Dalam struktur administrasi Kekhalifahan Umayyah, Irak awalnya bukan suatu provinsi yang bersatu; melainkan terdiri dari kegubernuran dengan kota garnisu penting seperti Basra dan Kufa. Dua kota tersebut bersatu dalam satu kepemimpinan pertama kali pada tahun 670 M, ketika kalifah Mu'awiyah bin Abi Sufyan memberikan kontrol wilayah kepada Ziyad bin Abihi.[3] Setelah Ziyad meninggal dunia, dua kota tersebut terpisah kembali secara administrasi, tetapi khalifah menunjuk kembali gubernur dan sejak kepemimpinan Abdul Malik bin Marwan, pemimpin wilayah Irak yang terpecah dipimpin oleh satu gubernur.
Gubernur Irak adalah salah satu individu yang sangat kuat pada hierarki pemerintahan Umayyah. Gubernur Irak sendiri biasanya diberikan kekuasaan pada provinsi-provinsi lain di Kekhalifahan yang sebelumnya pernah ditaklukan oleh gubernur Basra atau Kufa, seperti al-Ahwaz, al-Jibal, Fars, Kerman, Khurasan, Sijistan, Makran, al-Sind, dan Jurjan. Dia biasanya juga diberi kekuasaan atas wilayah Arab bagian timur, seperti al-Bahrain, al-Yamamah[4] dan Oman.[5] Ini berarti hampir setengah bagian Kekhalifahan dipimpin oleh gubernur Irak yang biasanya berpusat di Damaskus. Gubernur memiliki kekuatan untuk menunjuk dan melengserkan gubernur di bawahnya pada tiap provinsi, dan tiap-tiap gubernurnya wajib melaporkan kepada dirinya, alih-alih ke khalifah.[6]
Gubernur yang ditunjuk untuk Irak memiliki berhak memilih wilayah sebagai pusat provinsi pada masa jabatannya; bahkan kerap berganti-ganti. Di bawah Ziyad bin Abihi, Basra dan Kufa menjadi dua ibu kota dan dia tinggal di dua kota tersebut pada masa jabatan kegubernurannya.[7] Basra sering menjadi ibu kota dibandingkan Kufa dan menjadi ibu kota selama tujuh abad. Gubernur terkenal, al-Hajjaj bin Yusuf al-Thaqafi memerintahkan untuk membangun tiga kota garnisun, yang mana Wasith menjadi kediamannya selama masa hidupnya. Setelah itu, Wasit sering digunakan oleh gubernur-gubernur sebagai kediaman utama, meskipun juga sering pindah dari kota ke kota lainnya, seperti Kufa dan al-Hirah.[8]
Irak tetap menjadi provinsi Kekhalifahan Umayyah hingga tahun 749/750 ketika tentara Kekhalifahan Abbasiyahmengepung Wasit dan memaksa gubernur terakhir Irak, Yazid bin Umar al-Fazari untuk menyerah.[9] Setelah kemenangan atas Umayyah, Abbasiyah menghapus kegubernuran Irak dan menunjuk gubernur untuk tiap-tiap distrik di wilayah ini.[10]
Daftar gubernur
Hanya gubernur yang diberi kontrol atas Bashrah dan Kufah yang tampil di daftar ini.[11]
Nama
Dimulai
Berakhir
Alasan berakhir
Catatan
Tidak ada
661
670
–
Basra dan Kufa memiliki gubernur berbeda pada periode ini'[12]
↑Untuk ringkasan riwayat administrasi kota-kota ini di bawah kepemimpinan Umayyah, lihat Blankinship, p. 296 n. 75
↑Al-Tabari, v. 18: pp. 20-21, 70, 75-78, 87, 90, 92-93, 95
↑Ziyad diberi kontrol atas Kufa paling tidak pada tahun 669. Al-Tabari, v. 18: pp. 96-97, 103, 164-67; Encyclopaedia of Islam, s.v. "'Ziyad b. Abihi" (I. Hasson); Shaban, p. 87
↑Al-Tabari, v. 18: pp. 171, 179, 181-82, 187, 191, 198, 207; v. 19: p. 1
↑Al-Tabari, v. 19: pp. 18, 90, 194, 200; v. 20: pp. 5-6; Encyclopaedia of Islam, s.v. "'Ubayd Allah b. Ziyad" (C. F. Robinson)
↑Al-Tabari, v. 20: pp. 123, 176, 182 ff.; v. 21: pp. 67, 83-84, 85 ff., 118-22, 153, 168, 170, 171 ff.; Encyclopaedia of Islam, s.v. "Mus'ab b. al-Zubayr" (H. Lammens-[Ch. Pellat])
↑Al-Tabari, v. 24: pp. 148, 162-3; Encyclopaedia of Islam, s.v. "Maslama b. 'Abd al-Malik b. Marwan" (G. Rotter); Shaban, pp. 136-37
↑Al-Tabari, v. 24: pp. 163, 165, 167, 191; v. 25: p. 4; Encyclopaedia of Islam, s.v. "Ibn Hubayra" (J.-C. Vadet); Crone, p. 107; Shaban, pp. 137, 139
↑Terdapat perdebatan untuk tahun yang tepat dari pemilihan Khalid. Al-Tabari, v. 25: pp. 4, 7, 23, 28, 32, 44, 63, 68, 94, 96, 98-100, 110, 122-23, 130, 166, 172 ff.; Encyclopaedia of Islam, s.v. "Khalid b. 'Abd Allah al-Kasri" (G. R. Hawting); Crone, p. 102; Shaban, pp. 139, 143
↑Al-Tabari, v. 25: pp. 178 ff., 187, 194; v. 26: pp. 35, 55, 65, 69, 125, 195 ff.; Encyclopaedia of Islam, s.v. "Al-Thakafi" (G. R. Hawting); Shaban, pp. 143, 159
↑Al-Tabari, v. 26: pp. 195 ff., 219-20; Crone, p. 158; Shaban, p. 159
↑Abdallah menolak untuk dicopot dan memulai pemberontakan. Al-Tabari, v. 26: pp. 219-20; v. 26, pp. 12 ff.; Encyclopaedia of Islam, s.v. "'Abd Allah b. 'Umar b. 'Abd al-'Aziz" (K. V. Zettersteen); Shaban, pp. 159, 161-62
↑Al-Nadr tidak pernah menjadi pemimpin yang efektif dan kembali ke Suriah. Al-Tabari, v. 26: pp. 12 ff., 23-24, 27; Crone, p. 144; Shaban, pp. 161-62
↑Ketika Yazid terpilih pada tahun 745, terdapat beberapa kampanye militer selama dua tahun untuk mengambil alih kekuasaannya. Al-Tabari, v. 27: pp. 24-26 52, 56-57, 92, 123, 133, 185 ff., 191-92; Crone, p. 107
Referensi
Al-Askar, Abdullah. Al-Yamama in the Early Islamic Era. Reading, UK: Ithaca Press, 2002. ISBN0-86372-400-0