Dampak lingkungan dari perikanan meliputi persoalan seperti ketersediaan ikan, pemancingan berlebihan, perikanan dan penanganan perikanan; serta dampak perikanan industrial pada unsur lingkungan lain, seperti tangkapan sampingan.[1] Persoalan tersebut adalah bagian dari konservasi laut, dan dialamatkan dalam program-program ilmu perikanan. Menurut laporan FAO 2019, produksi global ikan, krustasea, moluska dan hewan air lainnya tetap berkembang dan meencapai 172.6 juta ton pada 2017, dengan peningkatan 4.1 persen dibandingkan dengan tahun 2016.[2] Terdapat celah pertumbuhan antara suplai ikan dan tawaran, sebagian karena pertumbuhan populasi dunia.[3]
Castro, P. and M. Huber. (2003). Marine Biology. 4thed. Boston: McGraw Hill.
Hampton, J.; Sibert, J. R.; Kleiber, P.; Maunder, M. N.; Harley, S. J. (2005). "Changes in abundance of large pelagic predators in the Pacific Ocean". Nature. 434: E2 –E3.
Polacheck, T (2006). "Tuna longline catch rates in the Indian Ocean: did industrial fishing result in a 90% rapid decline in the abundance of large predatory species?". Marine Policy. 30 (5): 470–482. Bibcode:2006MarPo..30..470P. doi:10.1016/j.marpol.2005.06.016.
FAO Fisheries Department. (2002). The State of World Fisheries and Aquaculture. Rome: Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Walters, C. J. (2003). "Folly and fantasy in the analysis of spatial catch rate data". Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences. 60 (12): 1433–1436. doi:10.1139/f03-152. S2CID16062938.