Pada tahun 1986, yang kemungkinan disebabkan oleh tanah longsor, Danau Nyos secara tiba-tiba mengeluarkan awan besar CO2, yang mengakibatkan asfiksia pada 1.746 jiwa[2] dan 3.500 hewan ternak di kota-kota serta desa-desa sekitar; yang paling menonjol adalah Chah, yang ditinggalkan setelah insiden tersebut.[3][4] Letusan limnik ini tidak hanya membinasakan populasi manusia dan ternak tetapi juga berdampak mendalam pada beragam kehidupan akuatik, termasuk nila, kepiting, siput, dan katak, yang menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati secara signifikan di dalam dan di sekitar danau.
Meskipun bukan tanpa preseden sama sekali, peristiwa ini merupakan asfiksia skala besar pertama yang diketahui yang disebabkan oleh fenomena alam. Untuk mencegah terulangnya kejadian tersebut, sebuah pipa pengawabauan yang menyedot air dari lapisan bawah ke lapisan atas, sehingga memungkinkan karbon dioksida terlepas dalam jumlah yang aman, dipasang pada tahun 2001. Dua pipa tambahan dipasang pada tahun 2011.
Saat ini, danau tersebut juga menimbulkan ancaman karena dinding alaminya yang melemah. Getaran geologis dapat menyebabkan tanggul alami ini runtuh, sehingga mengakibatkan air menerjang desa-desa di hilir hingga ke Nigeria dan melepaskan karbon dioksida dalam jumlah besar.
Sano Y., Kusakabe M., Hirabayashi J. et al. (1990), Helium and carbon fluxes in Lake Nyos, Cameroon: constraint on next gas burst, Earth and Planetary Science Letters, v. 99, p.303–314
Sano Y., Wakita H., Ohsumi T., Kusakabe M. (1987), Helium isotope evidence for magmatic gases in Lake Nyos, Cameroon, Geophysical Research Letters, v. 14, p.1039–1041
Stager, J.C. (1987), "Silent Death from Cameroon's Killer Lake", National Geographic, September 1987
Gideon Aghaindum, Ajeagah (2017) "Eco-autopsy of the lake Nyos disaster in Cameroon: 30 Years After Calamity".