysia memproduksi sekitar 85% pasokan minyak sawit dunia, yang menjadi penyebab utama penebangan hutan.
Sektor pertanian mempekerjakan sekitar 14,5% dari total tenaga kerja, atau lebih dari satu dari tujuh penduduk. Sekitar 56,6% hutan tropis Malaysia dimanfaatkan untuk kegiatan produksi, sementara sisanya dialokasikan untuk fungsi perlindungan dan konservasi.[1][5]
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.